ilustrasi jalan macet (pixabay.com/Aled7)
Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon telah melakukan pemetaan terhadap sepuluh titik potensi kerawanan selama arus mudik Lebaran 2025. Sebagian besar titik tersebut berada di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Berdasarkan pemetaan, 10 titik tersebut salah satunya adalah Pasar Tegalgubug, pasar tradisional yang terkenal dengan perdagangan pakaian dan tekstil, terutama pada hari-hari tertentu, sehingga aktivitasnya sering menyebabkan kemacetan.
Selain itu, Tegalkarang menjadi kawasan penghubung antara beberapa kecamatan dengan volume kendaraan yang tinggi, terutama saat jam sibuk. Pasar Pasalaran juga masuk dalam daftar karena menjadi pusat perdagangan hasil bumi dan kebutuhan pokok, dengan aktivitas bongkar muat yang dapat mengganggu kelancaran arus lalu lintas.
Kemudian, Pasar Kue Plered dikenal sebagai destinasi kuliner yang ramai dikunjungi, terutama menjelang hari raya, sehingga berpotensi menimbulkan kemacetan.
Wisata Kuliner Tengah Tani juga menjadi perhatian karena kawasan ini menawarkan berbagai kuliner khas Cirebon dan menarik banyak pengunjung, yang berkontribusi pada meningkatnya volume kendaraan di sekitarnya.
Simpang Kedawung, sebagai persimpangan strategis yang menghubungkan jalur Pantura dengan akses menuju kota Cirebon, sering menjadi titik kemacetan. Sementara itu, Pertigaan Ciperna yang mengarah ke beberapa destinasi wisata dan kawasan industri memiliki arus kendaraan yang padat.
Interchange Kanci, sebagai simpang susun yang menghubungkan jalur tol dengan jalur arteri, menjadi titik krusial dalam distribusi arus lalu lintas. Selain itu, Pasar Gebang, sebagai pasar tradisional, juga berkontribusi terhadap kelancaran lalu lintas di sekitarnya.
Terakhir, Pertigaan Losari yang menjadi pintu masuk ke wilayah Jawa Tengah memiliki volume kendaraan lintas provinsi yang tinggi, sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih dalam pengelolaan lalu lintas.
Kepala Dishub Kabupaten Cirebon, Hilman Firmansyah menjelaskan, identifikasi sepuluh titik tersebut didasarkan pada hasil pemantauan dan laporan masyarakat mengenai permasalahan lalu lintas yang sering terjadi.
"Kami menerima banyak masukan dari masyarakat terkait titik-titik yang sering mengalami kemacetan atau potensi kecelakaan. Oleh karena itu, kami melakukan pemetaan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat," ujarnya.