Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menurunnya daya beli masyarakat tidak sebanding dengan modal dagangan yang membengkak, Jumat (31/7/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengingatkan risiko downgrade lifestyle akibat kenaikan biaya hidup, ketika warga beralih dari gaya hidup terjangkau ke pola belanja lebih hemat.

  • Pemkot Bandung menyiapkan dukungan perumahan, kelancaran pasokan pangan, serta peluang kerja dan usaha untuk menjaga daya beli; beras, bensin, gas, emas, dan rokok memicu inflasi.

  • Ketimpangan ekonomi Bandung masih tinggi. Pemerintah menjaga harga beras SPHP maksimal Rp12.500 per kilogram, sementara warga menyesuaikan pilihan konsumsi tanpa menghentikan rekreasi sepenuhnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Januari hingga Oktober

Beras, bensin, gas dapur, emas perhiasan, dan rokok putih mesin bermerek luar negeri tercatat menjadi komoditas pemicu inflasi di Kota Bandung.

5 November 2026

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memperingatkan agar warga tidak mengalami downgrade lifestyle akibat kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari. Pemkot Bandung menyiapkan dukungan pembangunan rumah, kelancaran pasokan pangan, serta pembukaan peluang kerja dan usaha untuk menjaga daya beli.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Wali Kota Bandung menyoroti risiko penurunan standar gaya hidup warga akibat kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari, sementara inflasi dipicu antara lain oleh harga beras, bensin, gas dapur, emas perhiasan, dan rokok putih mesin.
  • Who?
    Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Pemerintah Kota Bandung, Bulog, serta Ekonom Universitas Padjadjaran Ferry Hadiyanto terlibat dalam penyampaian kondisi dan langkah penanganan.
  • Where?
    Fenomena dan kebijakan yang dibahas berfokus di Kota Bandung, Jawa Barat.
  • When?
    Farhan menyampaikan keterangan di Bandung pada Kamis, 5 November 2026. Catatan komoditas pemicu inflasi mencakup periode Januari hingga Oktober.
  • Why?
    Biaya kebutuhan sehari-hari yang tinggi dapat mendorong warga beralih dari gaya hidup affordable luxury ke pola hidup hemat. Pertumbuhan ekonomi yang belum merata dan ketimpangan sosial juga menjadi tantangan.
  • How?
    Pemkot mendukung pembangunan tiga juta rumah, menjaga rantai pasok pangan, membuka peluang kerja dan usaha, serta mengupayakan harga beras SPHP tidak melebihi Rp12.500 per kilogram.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bilang banyak barang jadi mahal. Orang mungkin jadi hidup lebih hemat. Harga beras, bensin, gas, emas, dan rokok naik. Pemerintah Bandung mau bantu dengan rumah, makanan yang cukup, dan pekerjaan. Beras murah dari Bulog harus tidak lebih dari Rp12.500 per kilo.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan biaya hidup, Bandung menunjukkan ruang adaptasi dan perhatian kebijakan yang nyata. Pemerintah kota menempatkan ketersediaan pangan, harga beras SPHP yang terjangkau, serta peluang kerja dan usaha sebagai penyangga daya beli. Sementara itu, warga masih dapat mempertahankan kegiatan yang disukai melalui pilihan produk, tempat, atau waktu belanja yang lebih hemat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti fenomena downgrade lifestyle atau penurunan standar gaya hidup masyarakat akibat meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan ekonomi yang perlu diantisipasi agar tidak semakin meluas di Kota Bandung.

Farhan menjelaskan, fenomena downgrade lifestyle terjadi ketika masyarakat yang sebelumnya mampu menikmati gaya hidup affordable luxury atau kemewahan yang masih terjangkau, mulai beralih ke pola hidup hemat (frugal life).

"Downgrade lifestyle itu sebenarnya merupakan upaya seseorang yang sebelumnya berada pada kategori affordable luxury kemudian beralih ke frugal life atau gaya hidup hemat," ujar Farhan saat ditemui di Bandung, Kamis (5/11/2026).

"Fenomena itu terjadi karena tingginya biaya kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara maju, terutama di Eropa," lanjutnya.

1. Farhan tak ingin warga Bandung mengalami penurunan gaya hidup

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan (IDN Times/Yogi Pasha)

Farhan mengatakan, kondisi tersebut jangan sampai terjadi di Kota Bandung. Untuk mengantisipasinya, Pemkot Bandung berupaya menjaga kemampuan ekonomi masyarakat melalui sejumlah kebijakan.

Salah satunya dengan mendukung program pembangunan tiga juta rumah dari pemerintah. Selain itu, pemerintah daerah juga harus memastikan rantai pasok bahan pangan tersedia dengan baik dan cepat.

"Hal seperti itu tidak boleh sampai terjadi di Kota Bandung. Karena itu, Kota Bandung mendukung program pembangunan tiga juta rumah dari pemerintah," katanya.

"Kedua, kita harus memastikan rantai pasok bahan pangan tersedia dengan baik dan cepat. Ketiga, memastikan peluang kerja dan peluang usaha tetap terbuka lebar di Kota Bandung untuk menjaga daya beli masyarakat," kata Farhan.

2. Harga beras masuk komoditas pemicu inflasi Bandung

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. (Dok. Humas Pemkot Bandung)

Lebih lanjut, Farhan mengungkapkan, berdasarkan catatan inflasi periode Januari hingga Oktober, terdapat sejumlah komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi di Kota Bandung.

Harga beras menjadi salah satu komoditas yang disorot. Selain itu, ada harga bensin, gas dapur, emas perhiasan, hingga rokok putih mesin bermerek luar negeri.

"Jika dilihat dari inflasi Januari hingga Oktober, ada beberapa komoditas yang memicu inflasi di Kota Bandung. Pertama, harga beras. Kedua, harga bensin. Ketiga, harga gas dapur. Keempat, emas perhiasan karena permintaan masyarakat Bandung cukup tinggi. Kelima, rokok putih mesin bermerek luar negeri," tuturnya.

Menurut Farhan, pemenuhan kebutuhan pokok harus menjadi prioritas sebelum masyarakat memiliki ruang untuk memenuhi kebutuhan lainnya, termasuk menabung dan membeli emas.

"Artinya, yang paling penting adalah memastikan kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi terlebih dahulu. Setelah itu, masyarakat Bandung diharapkan tetap memiliki kemampuan untuk menabung, membeli emas, dan menikmati gaya hidupnya," katanya.

3. Ketimpangan sosial masih menjadi tantangan ekonomi Bandung

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Di sisi lain, Farhan mengakui pertumbuhan ekonomi Kota Bandung belum sepenuhnya merata. Kualitas pertumbuhan ekonomi yang belum optimal turut menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya.

"Tantangannya adalah pertumbuhan ekonomi yang belum merata atau kualitas pertumbuhannya masih kurang. Ketimpangan sosial di Kota Bandung juga cukup tinggi," ujarnya.

Untuk menjaga keterjangkauan kebutuhan pangan, Pemkot Bandung juga berupaya memastikan harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tetap terjangkau.

Farhan menyebut sekitar 30 persen peredaran beras SPHP di Kota Bandung dikendalikan oleh Bulog. Harga beras tersebut dipastikan tidak boleh melebihi Rp12.500 per kilogram.

"Ini yang harus kita hadapi bersama dengan memastikan harga beras SPHP tetap terjangkau. Sebanyak 30 persen peredaran beras SPHP di Kota Bandung dikendalikan oleh Bulog, dengan harga yang tidak boleh lebih dari Rp12.500 per kilogram," kata Farhan.

Sedangkan, Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Ferry Hadiyanto mengatakan, fenomena downgrade lifestyle tidak selalu berarti masyarakat berhenti mengonsumsi atau mengurangi aktivitas rekreasi secara drastis.

Menurutnya, kelas menengah justru mempertahankan kegiatan yang memberikan kesenangan, tetapi mengganti pilihan produk maupun tempat dengan alternatif yang lebih terjangkau.

"Downgrade itu, dia mencari harga lebih murah. Kalau perlu, bawa makanan dari rumah," kata Ferry.

Ferry menjelaskan, masyarakat mulai menyesuaikan pengeluaran untuk mempertahankan aktivitas yang mereka sukai. Salah satu contohnya terlihat dari kebiasaan mengunjungi kafe.

Jika sebelumnya seseorang terbiasa mengeluarkan Rp50 ribu untuk sekali nongkrong, kini ia bisa beralih ke tempat dengan harga sekitar Rp25 ribu. Aktivitasnya tetap sama, tetapi biaya yang dikeluarkan lebih rendah.

"Pola serupa juga dapat terjadi ketika masyarakat berkunjung ke pusat perbelanjaan. Mereka tetap datang ke mal, tetapi lebih selektif dalam berbelanja dan memilih waktu ketika ada promosi atau diskon," katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article