Bandung, IDN Times - Pertumbuhan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Bagi Cuit Babywear, jenama pakaian bayi dan anak asal Bandung, ekspansi toko fisik yang dilakukan pada 2021 justru membawa tantangan baru. Setahun kemudian, perusahaan menghadapi tekanan likuiditas karena pertumbuhan usaha tidak diimbangi kesiapan pengelolaan operasional dan rantai pasok.
Direktur sekaligus Owner Cuit Babywear, Hans Saputra, mengakui keputusan berekspansi saat itu terlalu terburu-buru. Perusahaan harus membenahi kembali sejumlah aspek mendasar, mulai dari pengelolaan arus kas, strategi pemasaran, hingga tata kelola perusahaan.
“Waktu itu saya terlalu percaya diri dan terburu-buru berekspansi. Untuk itu, kami harus belajar lagi dari awal, mulai dari menata supply chain, strategi pemasaran, sampai pada tata kelola perusahaan yang lebih sehat,” kenang Hans di Bandung, Kamis (22/10/2026).
Cuit Babywear mulai memanfaatkan fasilitas kredit UMKM dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada 2022. Pembiayaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, memperbaiki infrastruktur, dan mendukung strategi pemasaran.
Seiring pembenahan operasional dan pengelolaan modal kerja, perusahaan kemudian mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan. Perjalanan Cuit Babywear memperlihatkan bahwa mengembangkan usaha bukan hanya soal memperluas pasar, tetapi juga memastikan fondasi bisnis mampu menopang pertumbuhan.
