Keren! Teater Musikal Anak di Sukabumi Angkat Isu Mental Sejak Dini

- Pertunjukan teater musikal anak berjudul 'Where Did the Lights Go?' di Sukabumi menampilkan kisah fantasi Negeri Cahaya yang hilang, digarap oleh Ideu Theatre Company bersama Global Islamic Bilingual School.
- Kisahnya mengangkat simbol kesehatan mental lewat karakter Raja Raksasa yang kesepian, mengajarkan anak-anak pentingnya empati, keberanian memahami perasaan, dan tidak mudah menghakimi orang lain.
- Sebanyak 50 aktor cilik tampil total dengan akting natural dan kostum menarik, menuai pujian penonton serta menjadi wadah pembentukan karakter disiplin, tanggung jawab, dan kepekaan sosial sejak dini.
Sukabumi, IDN Times - Suasana Gedung Juang '45 Kota Sukabumi mendadak ramai dan penuh warna. Desain panggung disulap apik dengan dekorasi kastel putih puitis serta pepohonan hijau raksasa di sudutnya. Bukan orang dewasa, panggung megah ini justru dikuasai oleh puluhan anak-anak kreatif yang tampil menggemaskan mengenakan kostum unik.
Mereka beradu akting dan memamerkan kelincahan olah vokal dalam pertunjukan teater musikal bertajuk "Where Did the Lights Go?". Pertunjukan yang digagas oleh Ideu Theatre Company, berkolaborasi dengan Global Islamic Bilingual School dan didukung Indonesia Kaya ini berhasil menyita perhatian publik. Ditulis dan disutradarai langsung oleh Den Aslam, pementasan ini rupanya membawa misi penting tentang empati, kepedulian sosial, dan kesehatan mental anak.
Yuk, intip keseruan dan fakta menarik di balik pementasannya!
1. Mengisahkan misi penyelamatan Negeri Cahaya yang hilang

Cerita dalam musikal ini berjalan sangat puitis dan penuh fantasi. Mengambil latar di 'Negeri Cahaya', kehidupan yang awalnya terang benderang dan penuh keceriaan mendadak berubah redup. Penyebabnya, Sepatu Cahaya milik para Penjaga Cahaya hilang misterius.
Mau tak mau, para Penjaga Cahaya kecil ini harus mengumpulkan keberanian untuk masuk ke 'Hutan Gelap' demi mengembalikan cahaya mereka. Hutan tersebut selama ini selalu dianggap sebagai tempat yang asing dan menyeramkan dalam imajinasi mereka.
2. Belajar kesehatan mental lewat sosok Raja Raksasa yang kesepian

Petualangan menembus Hutan Gelap membawa para Penjaga Cahaya bertemu dengan Raja Raksasa. Karakter yang selama ini dicap menakutkan itu ternyata menyimpan luka emosional yang mendalam. Di balik tubuh besarnya, ia hanyalah sosok rapuh yang hidup dalam kesepian karena terasing dari lingkungannya.
Den Aslam selaku sutradara menjelaskan bahwa konsep Hutan Gelap dan Raja Raksasa ini adalah simbol dari wilayah batin anak-anak yang sering kali dipendam sendiri, seperti rasa sepi, takut ditinggalkan, dan keinginan untuk diterima lingkungan.
Melalui cerita ini, anak-anak diajak untuk tidak mudah menghakimi orang lain berdasarkan prasangka. "Anak-anak tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga bahasa untuk memahami perasaannya sendiri. Kami ingin anak-anak belajar bahwa keberanian tidak selalu berarti melawan, kadang keberanian adalah mendekat, mendengar, dan memahami," tutur Den Aslam, Senin (22/6/2026).
3. Sukses bikin penonton takjub dengan akting yang mengalir

Alur cerita yang menyentuh tersebut dibawakan dengan sangat natural oleh sekitar 50 anak-anak yang terlibat. Enam anak di antaranya dipercaya menjadi pemeran utama dengan dialog teatrikal yang matang, sementara sisanya sukses mencuri perhatian lewat peran pendukung menggunakan kostum flora dan fauna yang super menggemaskan.
Totalitas para aktor cilik ini pun banjir pujian dari penonton yang hadir memadati gedung pertunjukan.
"Akting anak-anaknya mengalir banget dan kelihatan profesional sekali untuk ukuran usia mereka. Ditambah lagi set pertunjukan, tata pencahayaan yang dramatis, serta latar musik yang spektakuler bikin pementasannya terasa megah dan bikin takjub dari awal sampai akhir," puji Mawar, salah seorang penonton yang hadir membawa keluarganya.
4. Menjadi ruang belajar pembentukan karakter anak

Tampil menawan di atas panggung tentu tidak didapat secara instan. Selama berbulan-bulan masa persiapan, puluhan anak-anak ini melewati ruang pedagogis yang panjang. Mereka tidak hanya digembleng soal teknik bermain peran, olah vokal, dan olah tubuh saja.
Lebih dari itu, proses latihan intensif ini juga melatih kepribadian mereka agar tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab, disiplin dalam kelompok, sabar, serta memiliki kepekaan empati yang tajam terhadap sesama.
Melalui teater musikal "Where Did the Lights Go?", para pemain cilik asal Sukabumi ini berhasil membuktikan bahwa seni bisa menjadi media yang efektif untuk menyebarkan pesan persahabatan dan pentingnya memahami kesehatan mental sejak dini.

















