Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
H-6 Lebaran, Jalur Pantura Cirebon Masih Lancar dari Pemudik
Pantura Cirebon

Cirebon, IDN Times - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, arus lalu lintas di Jalur Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, masih terpantau normal. Berdasarkan pantauan pada Selasa (25/3/2025) atau H-6 Lebaran, belum terjadi lonjakan kendaraan.

Jalur utama yang biasa menjadi pilihan pemudik, seperti ruas Jalan Otto Iskandar Dinata, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon dan Jalan Brigjen Dharsono, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon masih didominasi oleh kendaraan warga lokal.

1. Arus lalu lintas lancar

Pantura Cirebon

Hasil pemantauan di beberapa titik menunjukkan kendaraan yang melintas di Jalur Pantura Cirebon masih dalam batas normal. Tidak ada antrean kendaraan panjang di persimpangan maupun perlintasan kereta api yang biasanya menjadi titik rawan kemacetan.

Beberapa titik yang sering menjadi pusat kepadatan, seperti sekitar Pasar Gebang dan Pasar Pasalaran, juga masih cukup normal. Aktivitas pasar tradisional belum menimbulkan kemacetan berarti karena puncak kepadatan arus mudik diprediksi baru akan terjadi dalam 3–4 hari ke depan.

“Kondisinya masih relatif normal, belum ada lonjakan signifikan dari kendaraan pemudik. Kendaraan yang melintas mayoritas masih berasal dari dalam kota,” ujar seorang petugas kepolisian yang berjaga di pos pengamanan mudik Simpang Kedawung, Selasa (25/3/2025).

Petugas juga menyebut bahwa meski situasi masih terkendali, mereka tetap bersiaga mengantisipasi peningkatan arus yang mungkin terjadi dalam waktu dekat. “Biasanya, mulai H-5 atau H-4 kendaraan pemudik mulai berdatangan dari arah Jakarta dan Bandung menuju Jawa Tengah dan sekitarnya,” tambahnya.

2. Dominasi kendaraan warga lokal

ilustrasi berkendara motor pada malam hari saat mudik (freepik.com/freepik)

Hingga saat ini, arus kendaraan di Jalur Pantura Cirebon masih didominasi oleh warga lokal yang melakukan perjalanan dalam kota maupun antarwilayah di sekitar Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.

Beberapa jenis kendaraan yang melintas meliputi sepeda motor, mobil pribadi, serta kendaraan angkutan barang yang masih beroperasi. Bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang biasa digunakan pemudik juga belum menunjukkan lonjakan penumpang signifikan.

Seorang pengendara bernama Ridwan (35), warga Plered, mengatakan perjalanan dari Cirebon ke Indramayu masih lancar tanpa hambatan.

“Biasanya kalau sudah dekat Lebaran, jalan ini sudah mulai padat, tapi sekarang masih lengang. Saya bisa berkendara dengan kecepatan normal tanpa harus sering mengerem mendadak,” ujarnya.

Sementara itu, Supardi (50), seorang sopir truk pengangkut sembako, menyebut bahwa jalur Pantura masih cukup nyaman dilalui. “Biasanya kalau sudah masuk H-5, kendaraan dari arah barat mulai memadati jalur ini. Tapi sekarang belum terlihat peningkatan yang signifikan,” katanya.

3. Waspadai 10 titik potensi kemacetan di pantura

ilustrasi jalan macet (pixabay.com/Aled7)

Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon telah melakukan pemetaan terhadap sepuluh titik potensi kerawanan selama arus mudik Lebaran 2025. Sebagian besar titik tersebut berada di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Berdasarkan pemetaan, 10 titik tersebut salah satunya adalah Pasar Tegalgubug, pasar tradisional yang terkenal dengan perdagangan pakaian dan tekstil, terutama pada hari-hari tertentu, sehingga aktivitasnya sering menyebabkan kemacetan.

Selain itu, Tegalkarang menjadi kawasan penghubung antara beberapa kecamatan dengan volume kendaraan yang tinggi, terutama saat jam sibuk. Pasar Pasalaran juga masuk dalam daftar karena menjadi pusat perdagangan hasil bumi dan kebutuhan pokok, dengan aktivitas bongkar muat yang dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.

Kemudian, Pasar Kue Plered dikenal sebagai destinasi kuliner yang ramai dikunjungi, terutama menjelang hari raya, sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan.

Wisata Kuliner Tengah Tani juga menjadi perhatian karena kawasan ini menawarkan berbagai kuliner khas Cirebon dan menarik banyak pengunjung, yang berkontribusi pada meningkatnya volume kendaraan di sekitarnya.

Simpang Kedawung, sebagai persimpangan strategis yang menghubungkan jalur Pantura dengan akses menuju kota Cirebon, sering menjadi titik kemacetan. Sementara itu, Pertigaan Ciperna yang mengarah ke beberapa destinasi wisata dan kawasan industri memiliki arus kendaraan yang padat.

Interchange Kanci, sebagai simpang susun yang menghubungkan jalur tol dengan jalur arteri, menjadi titik krusial dalam distribusi arus lalu lintas. Selain itu, Pasar Gebang, sebagai pasar tradisional, juga berkontribusi terhadap kelancaran lalu lintas di sekitarnya.

Terakhir, Pertigaan Losari yang menjadi pintu masuk ke wilayah Jawa Tengah memiliki volume kendaraan lintas provinsi yang tinggi, sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pengelolaan lalu lintas.

Kepala Dishub Kabupaten Cirebon, Hilman Firmansyah menjelaskan, identifikasi sepuluh titik tersebut didasarkan pada hasil pemantauan dan laporan masyarakat mengenai permasalahan lalu lintas yang sering terjadi.

"Kami menerima banyak masukan dari masyarakat terkait titik-titik yang sering mengalami kemacetan atau potensi kecelakaan. Oleh karena itu, kami melakukan pemetaan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat," ujarnya.

Editorial Team

Related Article