Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekspansi Terlalu Cepat, Cuit Babywear Bandung Bangkit dari Krisis

Kota Bandung
5 min read
Ekspansi Terlalu Cepat, Cuit Babywear Bandung Bangkit dari Krisis
Dok.Istimewa
  • Cuit Babywear mengalami tekanan likuiditas pada 2022 setelah ekspansi toko fisik agresif tidak diimbangi kesiapan operasional, arus kas, persediaan, dan rantai pasok.
  • Sejak 2022, perusahaan memanfaatkan kredit UMKM BCA untuk bahan baku, infrastruktur, dan pemasaran sambil membenahi tata kelola serta modal kerja.
  • Setelah pembenahan, penjualan tumbuh sekitar 100 persen pada 2023 dan 200 persen pada 2024-2025, disertai perluasan distribusi dan perhatian pada kesiapan pasokan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Pertumbuhan bisnis tidak selalu berjalan mulus. Bagi Cuit Babywear, jenama pakaian bayi dan anak asal Bandung, ekspansi toko fisik yang dilakukan pada 2021 justru membawa tantangan baru. Setahun kemudian, perusahaan menghadapi tekanan likuiditas karena pertumbuhan usaha tidak diimbangi kesiapan pengelolaan operasional dan rantai pasok.

Direktur sekaligus Owner Cuit Babywear, Hans Saputra, mengakui keputusan berekspansi saat itu terlalu terburu-buru. Perusahaan harus membenahi kembali sejumlah aspek mendasar, mulai dari pengelolaan arus kas, strategi pemasaran, hingga tata kelola perusahaan.

“Waktu itu saya terlalu percaya diri dan terburu-buru berekspansi. Untuk itu, kami harus belajar lagi dari awal, mulai dari menata supply chain, strategi pemasaran, sampai pada tata kelola perusahaan yang lebih sehat,” kenang Hans di Bandung, Kamis (22/10/2026).

Cuit Babywear mulai memanfaatkan fasilitas kredit UMKM dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) pada 2022. Pembiayaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, memperbaiki infrastruktur, dan mendukung strategi pemasaran.

Seiring pembenahan operasional dan pengelolaan modal kerja, perusahaan kemudian mencatat pertumbuhan penjualan yang signifikan. Perjalanan Cuit Babywear memperlihatkan bahwa mengembangkan usaha bukan hanya soal memperluas pasar, tetapi juga memastikan fondasi bisnis mampu menopang pertumbuhan.

  1. 1. Berawal dari Penjualan Online, Ekspansi Toko Fisik Berujung Tekanan Likuiditas

    WhatsApp Image 2026-10-23 at 09.47.59.jpeg
    Dok.Istimewa

    Hans merintis Cuit Babywear pada 2016 dengan melihat peluang pasar pakaian bayi dan anak yang dinilainya memiliki permintaan relatif konsisten. Pada tahap awal, perusahaan mengandalkan penjualan daring untuk menjangkau konsumen.

    Pertumbuhan penjualan kemudian mendorong Cuit Babywear merambah toko fisik secara agresif pada 2021. Namun, ekspansi tersebut menghadirkan tantangan yang tidak sederhana.

    Perusahaan perlu memastikan ketersediaan barang, memenuhi kebutuhan modal kerja, mengelola persediaan, serta menjaga arus kas agar operasional tetap berjalan. Ketika ekspansi tidak diimbangi kesiapan sistem pengelolaan usaha, tekanan likuiditas muncul pada 2022.

    Pengalaman tersebut menjadi titik evaluasi bagi Hans. Ia menyadari bahwa pertumbuhan penjualan saja tidak cukup untuk menjamin kesehatan bisnis jika pengelolaan operasional dan rantai pasok belum siap.

    Perusahaan kemudian mulai membenahi pengelolaan usaha, termasuk memastikan strategi pemasaran berjalan seiring dengan kesiapan persediaan dan kemampuan keuangan.

    Dalam proses tersebut, Cuit Babywear memanfaatkan fasilitas kredit UMKM BCA sejak 2022 untuk mendukung kebutuhan bahan baku, perbaikan infrastruktur, dan pemasaran.

    “Dengan dukungan kredit usaha dari BCA, kami punya ruang untuk berbenah dengan tenang dan terukur. Kami memilih kredit UMKM BCA karena bunganya kompetitif, kemudahan akses jaringan kantor cabang yang luas, serta kualitas pelayanan BCA yang sudah diakui. Fasilitas ini sangat vital untuk menjaga perputaran bisnis kami,” tambah Hans.

    Pembiayaan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya perusahaan menjaga kelangsungan operasional saat melakukan pembenahan. Namun, pengalaman Cuit Babywear juga menunjukkan pentingnya menyesuaikan kecepatan ekspansi dengan kemampuan pengelolaan usaha.

  2. 2. Penjualan Tumbuh hingga 200 Persen, Rantai Pasok Jadi Perhatian

    WhatsApp Image 2026-10-23 at 09.47.58.jpeg
    Dok.istimewa

    Setelah melewati masa pembenahan, Cuit Babywear mencatat pertumbuhan penjualan sekitar 100 persen pada 2023. Pertumbuhan berlanjut pada 2024 dan 2025, masing-masing sekitar 200 persen berdasarkan keterangan perusahaan.

    Pada 2026, Cuit Babywear menargetkan pertumbuhan mendekati 100 persen. Perusahaan juga memperluas distribusi produknya ke sejumlah kota besar di Pulau Jawa, terutama kawasan Jabodetabek, serta pasar di luar Pulau Jawa.

    Pertumbuhan tersebut menjadi alasan perusahaan terus memperhatikan kesiapan rantai pasok, pengelolaan persediaan, dan modal kerja. Ketika permintaan meningkat, kemampuan memenuhi pesanan dan menjaga ketersediaan produk menjadi bagian penting agar ekspansi tidak kembali menimbulkan tekanan operasional.

    Selain dukungan pembiayaan, Cuit Babywear mengikuti program pemberdayaan BCA, termasuk BCA UMKM Fest dan BCA Bangga Lokal. Menurut keterangan perusahaan, Cuit Babywear menjadi salah satu toko dengan nilai penjualan daring tertinggi dalam penyelenggaraan BCA UMKM Fest 2025 dan 2026.

    BCA UMKM Fest 2025 juga mencantumkan Cuit Baby Wear sebagai salah satu dari lima pelaku UMKM yang memperoleh apresiasi atas performa penjualan daring terbaik. Capaian ini menunjukkan bahwa kanal digital tetap menjadi salah satu jalur penting bagi perusahaan dalam menjangkau pasar.

    Bagi Cuit Babywear, pengalaman mengembangkan bisnis melalui kanal daring dan toko fisik memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan permintaan dan kemampuan operasional.

  3. 3. Pembiayaan dan Pendampingan UMKM, Apa Peran BCA?

    Cuit Turu Double Zipper Sleepsuit Baby (shopee.co.id/Cuit Babywear Official Shop)
    Cuit Turu Double Zipper Sleepsuit Baby (shopee.co.id/Cuit Babywear Official Shop)

    EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari komitmen perseroan dalam mendorong perkembangan usaha lokal.

    Kisah Cuit Babywear, menurut Hera, mencerminkan upaya pemberdayaan melalui tiga pilar utama, yakni pembinaan, penyediaan infrastruktur pembayaran, dan solusi kebutuhan pembiayaan.

    “Kami bersyukur dukungan yang kami berikan dapat menjadi katalisator bagi UMKM untuk naik kelas secara berkelanjutan,” ujarnya.

    BCA juga mencatat pertumbuhan penyaluran kredit pada segmen usaha kecil dan menengah (UKM). Per Juli 2026, kredit UKM BCA tumbuh 6,9 persen secara tahunan menjadi Rp134 triliun. Angka tersebut melampaui pertumbuhan kredit UKM industri perbankan yang mencapai 1,2 persen pada periode yang sama berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Selain pembiayaan, BCA menyatakan telah mendukung 1.829 UMKM melalui program pelatihan bisnis yang mencakup 43 modul pembelajaran dan total 52 jam pelatihan. Program pendampingan lainnya meliputi pelatihan ekspor, literasi keuangan, dan digitalisasi usaha.

    Bagi pelaku usaha seperti Cuit Babywear, pembiayaan dan pendampingan menjadi dua aspek yang saling berkaitan. Modal dapat membantu memenuhi kebutuhan operasional, sementara pengelolaan arus kas, rantai pasok, dan strategi pemasaran diperlukan untuk memastikan pertumbuhan berjalan lebih terukur.

    Perjalanan Cuit Babywear memperlihatkan bahwa mengembangkan bisnis bukan hanya tentang seberapa cepat perusahaan memperbesar skala usaha. Kemampuan mengenali risiko, memperbaiki tata kelola, dan menjaga keseimbangan keuangan juga menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan pertumbuhan dalam jangka panjang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More