DPRD Jabar Soroti Sekolah Maung, Berpotensi Memunculkan Kesenjangan

- Komisi V DPRD Jabar menyoroti rencana pendirian Sekolah Maung di tiap kabupaten dan kota karena dikhawatirkan memunculkan kesenjangan seperti kasus RSBI sebelumnya.
- Program Sekolah Maung bertujuan mencetak siswa berprestasi akademik maupun non-akademik, namun seleksi lintas wilayah dan wacana syarat IQ tinggi dinilai bisa menimbulkan persaingan tidak sehat.
- DPRD Jabar menyarankan program dimulai lewat proyek percontohan di Purwakarta sebelum diperluas, sementara Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan sekolah ini untuk memfasilitasi siswa berprestasi tanpa menciptakan kecemburuan.
Bandung, IDN Times - Komisi V DPRD Jawa Barat turut menyoroti rencana Sekolah SMA dan SMK Manusia Unggul (Maung) yang akan dihadirkan di setiap kabupaten dan kota pada tahun ajaran baru ini. Legislatif juga mengingatkan mengenai potensi munculnya kesenjangan dari program tersebut.
Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Yomanius Untung mengatakan, secara konsep dan tujuan rencana sekolah Maung ini sudah baik, karena ingin mencetak siswa berprestasi dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Hanya saja, kata dia, jangan sampai Sekolah Maung mengulang kegagalan konsep sekolah unggulan seperti Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang justru melahirkan kesenjangan pendidikan.
"Namanya prestasi, baik prestasi akademik, olahraga, seni maupun keagamaan untuk kemudian bisa ditonjolkan dan dipersiapkan dengan baik agar menghasilkan lulusan yang mampu bersaing," ujar Yomanius, Kamis (7/5/2026).
1. Modelnya dinilai mirip seperti RSBI

Menurut dia, konsep sekolah unggulan serupa pernah menuai kontroversi pada era RSBI yang akhirnya dibatalkan Mahkamah Konstitusi, karena dianggap memperkuat kesenjangan pendidikan.
"Jangan sampai ini mempertegas kastanisasi sekolah. RSBI dulu dianggap kasta paling tinggi dan sekolah lain berada di bawahnya. Itu yang jangan sampai terulang," katanya.
Konsep, Sekolah Maung yang membuka peluang seleksi lintas wilayah tanpa batas zonasi pun berpotensi memunculkan persaingan tidak sehat.
Bahkan dalam pembahasan bersama Dinas Pendidikan, kata dia, muncul wacana syarat minimal tingkat kecerdasan tertentu bagi calon siswa, meski masih dalam tahap kajian.
"Siapapun bisa masuk asal unggul. Tadi bahkan sempat disebut IQ minimal 130, walaupun itu masih dikaji," katanya.
2. Fondasi pendidikan harus bermutu

Lebih lanjut, Yomanius mengatakan, siswa dengan kemampuan dan bakat istimewa memang perlu mendapatkan fasilitas pendidikan khusus, termasuk diproyeksikan menembus perguruan tinggi terbaik hingga level dunia.
Tak hanya jalur akademik, program Sekolah Maung juga diarahkan untuk memperkuat pendidikan vokasi melalui pengembangan SMK unggulan. Namun, Yomanius menekankan kualitas pembelajaran dan praktik kerja harus menjadi perhatian utama.
"Karena ini vokasional, maka praktik-praktik bermutu harus menjadi fondasi utama agar siswa benar-benar siap masuk dunia kerja," katanya.
3. Minta digelar secara bertahap tidak serentak

Berdasarkan pembahasan awal, Dinas Pendidikan Jawa Barat mengusulkan pembentukan 41 Sekolah Maung. Namun, Komisi V DPRD Jabar menilai rencana tersebut terlalu agresif untuk tahap awal pelaksanaan pada tahun ajaran 2026-2027.
Komisi V pun mendorong agar program dimulai melalui proyek percontohan atau pilot project sebelum diperluas ke berbagai daerah di Jawa Barat.
Sebagai langkah awal, Komisi V mengusulkan agar program difokuskan terlebih dahulu di Purwakarta yang dinilai paling siap dari sisi lahan dan infrastruktur.
"Satu saja dulu di Purwakarta. Anggarannya sudah ada, lahannya sudah ada, persiapannya juga lebih siap. Itu dulu yang dikerjakan," ucapnya.
Sebelumnya, Gubernur Dedi Mulyadi memastikan keberadaan sekolah ini bukan untuk membuat kecemburuan sekolah lainnya. Dedi menegaskan, Sekolah Maung digagas untuk memfasilitasi siswa dengan kualifikasi prestasi tertentu baik dari akademik dan non-akademik. Metode ini menurutnya sudah banyak hadir di sekolah-sekolah swasta.
Sehingga, keberadaan Sekolah Maung ini bukan untuk membuat adanya satu sekolah favorit baru, melainkan mengelompokkan seluruh murid berprestasi agar bisa meningkatkan kemampuannya.
"Begini dari dulu juga begitu kan, sama juga ada sekolah-sekolah yang punya kualifikasi khusus kaya Taruna Nusantara, kan sama juga begitu loh," ujar Dedi.
Kecemburuan yang sering terjadi di masyarakat, kata Dedi, sering kali muncul karena anaknya yang memiliki kemampuan lebih justru tidak mendapatkan kesempatan akademik yang layak dari murid lainnya. Hal tersebut dipastikan dia akan terkikis melalui Sekolah Maung.
"Nah akan menjadi kecemburuan mana sekolah itu hanya menekankan akademik misalnya memahami keunggulan anak itu hanya akademik itu kecemburuan," kata dia.
"Tapi sekarang keunggulan anak itu dibidang olahraga, dibidang seni, industri kreatif, teknologi ya itu kan tidak akan melahirkan kecemburuan maka jadi lah yang terbaik," kata Dedi.
















