Kembangkan Infrastruktur Aset Digital, OKX Bentuk Joint Venture

- ICE dan OKX membentuk joint venture 50:50 untuk mengembangkan infrastruktur keuangan digital generasi baru yang mengintegrasikan pasar tradisional dengan teknologi blockchain.
- Kolaborasi ini membuka akses pengguna OKX ke pasar berjangka ICE dan saham NYSE yang ditokenisasi, sambil memastikan kepatuhan terhadap regulasi di Amerika Serikat.
- Kerja sama ini melanjutkan investasi strategis ICE senilai USD200 juta pada OKX, dengan fokus memperluas penerapan teknologi blockchain di berbagai kelas aset dan layanan keuangan global.
Bandung, IDN Times - Intercontinental Exchange (ICE) dan perusahaan teknologi blockchain OKX mengumumkan pembentukan perusahaan patungan atau joint venture yang berfokus pada pengembangan infrastruktur generasi baru untuk produk keuangan digital dan aset yang ditokenisasi.
Kolaborasi ini menjadi langkah lanjutan dari hubungan strategis kedua perusahaan yang sebelumnya telah terjalin melalui investasi ICE di OKX pada awal 2026. Melalui kerja sama tersebut, kedua pihak ingin memperluas integrasi antara pasar keuangan tradisional dan teknologi blockchain.
Perusahaan patungan tersebut nantinya akan beroperasi dengan struktur kepemilikan 50:50. Dengan tetap menunggu persetujuan regulator terkait, entitas baru ini direncanakan beroperasi sebagai broker-dealer dan futures commission merchant (FCM) yang terdaftar di Amerika Serikat.
Kehadiran joint venture ini diharapkan dapat membuka akses yang lebih luas bagi pengguna OKX terhadap berbagai instrumen pasar keuangan, termasuk pasar berjangka milik ICE dan saham yang ditokenisasi dari New York Stock Exchange (NYSE).
1. Kolaborasi diarahkan untuk integrasikan pasar tradisional dan blockchain

Joint venture tersebut akan dipimpin bersama oleh ICE dan mantan Gubernur New York Andrew M. Cuomo. Menurut Cuomo, kolaborasi ini menjadi upaya untuk membangun sistem keuangan yang lebih modern dengan menggabungkan inovasi teknologi dan kepatuhan terhadap regulasi.
Ia menilai perkembangan pasar keuangan ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan industri dan regulator dalam berjalan beriringan. Karena itu, pemanfaatan teknologi blockchain dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan.
“Babak berikutnya dari pasar keuangan akan ditentukan oleh seberapa baik inovasi dan regulasi pemerintah dapat bergerak maju bersama," ujar Cuomo, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Selasa (23/6/2026).
Cuomo juga menyebut teknologi blockchain berpotensi menghadirkan dampak sosial yang lebih luas, termasuk memperluas akses layanan keuangan bagi kelompok masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal.
2. Akses ke pasar ICE dan NYSE jadi fokus utama

Salah satu tujuan utama pembentukan joint venture ini adalah menghadirkan akses bagi pelanggan OKX terhadap pasar berjangka yang dikelola ICE serta ekuitas NYSE yang telah ditokenisasi. Langkah tersebut dinilai dapat memperluas jangkauan pasar modal tradisional ke dalam ekosistem berbasis blockchain.
Selain itu, kedua perusahaan juga akan mengeksplorasi berbagai peluang pengembangan pasar digital yang tetap berada dalam kerangka regulasi yang berlaku. Upaya tersebut mencakup pengembangan produk keuangan berbasis blockchain hingga instrumen berjangka komoditas.
Senior Vice President Futures Exchanges ICE, Trabue Bland, mengatakan kemitraan ini menjadi bagian dari upaya membangun infrastruktur pasar yang relevan dengan kebutuhan industri pada masa depan.
“Joint venture ICE-OKX adalah satu langkah menuju pembangunan infrastruktur yang akan menentukan cara kerja pasar global dalam beberapa dekade mendatang.," kata Trabue Bland.
Menurutnya, kombinasi antara infrastruktur pasar teregulasi milik ICE dan basis pengguna global OKX dapat memperluas akses masyarakat terhadap produk keuangan yang lebih modern.
3. Kerja sama melanjutkan hubungan strategis kedua perusahaan

Pembentukan perusahaan patungan ini merupakan kelanjutan dari investasi strategis ICE ke OKX yang diumumkan pada Maret 2026. Dalam kesepakatan tersebut, ICE menanamkan investasi minoritas senilai sekitar USD200 juta ke perusahaan teknologi blockchain tersebut.
Sebelumnya, kedua perusahaan juga telah bekerja sama menghadirkan produk kontrak berjangka abadi (perpetual futures) berbasis kripto untuk komoditas minyak bagi pengguna di luar Amerika Serikat. Pengembangan produk tersebut disebut akan terus dilanjutkan melalui joint venture yang baru dibentuk.
Cuomo menegaskan bahwa fokus utama inisiatif ini bukan semata pada aset kripto, melainkan pada pemanfaatan teknologi blockchain untuk berbagai kelas aset dan layanan keuangan yang lebih luas.
“Ini bukan tentang kripto. Ini tentang blockchain dan teknologi finansial, serta penerapan blockchain pada kelas aset lainnya," kata Cuomo.
Ke depan, joint venture ICE dan OKX juga akan mengeksplorasi peluang tokenisasi aset tradisional serta pengembangan pasar keuangan digital yang lebih terintegrasi dengan sistem keuangan global yang telah ada.



















