DPR RI Soroti Kasus Human Trafficking, Minta Pengawasan Diperketat

Bandung, IDN Times - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) dari Komisi IX, Fraksi PKS, Netty Prasetiyani Ahmad Heryawan menyoroti kasus human trafficking yang kini masih banyak terjadi dalam beberapa waktu kebelakang.
Menurutnya, banyak masyarakat yang menjadi korban perdagangan manusia karena berbagai iming-iming bekerja di luar negeri. Salah satunya memberikan janji dengan magang kerja di salah satu perusahaan tertentu.
"Para pencari kerja ke luar negeri, tadinya kerja di resto ternyata jadi operator judi online di Kamboja. Itu kan pintu masuknya tuh magang, sampai sana jadi korban trafficking," ujar Netty saat ditemui di Bandung, Kamis (19/12/2024).
1. Banyak warga tertipu karena iming-iming magang

Kemudian, mantan anggota DPRD Kabupaten Indramayu, Robiin yang disekap di perbatasan Thailand-Myanmar karena turut menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Artinya, kasus-kasus seperti ini dikatakan Netty harus bisa diperhatikan oleh pemerintah.
"Terus warga Cianjur tahun lalu itu yang dia harusnya kerja, ternyata di tempat kerja pertama melebihi jam kerjanya, dia pindah ke agensi yang lain ternyata setelah itu dilacurkan di Dubai sampai anaknya bikin konten," ujarnya.
2. Pengawasan media sosial juga perlu diperhatikan

Dengan banyaknya kasus ini, Netty mengungkapkan, pemerintah harus turut serta memperketat jalur-jalur masyarakat bekerja ke luar negeri. Jangan sampai nantinya korban dari perdagangan orang meningkat karena lemahnya pengawasan.
"Berikutnya kemudahan orang bekerja itu hanya karena informasi sepintas dari media sosial yang mereka terima tanpa literasi yang cukup memadai untuk menyiapkan diri, memiliki kompetensi, menyiapkan dokumen yang memenuhi syarat prosedural seperti itu," kata dia.
3. Masyarakat jangan mudah menelan informasi magang ke luar negeri

Lebih lanjut, Netty menambahkan, masyarakat juga jangan mudah menerima informasi mengenai lowongan magang ke luar negeri dengan persyaratan yang tidak jelas. Sebab, hal itu dikatakannya bisa menjadi pintu awal human trafficking.
"Jangan mudah untuk terjebak mengikuti tawaran bekerja ke luar negeri, tanpa memastikan bahwa mereka bekerja secara positif. Bahwa trafficking ini kan bertemunya kebutuhan masyarakat untuk hidup dengan kepentingan para pelaku," katanya.
"Jadi kebutuhan masyarakat ingin hidup, ingin makan, anaknya ingin sekolah, tapi ada sejumlah perusahaan dalam tanda kutip yang memang sudah berniat untuk melakukan tindak kejahatan," ujarnya.