Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

KLB Campak di Cirebon, Tiga Balita Meninggal Dunia

KLB Campak di Cirebon, Tiga Balita Meninggal Dunia
ilustrasi campak pada anak kecil (commons.wikimedia.org/CDC)
Intinya Sih
  • Pemerintah Kabupaten Cirebon menetapkan KLB campak di empat kecamatan setelah tiga balita meninggal dan 23 kasus positif dari total 119 suspek hingga pekan ke-15 tahun 2026.
  • Sebagai respons, Pemkab menggelar imunisasi massal darurat bagi lebih dari 12 ribu anak usia 9–59 bulan serta memperluas pengawasan ke sebelas kecamatan untuk mencegah penyebaran lebih luas.
  • Pelaksanaan vaksinasi menghadapi tantangan penolakan dari sebagian orang tua, yang menyebabkan cakupan imunisasi campak-rubella masih rendah dan meningkatkan risiko penularan di kalangan balita.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Cirebon masih menetapkan kejadian luar biasa (KLB) campak di empat kecamatan setelah kasus penyakit menular tersebut terus meningkat dan menyebabkan kematian balita. Hingga pekan ke-15 tahun 2026, tercatat tiga balita meninggal dunia dalam rangkaian kasus campak yang terjadi di sejumlah wilayah.

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon menunjukkan terdapat 119 kasus suspek campak di Kecamatan Mundu, Sumber, Greged, dan Ciwaringin. Dari jumlah itu, sebanyak 23 kasus telah dinyatakan positif campak.

Rinciannya, Kecamatan Mundu mencatat 29 kasus suspek dengan dua kasus positif, Kecamatan Sumber 24 suspek dengan lima positif, Kecamatan Greged 33 suspek dengan tujuh positif, serta Kecamatan Ciwaringin 33 suspek dengan sembilan kasus positif.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, mengatakan kasus campak yang menyerang balita menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena telah menimbulkan korban jiwa.

“Kasus campak di Kabupaten Cirebon telah menyebabkan tiga kematian balita. Dua balita dinyatakan positif campak, sedangkan satu lainnya negatif,” kata Eni, Minggu (10/5/2026).

Menurut dia, penyebaran campak dipengaruhi rendahnya cakupan imunisasi campak-rubella dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, sekitar 40 persen balita di Kabupaten Cirebon disebut belum mendapatkan vaksin campak lengkap.

1. Pemkab gelar imunisasi massal darurat

ilustrasi campak (freepik.com/freepik)
ilustrasi campak (freepik.com/freepik)

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kabupaten Cirebon menggelar outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi massal darurat sejak 4 Mei hingga 19 Mei 2026. Program tersebut menyasar 12.221 anak usia 9 hingga 59 bulan di seluruh wilayah Kabupaten Cirebon.

Eni mengatakan imunisasi menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit sekaligus mencegah munculnya korban jiwa tambahan.

“Kami sangat prihatin karena campak ini sudah menyebabkan kematian pada balita. Penyakit campak sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi,” ujar Eni.

Menurut Eni, imunisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar untuk melindungi masyarakat dari penyakit menular berbahaya. Selain campak, imunisasi juga dapat mencegah penyakit lain seperti hepatitis B, tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, pneumonia, polio, rubella, hingga kanker leher rahim.

Ia memastikan pemerintah daerah membuka akses imunisasi seluas-luasnya melalui posyandu, puskesmas, rumah sakit, klinik, hingga praktik dokter dan bidan.

2. Sebelas kecamatan jadi fokus pengawasan

Ilustrasi campak (freepik.com/pch.vector)
Ilustrasi campak (freepik.com/pch.vector)

Selain empat kecamatan berstatus KLB, Pemerintah Kabupaten Cirebon juga melaksanakan ORI di tujuh kecamatan lain sebagai langkah antisipasi penyebaran kasus.

Kebijakan tersebut diambil karena tingginya mobilitas masyarakat dari dan menuju wilayah KLB. Pemerintah khawatir penyebaran campak meluas ke daerah lain apabila vaksinasi tidak segera dipercepat.

Dinas Kesehatan juga menyiapkan program Catch Up Campaign (CUC) untuk melengkapi status imunisasi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin dasar lengkap.

Setelah pelaksanaan ORI selesai, petugas kesehatan akan melakukan sweeping guna menjangkau anak-anak yang belum menerima vaksin, termasuk balita yang sebelumnya tidak dapat divaksin karena sakit.

“Kami optimistis target imunisasi bisa tercapai karena penanganan ini melibatkan seluruh unsur, mulai dari kecamatan, desa, kader kesehatan, hingga tokoh masyarakat,” kata Eni.

3. Penolakan vaksin masih jadi tantangan

gejala ruam campak (my.clevelandclinic.org)
gejala ruam campak (my.clevelandclinic.org)

Meski pemerintah mempercepat vaksinasi massal, pelaksanaan imunisasi di lapangan masih menghadapi kendala berupa penolakan vaksin dari sebagian orang tua.

Menurut Eni, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya cakupan imunisasi campak-rubella dalam lima tahun terakhir yang masih berada di bawah 80 persen.

"Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular dan berisiko menyebabkan komplikasi serius pada anak, seperti pneumonia, diare berat, radang otak, hingga kematian," ujarnya.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More