Ara mengaku, setelah Pilpres periode lalu, dirinya memiliki ketakjuban kepada dua sosok yakni Jokowi dan Prabowo. Keterbukaan dua sosok itu untuk bersatu, menjadi salah satu alasan Ara menyimpan rasa hormat kepada keduanya.
Padahal, dalam prosesnya, Pilpres yang menghadirkan dua sosok itu, berjalan cukup keras. "Mereka dua kali bersaing keras. Luar biasa kerasnya," kata dia.
Namun, setelah Pilpres usai, Ara mengaku sempat diajak Jokowi, yang berniat untuk merangkul Prabowo. Pernyataan Jokowi itu, kata Ara, disampaikan saat dirinya bersama Jokowi dalam satu mobil.
"Saya satu mobil dengan Pak Jokowi. Pak Jokowi bilang 'setelah keputusan KPU dan MK selesai, Mas Ara, Saya mau undang Pak Prabowo.' Wah, luar biasa. Waktu itu saya merinding. Dan beliau bilang 'saya akan datang.' Dan beliau datang ketemu Pak Prabowo," kata dia.
"Dan ingat ya, Pak Prabowo hadir dengan sportif di MPR. Itu ditujukan oleh Pak Jokowi dan Prabowo. Yang menang, mengundang yang kalah. Yang kalah juga, diundang, datang. Nah saya pikir, ini lah. Jangan bicara kerukunan, tapi nggak ada buktinya," lanjut dia.
Dijelaskannya, dari pertemuan itu, akhirnya Prabowo mau bergabung dalam pemerintahan Jokowi. Padahal, lanjut Ara, di sisi lain, ada sebagian pendukung Prabowo yang tidak setuju.
"Dua kali pilpres, bersaing terus tapi Pak Prabowo mau bersatu, membantu Pak Jokowi. Padahal saya tahu persis, sebagian pendukung Pak Prabowo menganggap Pak Prabowo itu pengkhianat. Karena mau mendukung pak Jokowi dalam pemerintahan. Tetapi mayoritas Indonesia setuju dengan langkah Pak Prabowo," papar dia.
"Pada dasarnya kepercayaan publik kepada Pak Jokowi itu 82 persen. Karena kinerjanya, infrastruktur, kepribadiannya baik. Dan Pak Prabowo sudah sampaikan kepada saya 'saya akan meneruskan apa yang dilakukan Pak Jokowi . Pak Jokowi Menang, merangkul saya. Saya juga akan merangkul semua kekuatan.' Itu lah kenapa saya katakan, saya pamit kepada PDI Perjuangan," lanjut dia.