Kejanggalan Pelaku Penganiayaan Saat Antar Korban ke Rumah Sakit

- Polda Jawa Barat menyelidiki kasus penculikan dan penganiayaan perempuan di Kabupaten Bandung, dengan pelaku bernama Taufik Hidayat yang kini berstatus DPO setelah melarikan diri.
- Saat korban dibawa ke rumah sakit, pelaku menolak disebut sebagai suami dan memberikan keterangan janggal tentang penyebab luka korban yang tidak sesuai dengan dugaan jatuh di kamar mandi.
- Taufik menunjukkan sikap agresif terhadap petugas medis dan sempat mengancam akan memviralkan rumah sakit, bahkan mencoba menyerang saksi yang ikut mengantar korban ke RSHS.
Bandung, IDN Times - Kepolisian dari Polda Jawa Barat tengah melakukan olah tempat kejadian peristiwa (TKP) kasus penculikan dan penganiayaan seorang perempuan di Kabupaten Bandung. Pelaku atas nama Taufik Hidayat, saat ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) polisi karena kabur dan berpindah-pindah tempat.
Kasus ini ketahui setelah korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan atas kekerasan yang diterima. Penjaga indekos, Resa Rohendi, menceritakan ketika dia ikut membawa korban menggunakan taksi online ke rumah sakit pada 9 Juni 2026.
"Saya ikut di mobil untuk antar korban. Duduk di depan sementara korban di belakang, tapi anehnya Taufik (pelaku) justru pakai motor ke rumah sakit (RSUD) Ujungberung," kata Taufik, Selasa (23/6/2026).
Saat itu korban tidak langsung dibawa ke rumah sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang sekarang menjadi tempat perawatan, melainkan ke RSUD Ujungberung yang paling dekat dengan indekos di sekitar Griya Cinunuk, Kabupaten Bandung.
1. Tak ingin disebut suami, inginnya disebut saudara

Resa menuturkan, kejanggalan awal terlihat ketika korban masuk ke UGD dan akan mendapatkan perawat. Petugas medis meminta data diri korban dan keluarga yang bisa diminati keterangan, tapi pelaku enggan disebut sebagai suami. Padahal ketika masuk ke indekos pasangan ini mengaku sebagai suami istri.
"Taufik ini, tersangka, tidak mau dibilang suami, tapi saudara. Dan saya dipaksa untuk diakui pemilik kosan biar permudah penanganan," ungkap Resa.
2. Kondisi korban tidak seperti jatuh dari kamar mandi

Sedangkan persyaratan di rumah sakit tidak bisa seperti itu. Terlebih setelah dicek kondisinya korban ini tidak seperti jatuh dari kamar mandi, sesuai keterangan pelaku saat awal minta bantu diantar ke rumah sakit.
"Karena tidak bisa ditangani di Ujungberung terus dikasih rujukan untuk ke RSHS," kata dia.
Menurut Resa, dari keterangan pihak medis yang menjaga kondisi korban kemungkinan besar tidak jatuh dari kamar mandi melainkan kasus kekerasan yang harus segera ditangani dengan tepat.
"Saya ditanya ini kenapa terjadi di kamar mandi, tapi tidak mungkin kalau jatuh dari kamar mandi seperti ini. Jadi saya juga disalahin karena saya enggak tahu, saya kan hanya nganter," ujarnya.
3. Marah-marah pada petugas medis

Saat mendatangi sejumlah rumah sakit, pelaku Taufik pun sering kali marah-marah khususnya pada petugas medis. Dia bahkan mengancam akan memviralkan kinerja rumah sakit jika korban tidak segera ditangani secara medis.
"Si pelaku ini nyebut akan lapor ke Dedi Mulyadi kalau tidak ditangani," kata Resa.
Bahkan ketika di RSHS pun, Resa yang ikut membawa korban malah diajak berkelahi oleh pelaku. Resa dibawa ke gang sempit di dekat RSHS dan hendak dipukuli. Beruntung dia berhasil menangkis sejumlah pukulan dan membawa pelaku ke jalan raya agar bisa diperhatikan banyak orang.

















