Satgas Jembatan Kritis Jadi Sorotan Konferensi Teknik Sipil di Bandung

- KoNTekS 20 di Bandung membahas penanganan jembatan kritis dan penguatan infrastruktur tahan bencana melalui kolaborasi akademisi, praktisi konstruksi, serta pemerintah.
- Program Satgas Jembatan dipaparkan sebagai strategi percepatan penanganan jembatan kritis, dengan penekanan pada inovasi teruji, tata kelola akuntabel, dan adaptasi risiko kebencanaan.
- Konferensi menghadirkan 177 makalah, tiga pembicara utama, dan Munas BMPTTSSI yang membahas kurikulum OBE, standar laboratorium, serta kompetensi lulusan teknik sipil.
Bandung, IDN Times - Penanganan jembatan kritis dan penguatan infrastruktur agar tahan terhadap bencana menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Konferensi Nasional Teknik Sipil Indonesia ke-20 (KoNTekS 20) di Kota Bandung, Kamis–Jumat (22–23/10/2026).
Forum yang diselenggarakan di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi konstruksi, serta perwakilan pemerintah untuk membahas tantangan pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Salah satu agenda utamanya adalah pemaparan Program Satgas Jembatan oleh Pelaksana Tugas Direktur Pembangunan Jembatan, Direktorat Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, Gatot Sukmara. Program tersebut mengangkat strategi percepatan penanganan infrastruktur jembatan kritis di Indonesia.
Gatot mengatakan, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah diharapkan dapat mendukung mitigasi bencana melalui inovasi yang teruji, tata kelola yang akuntabel, serta pembangunan infrastruktur yang mampu beradaptasi terhadap berbagai risiko kebencanaan.
"Agenda KoNTekS ini merupakan bentuk kolaborasi yang sangat baik dari perguruan tinggi yang harapannya dapat membantu pemerintah dalam memitigasi bencana di Indonesia melalui penanganan cepat, inovasi teruji, tata kelola akuntabel, serta keberlanjutan yang adaptif terhadap perubahan hidrometeorologi, geologi, dan geofisika," ujar Gatot.
1. Infrastruktur tangguh bencana menjadi perhatian

Dok.Istimewa KoNTekS 20 mengangkat persoalan ketahanan infrastruktur di tengah kondisi geografis, geologis, dan klimatologis Indonesia yang kompleks.
Ketua Panitia KoNTekS 20 sekaligus Ketua Program Studi Teknik Sipil Itenas, Bernardinus Herbudiman, mengatakan inovasi diperlukan dalam perencanaan, perancangan, konstruksi, pengelolaan, hingga pemeliharaan infrastruktur untuk menghadapi risiko bencana.
Menurut dia, tantangan kebencanaan menuntut pengembangan pendekatan teknik sipil yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan, tetapi juga memperhitungkan aspek ketahanan dan keberlanjutan infrastruktur.
2. Sebanyak 177 makalah dipresentasikan

Dok.Istimewa Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan tiga pembicara utama dan 11 pembicara undangan. Sebanyak 177 makalah juga dipresentasikan dalam sesi paralel.
Pembicara utama lainnya adalah Ketua Badan Musyawarah Pendidikan Tinggi Teknik Sipil Seluruh Indonesia (BMPTTSSI), Prof. Dr. Eng. Ir. Muhammad Isran Ramli, serta Ketua Umum Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Prof. Ir. Harkunti Pertiwi Rahayu.
Materi yang dibahas mencakup peran perguruan tinggi dalam mewujudkan infrastruktur tangguh bencana serta manajemen risiko dan kesiapsiagaan infrastruktur nasional.
Penyelenggaraan konferensi ini didukung konsorsium 11 perguruan tinggi dari berbagai wilayah Indonesia, dengan Itenas Bandung sebagai tuan rumah.
3. Munas BMPTTSSI bahas kurikulum dan standar laboratorium

Dok.Istimewa Selain konferensi ilmiah, rangkaian kegiatan KoNTekS 20 diisi dengan Musyawarah Nasional BMPTTSSI pada Jumat (23/10/2026).
Munas tersebut membahas pemutakhiran panduan kurikulum Outcome-Based Education (OBE), penetapan standar minimum laboratorium, serta penguatan kompetensi lulusan teknik sipil.
Pada hari yang sama, peserta juga mengikuti lokakarya analisis dan desain perkerasan lentur berbasis mekanistik serta lokakarya mengenai keselarasan pendidikan tinggi dan risiko bencana.
Rangkaian kegiatan ditutup melalui gala dinner yang mencakup pemberian penghargaan untuk kategori Best Paper, Best Presenter, dan lomba Capstone Design.
Meski demikian, dampak konkret forum ini terhadap penanganan jembatan kritis, penerapan hasil penelitian, dan perubahan standar pendidikan masih perlu ditelusuri melalui tindak lanjut resmi pemerintah serta BMPTTSSI.




















