Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kakek di Sukabumi Diduga Cabuli 12 Anak, Korban Masih PAUD-SMP
Ilustrasi pencabulan anak
  • Seorang kakek berinisial MH (72) di Sukabumi diduga mencabuli 12 anak perempuan usia PAUD hingga SMP, terungkap setelah salah satu korban bercerita saat pengajian.
  • Pelaku membungkam korban dengan ancaman dan iming-iming uang Rp2.000–Rp5.000 agar perbuatannya tidak dilaporkan, membuat anak-anak takut untuk bicara.
  • Warga yang marah menolak pelaku tinggal di lingkungan mereka dan menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sukabumi, IDN Times - Seorang kakek berinisial MH (72 tahun) tega mencabuli belasan anak di Sukabumi. Aksi itu terungkap setelah salah satu korban yang masih di bawah umur menceritakan peristiwa memilukan itu.

Ketua RW setempat, Hendra (52), menceritakan kasus ini bermula secara tidak sengaja ketika salah seorang korban keceplosan saat mengikuti kegiatan pengajian.

"Pas di pengajian, si anak itu teh nyeletuk, 'urang oge dikitukeun' (saya juga digituin). Akhirnya disampaikan ke orangtua," kata Hendra saat ditemui di lokasi, Rabu (22/7/2026).

1. Dilarang cerita hingga iming-iming uang

Ilustrasi pencabulan (IDN Times/Shukma Sakti)

Sebelumnya, para korban tidak berani melapor karena berada dalam bayang-bayang ancaman pelaku. Modusnya, pelaku membungkam korban dengan memberikan uang berkisar antara Rp2.000 hingga Rp5.000 agar aksi bejatnya tidak terbongkar.

"Sebenarnya anak ini takut, sama si bapak diancam 'ntong bebeja' (jangan ngomong) sambil dikasih uang. Itu pengakuan dari anak-anak, dikasih Rp5 ribu, dikasih Rp2 ribu," ungkapnya.

2. Jumlah korban mencapai 12 orang anak

Ilustrasi pencabulan (IDN Times/Sukma Sakti)

Mendengar pengakuan tersebut, para ibu di lingkungan setempat langsung mendatangi rumah pelaku untuk meminta kejelasan. Berdasarkan pendataan dari catatan para orang tua, jumlah korban ternyata jauh lebih banyak dari perkiraan awal.

"Tadi kurang lebih di rumah ada 7 anak, ternyata berkembang karena tadi tidak datang semuanya. Dari si ibu yang korban ini dikasih catatan, ternyata ada 13 orang," jelas Hendra.

3. Rata-rata korban masih duduk di bangku sekolah PAUD hingga SMP

ilustrasi pencabulan (dok IDN Times)

Para korban diketahui berjenis kelamin perempuan dengan rentang usia yang masih sangat muda. Mulai dari anak usia PAUD, Sekolah Dasar (SD), hingga ada yang hendak menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan pengakuan para korban, aksi pelecehan ini diduga sudah mulai terjadi sejak bulan puasa atau Februari 2026 lalu.

Hendra menyebutkan, keseharian terduga pelaku di lingkungan warga sebenarnya dikenal cukup baik dan religius. Pelaku yang merupakan warga pindahan dari Baros itu sering terlihat aktif mengikuti pengajian dan salat berjemaah di masjid.

"Sehari-hari dia baik, suka berjemaah di masjid, ikut pengajian, aktif. Ibadahnya bagus, enggak tahu gimana, mungkin khilaf atau gimana," tuturnya.

Adapun lokasi kejadian (TKP) pencabulan seringkali dilakukan di sekitar area masjid yang kerap menjadi tempat bermain anak-anak. Pelaku biasanya menghabiskan waktu di pelataran, samping masjid, hingga gardu.

"Tempat kejadiannya itu di depan masjid, seringnya, karena tempat anak-anak bermain. Halaman masjid, tapi kalau yang lainnya saya enggak tahu, karena bapak ini nongkrongnya seringnya di samping masjid dan di gardu," katanya.

Warga sekitar sempat dibuat terkejut dengan kabar ini. Pasalnya, keluarga dari anak pelaku dikenal sebagai orang baik dan dermawan.

4. Warga tolak pelaku tinggal di lingkungan mereka

Ilustrasi pencabulan/dok. Istimewa

Warga yang geram sempat berkumpul di area masjid untuk meminta kejelasan langsung kepada pihak keluarga. Hendra memastikan bahwa kasus ini telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk penanganan hukum lebih lanjut.

Di samping itu, warga dan para orangtua korban sepakat untuk menolak keberadaan pelaku di lingkungan mereka. Warga khawatir keberadaan pelaku dapat memicu trauma berkepanjangan bagi anak-anak korban.

"Dari lingkungan itu keinginannya si bapak jangan tinggal di kita, karena dikhawatirkan trauma ke anak, sieun aya si abah (takut ada si abah), gitu lah bahasa anak. Menolak, karena setahu saya dia juga punya rumah, karena dia sendiri jadi sama anaknya," kata Hendra.

Curated For You

Editorial Team

Related Article