Pekerja Informal di Jawa Barat Capai 55,8 Persen pada Awal 2026

- Pekerja informal masih mendominasi di Jawa Barat pada Februari 2026 dengan persentase 55,8 persen, meski terjadi sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya.
- Sektor perdagangan besar dan eceran menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, sementara sektor konstruksi mencatat peningkatan signifikan akibat berbagai proyek infrastruktur.
- Mayoritas penduduk bekerja berpendidikan menengah ke bawah, namun proporsi pekerja berpendidikan tinggi meningkat hingga hampir 14 persen dari total angkatan kerja.
Bandung, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat (Jabar) baru mempublikasikan laporan eksekutif mengenai keadaan angkatan kerja per Februari 2026. Salah satu data dalam laporan tersebut menunjukkan bahwa pekerja informal di provinsi ini masih mendominasi, mencapai 55,80 persen.
Berdasarkan laporan tersebut, jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 mengalami peningkatan dibandingkan kondisi Februari 2024 maupun Februari 2025. Jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 meningkat sebanyak 0,09 juta orang dibandingkan keadaan Februari 2025.
Peningkatan jumlah angkatan kerja disebabkan oleh meningkatnya penduduk yang bekerja sebanyak 0,11 juta orang dan berkurangnya pengangguran sebanyak 0,02 juta orang. Jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 juga mengalami peningkatan dibandingkan Februari 2024, yakni meningkat sebanyak 1,01 juta orang.
Adapun pada Februari 2026, sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, yaitu sebanyak 26,89 juta orang. Sisanya termasuk bukan angkatan kerja sebesar 12,58 juta orang.
1. Pekerjaan di sektor perdagangan besar dan eceran tertinggi
Berdasarkan hasil Sakernas Februari 2026, lapangan pekerjaan yang menyerap tenaga kerja paling banyak adalah Perdagangan Besar dan Eceran, Industri, serta Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Pola penyerapan tenaga kerja ini masih sama dengan kondisi Februari 2025.
Dibandingkan dengan Februari 2025, tiga lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan kontribusi terbesar pada Februari 2026 adalah Konstruksi (1,00 persen poin), Aktivitas Jasa Lainnya (0,30 persen poin), dan Industri (0,20 persen poin). Sementara itu, lapangan pekerjaan yang mengalami penurunan kontribusi terbesar dalam menyerap tenaga kerja adalah Perdagangan Besar dan Eceran.
"Pembangunan jembatan gantung, mulainya proyek kabel bawah tanah secara masif, dan penataan kabel udara di beberapa wilayah Jawa Barat berdampak pada meningkatnya penyerapan tenaga kerja di sektor konstruksi. Terselenggaranya berbagai event, bazar hingga acara budaya di kabupaten/kota sepanjang Februari 2026, mendorong bertambahnya tenaga kerja pada sektor aktivitas jasa lainnya," kutip IDN Times dari laporan tersebut, Rabu (22/7/2026).
2. Mayoritas pekerja informal adalah perempuan

Persentase pekerja formal dan informal di Jawa Barat mengalami fluktuasi selama tiga tahun terakhir. Namun, penduduk bekerja di Jawa Barat masih didominasi oleh pekerja informal. Pada Februari 2026, persentase pekerja informal mengalami penurunan sebesar 0,09 persen poin dibandingkan kondisi Februari 2025.
Meski demikian, pekerja perempuan maupun laki-laki di Jawa Barat sama-sama didominasi oleh pekerja informal. Penduduk bekerja yang berstatus sebagai berusaha sendiri cukup mendominasi pada pekerja informal.
Selain pekerja yang berstatus sebagai berusaha sendiri, status lainnya yang cukup dominan pada pekerja informal laki-laki adalah pekerja dengan status berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar. Di samping itu, pekerja informal perempuan juga didominasi oleh pekerja keluarga/tidak dibayar.
Jika dilihat menurut daerah tempat tinggal, persentase pekerja informal di perdesaan jauh lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Dominasi ini disebabkan karena sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian. Pada kategori ini, peran pekerja dengan status berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak dibayar/tidak tetap, pekerja bebas pertanian, dan pekerja keluarga cukup tinggi.
3. Penduduk bekerja mayoritas berpendidikan menengah ke bawah

Masih berdasarkan laporan tersebut, penduduk bekerja di Jawa Barat didominasi oleh mereka yang berpendidikan menengah ke bawah. Pada Februari 2025, sebagian besar penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 37,42 persen atau 9,35 juta orang. Sementara itu, tenaga kerja yang berpendidikan tinggi, yaitu Diploma I/II/III dan DIV/S1/S2/S3, sebanyak 13,77 persen atau 3,46 juta orang.
"Ini dapat diartikan dari 100 penduduk bekerja di Jawa Barat hanya sekitar 13 hingga 14 penduduk bekerja di antaranya yang berpendidikan tinggi," demikian isi laporan tersebut.
Penduduk yang bekerja berpendidikan SD ke bawah maupun lulusan DIV/S1/S2/S3 mengalami fluktuasi selama tiga tahun terakhir. Penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah mengalami penurunan sebesar 3,24 persen poin. Sementara itu, penduduk bekerja lulusan DIV/S1/S2/S3 mengalami peningkatan sebesar 2,95 persen poin.
"Kondisi ini menggambarkan bahwa penduduk bekerja yang berpendidikan tinggi semakin meningkat dan terjadi penurunan penyerapan tenaga kerja pada penduduk berpendidikan rendah," masih mengutip laporan tersebut.

















