Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kasus DBD di Jabar Mengkhawatirkan, Dalam Satu Pekan Bertambah 2.802

Kota Bandung
Kasus DBD di Jabar Mengkhawatirkan, Dalam Satu Pekan Bertambah 2.802
Jentik atau telur nyamuk Aedes aegypti (IDN Times/Dhana Kencana)
Share Article

Bandung, IDN Times - Kasus kematian akibat Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Barat mengalami peningkatan. Berdasarkan data Dinkes Jawa Barat, kasus kematian mencapai 211 kasus per Januari-12 Mei 2024. Adapun total kasus secara keseluruhan ada 26.057.

Sementara, berdasarkan data yang sama di periode Januari-5 Mei 2024 total kasus DBD di Jabar mencapai 23.255 kasus dan sebanyak 193 diantaranya dinyatakan meninggal dunia. Artinya selama satu pekan kasus meningkat sebanyak 2.802 kasus. Sedangkan angka kematian bertambah 18 orang.

Kepala bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jabar, Rochady Hendra Setia Wibawa mengatakan, kasus kematian dan sebarannya DBD ada di hampir seluruh kabupaten dan kota yang ada di Jabar.

"Total kasus DBD di Jawa Barat kini ada di angka 26.057 kasus dengan total kematian ada sebanyak 211 orang. Angkanya tersebar hampir di seluruh daerah Jawa Barat," ujar Rochady, Kamis (16/5/2024).

  1. 1. Kasus DBD di Jawa Barat paling banyak di perkotaan

    Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pixabay.com/Mohamed Nuzrath)
    Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti (pixabay.com/Mohamed Nuzrath)

    Rochady menuturkan, kasus DBD tertinggi sendiri ada di wilayah perkotaan. Menurutnya hal itu terjadi lantaran wilayah ini sangat padat penduduk dan pusat perdagangan. Selain itu banyak pusat pendidikan, industri, pariwisata, dan area pemukiman.

    Adapun total kasus tertinggi ada di Kota Bandung, Kota Depok, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Bandung. Sementara terendah ada di Kabupaten Indramayu, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Banjar, Kota Cirebon, dan Majalengka.

    "Kota Bandung angkanya mencapai 3.468 kasus, sedangkan Kota Depok 2.042 kasus, Kabupaten Bandung Barat, 1.943 kasus. Ini total kasus di luar angka kematian," katanya.

    Untuk total kasus kematian yang tinggi ada di Kabupaten Bandung dengan 30 kasus, Kabupaten Subang 22 kasus, Kota Bekasi 19 kasus, Kabupaten Bogor 14 kasua, Kota Bandung 14 kasus, Kabupaten Bandung Barat 14 kasus. Sedangkan untuk wilayah nol kematian ada di Kabupaten Pangandaran.

    Rochady melanjutkan, kematian yang terjadi akibat DBD ini sebagian besar diakibatkan dari keterlambatan pasien mendapatkan pengobatan ke sarana prasarana kesehatan.

    "Masyarakat perlu mengenal tanda bahaya DBD agar dapat segera ke fasyankes untuk mendapatkan penanganan segera dan mencegah kematian," katanya.

    DBD di Jawa Barat paling banyak menyerang usia golongan 15-44 tahun. Meski begitu, kata Rochady, angka kematian itu justru banyak golongan umur 5-14 tahun. Sementara, untuk kasus balita masih sendiri.

    "Kalau kita lihat memang mungkin penyebaran tidak saja di rumah tapi di kantor atau lingkungan sekolah yang sanitasi atau kamar mandi dan toilet atau ember tidak rutin di kuras sehingga mungkin atau berpotensi nyamuk berkembang biak di tempat tersebut," katanya.

  2. 2. Penanganan dilakukan dengan mengeluarkan SE

    Nyamuk aedes aegypti (www.alodokter.com)
    Nyamuk aedes aegypti (www.alodokter.com)

    Untuk penyebab tingginya kasus dan kematian akibat DBD, menurut Rochady bisa jadi terjadi pasien sebelumnya sudah pernah, terkena gigitan dari nyamuk aedes aegypti namun dampak yang dirasakan tidak muncul secara gamblang.

    "Mengingat, DBD ada empat DEN 1,2 dan 3. Kalau kita terserang oleh nyamuk oleh virus DEN 1 dalam beberapa waktu lagi terserang den dua itu kita tidak ada kekebalan tubuh itu jadi oleh den 1 saja kalau kita tertular kedua kali oleh strereotif berbeda itu lebih parah," katanya.

    Dinkes Provinsi Jawa Barat sendiri sudah melakukan beberapa langkah untuk mengantisipasi lonjakan kasus dengan mengeluarkan Surat Edaran waspada terhadap DBD ke seluruh kabupaten dan kota.

    "Kami sudah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan peningkatan DBD di Jawa Barat. Penanganan DBD tidak hanya Dinkes, tapi dinas lain dan masyarakat juga diminta untuk sama-sama mengendalikan peningkatan kasus DBD di Jabar," jelasnya.

    Selain itu, Dinkes Jabar juga akan melakukan penanganan DBD dengan menerjunkan juru pemantau jentik yang tugasnya nanti tidak hanya mengawasi di sekitar rumah, melainkan dari sekolah. Menurut Rochady, jika masyarakat waspada terhadap pemberantasan sarang nyamuk, di awal 2025 kasus tidak langsung meningkat seperti 2024.

    Selain itu, dalam penanganannya masyarakat juga kini bisa melakukan vaksinasi anti DBD yang mana ini masih berbayar. Adapun untuk program vaksin gratis masih belum dilakukan.

    "Program vaksin gratis masih belum dilakukan. Itu masih berbayar, kami menunggu juga jika masyarakat banyak meminta akan kami sediakan. Karena vaksin ada batas kadaluwarsa, jadi harus dipertimbangkan," kata dia.

  3. 3. Wolbachia Kota Bandung masih menunggu hasil evaluasi

    Ilustrasi pengembangan Nyamuk Wolbachia (IDN Times/Dhana Kencana)
    Ilustrasi pengembangan Nyamuk Wolbachia (IDN Times/Dhana Kencana)

    Adapun untuk penanganan dan proses pencegahan dari DBD ini pada dasarnya kembali lagi pada masyarakat. Menurutnya, selama penerapan 3M Plus, menguras tempat penampungan air, menutup tempat-tempat penampungan air, Mendaur ulang berbagai barang yang memiliki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biak nyamuk aedes aegypti pembawa virus DBD pada manusia.

    "3M Plus masih, efektif untuk melawan DBD di sekitar rumah tentutnya itu juga harus dibarengi dengan pemberian bubuk abate, foging. Masyarakat juga harus awre terhadap hal tersebut," kata dia.

    Untuk penyebaran nyamuk Wolbachia di Ujungberung, Kota Bandung juga masih belum ada evaluasi dari Kementerian Kesehatan. Menurutnya, peningkatan kasus di Kota Bandung bukan karena nyamuk berwolbachia ini melakukan kelainan genetik.

    Rochady memastikan, peningkatan kasus di Kota Bandung itu terjadi karena berbam faktor. Dia meminta masyarakat jangan salah faham tentang peningkatan kasus terjadi karena disebarkannya nyamuk Wolbachia.

    "Jadi efek dari Wolbachia sendiri dirasakan satu tahun setelahnya, peningkatan kasus DBD di Kota Bandung ini bukan memulu karena Wolbachia," kata dia.

  4. 4. Daerah mulai melakukan penanganan DBD

    Pixabay
    Pixabay

    Untuk menangani tingginya kasus Pemkot Bandung sebelumya sudah melakukan penanganan dengan menyiapkan 300 kilogram bubuk Abate dan 15 ribu RDT sebuah alat pengetesan DBD untuk 151 kelurahan.

    Abate merupakan perstisida yang bertujuan untuk membunuh larva nyamuk, serta mencegah perkembangbiakan menjadi nyamuk dewasa yang nantinya menjadi pelaku utama tersebarnya penyakit DBD.

    Bubuk abate ini berguna untuk memperpendek siklus perkembangan larva nyamuk, sehingga larva nyamuk akan mati sebelum menetas.

    Pj Wali Kota Bandung, Bambang Tirtoyuliono mengatakan, Pemkot Bandung juga telah menyiapkan langkah-langkah preventif dan kuratif. Langkah preventif dilakukan jajaran kewilayahan bersama perangkat daerah untuk melakukan upaya-upaya pencegahan.

    "Para camat, lurah, Forum RW RT kita libatkan. Mereka mengedukasi secara masif di masyarakat," katanya.

    Kemudian, ia memastikan kesiapan 80 puskesmas yang tersebar di 30 kecamatan kota Bandung dalam penanganan awal kasus DBD di masyarakat.

    "Kami punya puskesmas yang terus penanganan kuratif. Ada 80 puskesmas tersebar di 30 kecamatan kita siap siagakan untuk melakukan upaya kuratif. Kita juga siapkan sarana dan prasarana untuk memberikan penanganan darurat apakah perlu dirujuk ke rumah sakit," kata dia, beberapa waktu lalu.

  5. 5. Berikut data total kasus dan angka kematian DBD Jawa Barat periode Januari-12 Mei 2024

    Total kasus kematian:
    Kabupaten Bandung: 30 kasus
    Kabupaten Subang: 22 Kasus
    Kota Bekasi: 19 kasus
    Kabupaten Bogor: 14 Kasus
    Kota Bandung: 14 Kasus
    Kabupaten Bandung Barat: 14 Kasus
    Kota Bogor: 12 Kasus
    Kabupaten Purwakarta: 10 Kasus
    Kabupaten Garut: 10 Kasus
    Kota Cimahi: 9 Kasus
    Kabulkan Cianjur: 7 Kasus
    Kabupaten Kuningan: 6 Kasus
    Kabupaten Karawang: 6 Kasus
    Kabupaten Bekasi: 5 Kasus
    Kota Depok: 5 Kasus
    Kabupaten Cirebon: 4 Kasus
    Kabupaten Ciamis: 4 Kasus
    Kabupaten Sukabumi: 4 Kasus
    Kabupaten Sumedang: 3 Kasus
    Kabupaten Tasikmalaya: 3 Kasus
    Kota Banjar: 3 Kasus
    Kabupaten Majalengka: 2 Kasus
    Kota Tasikmalaya: 2 Kasus
    Kabupaten Indramayu: 1 Kasus
    Kota Cirebon: 1 Kasus
    Kota Sukabumi: 1 Kasus
    Kabupaten Pangandaran: 0 kasus

    Total Kasus DBD:
    Kota Bandung: 3.468 kasus
    Kota Depok: 2.042 kasus
    Kabupaten Bandung Barat: 1.943 kasus
    Kota Bogor: 1.942 kasus
    Kota Bekasi: 1.720 kasus
    Kabupaten Bandung: 1.382 kasus
    Kabupaten Garut: 1.367 kasus
    Kabupaten Subang: 1.356 kasus
    Kabupaten Bogor: 1.212 kasus
    Kabupaten Sumedang: 1.110 kasus
    Kabupaten Kuningan: 870 kasus
    Kabupaten Karawang: 856 kasus
    Kabupaten Bekasi: 811 kasus
    Kabupaten Purwakarta: 687 kasus
    Kabupaten Ciamis: 676 kasus
    Kota Sukabumi: 639 kasus
    Kabupaten Cirebon: 626 kasus
    Kabupaten Cianjur: 593 kasus
    Kota Tasikmalaya: 519 kasus
    Kota Cimahi: 440 kasus
    Kabupaten Sukabumi: 418 kasus
    Kabupaten Pangandaran: 297 kasus
    Kabupaten Majalengka: 295 kasus
    Kota Cirebon: 231 kasus
    Kota Banjar: 208 kasus
    Kabupaten Tasikmalaya:193 kasus
    Kabupaten Indramayu: 156 kasus

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More