Jelang Lebaran, Pantura Cirebon Dipetakan Rawan Padat

- Pemerintah Kabupaten Cirebon bersama kepolisian menyiapkan langkah antisipasi kemacetan di jalur Pantura menjelang Lebaran, termasuk rekayasa lalu lintas dan penertiban aktivitas pasar di tepi jalan.
- Pasar tradisional di sepanjang Pantura menjadi titik rawan padat karena parkir liar dan pedagang kaki lima yang mempersempit jalan, terutama saat arus mudik meningkat.
- Aparat akan memantau intensif dan menempatkan personel di titik padat untuk menjaga kelancaran arus kendaraan serta menyeimbangkan kepentingan ekonomi warga dengan mobilitas pemudik.
Cirebon, IDN Times - Pemerintah mulai mengantisipasi potensi kemacetan di jalur Pantai Utara (Pantura) wilayah Kabupaten Cirebon menjelang arus mudik Lebaran. Ruas nasional yang menjadi penghubung utama Jakarta–Jawa Tengah itu diperkirakan kembali mengalami lonjakan volume kendaraan, terutama di titik-titik aktivitas ekonomi masyarakat.
Sejumlah lokasi yang dinilai rawan kepadatan berada di kawasan pasar tradisional yang berada tepat di tepi jalan negara. Aktivitas bongkar muat, parkir kendaraan pembeli, serta pedagang yang memanfaatkan bahu jalan kerap mempersempit badan jalan.
Kondisi tersebut dinilai dapat memperlambat arus kendaraan jarak jauh yang melintas dari arah barat menuju Jawa Tengah maupun sebaliknya.
Pantauan di sepanjang jalur Pantura Cirebon menunjukkan beberapa titik yang berpotensi menjadi simpul kepadatan, terutama pada pagi hingga siang hari saat aktivitas pasar meningkat.
Kendaraan angkutan umum dan truk logistik juga masih mendominasi pergerakan di jalur tersebut, memperbesar risiko antrean panjang jika tidak dilakukan pengaturan.
1. Koordinasi pemda dan kepolisian

Bupati Cirebon Imron Rosyadi mengatakan, pemerintah daerah bersama aparat kepolisian setempat telah menyiapkan langkah pencegahan. Koordinasi dilakukan untuk memastikan arus kendaraan tetap bergerak, khususnya pada periode puncak mudik yang biasanya terjadi beberapa hari sebelum Lebaran.
Langkah yang diprioritaskan bukan hanya rekayasa lalu lintas, tetapi juga pendekatan persuasif kepada masyarakat sekitar jalur utama. Aparat akan melakukan penertiban parkir liar dan mengatur aktivitas pedagang agar tidak menggunakan badan jalan. Edukasi kepada pengelola pasar dilakukan supaya aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengganggu kepentingan pengguna jalan jarak jauh.
"Skema pengamanan terpadu juga disiapkan dengan menempatkan personel di titik-titik padat kendaraan. Petugas akan melakukan pengaturan manual apabila terjadi perlambatan arus akibat kendaraan keluar-masuk pasar atau persimpangan," kata Imron, Kamis (5/3/2026).
2. Aktivitas pasar jadi sorotan

Imron mengatakan, keberadaan pasar tradisional di tepi jalur Pantura selama ini menjadi salah satu faktor klasik penyebab kemacetan saat musim mudik. Pada hari normal saja, kendaraan kerap melambat karena banyaknya sepeda motor dan mobil pribadi yang parkir sembarangan.
Saat arus mudik meningkat, kondisi tersebut dapat memperparah kepadatan. Kendaraan pemudik yang didominasi mobil pribadi dan bus antarkota berpotensi terhambat ketika harus berbagi ruang dengan aktivitas lokal. Penyempitan jalan akibat kendaraan parkir dan pedagang kaki lima juga memperkecil kapasitas efektif ruas jalan nasional tersebut.
"Penanganan persoalan ini memerlukan keseimbangan antara kepentingan ekonomi warga dan kelancaran lalu lintas. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan lebih menekankan kesadaran kolektif masyarakat agar tidak menjadikan momentum mudik sebagai penyebab kemacetan berkepanjangan," tutur Imron.
3. Antisipasi lonjakan arus kendaraan

Secara umum, jalur Pantura Cirebon merupakan salah satu koridor vital yang setiap tahun mengalami peningkatan volume kendaraan signifikan menjelang Lebaran. Meski keberadaan jalan tol telah mengalihkan sebagian arus, kendaraan non-tol, angkutan barang, dan pemudik dengan tujuan kota-kota pesisir utara Jawa masih memanfaatkan jalur arteri ini.
Potensi kemacetan biasanya terjadi akibat pertemuan arus lokal dan arus jarak jauh. Persimpangan menuju kawasan permukiman, akses ke pasar, serta kendaraan yang berhenti mendadak menjadi pemicu utama perlambatan. Jika tidak diantisipasi, kepadatan bisa mengular hingga beberapa kilometer.
Untuk mengurangi risiko tersebut, aparat akan melakukan pemantauan intensif selama periode mudik. Evaluasi situasional juga disiapkan untuk menentukan apakah diperlukan rekayasa tambahan seperti pengalihan arus sementara atau pembatasan kendaraan tertentu pada jam-jam padat.
Imron berharap langkah pencegahan sejak dini dapat menjaga kelancaran perjalanan pemudik yang melintas di wilayah Cirebon.
"Upaya ini menjadi bagian dari strategi rutin tahunan untuk memastikan jalur nasional tetap berfungsi optimal sebagai penghubung antarprovinsi, sekaligus menjaga aktivitas ekonomi lokal tetap berjalan tanpa menimbulkan hambatan signifikan bagi arus mudik," tuturnya.


















