Wamendikdasmen Pastikan Murid Meninggal di NTT Peserta Program PIP

- Penyebab meninggal korban masi kompleksMenurut Wamendikdasmen, dana PIP almarhum sudah cair bulan November tahun lalu. Namun, penyebab bunuh diri terkait permasalahan psikologis, emosional, ekonomi, dan hubungan sosial.
- Siapkan intervensi jangka panjangKementerian akan memperkuat peran guru bimbingan konseling di sekolah, meregulasi peran UKS, dan mengaktifkan guru wali untuk mendeteksi masalah psikologis anak-anak.
- Harap kasus seperti ini tidak berulangWamendikdasmen merasa prihatin dengan kejadian itu dan berharap tidak terulang kembali. Pihaknya ingin meres
Bandung, IDN Times - Kasus meninggalnya siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menjadi perbincangan karena disebut sebagai kelalaian negara menghadirkan pendidikan yang baik. Terkait hal tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza UI Haq mengungkapkan YBR merupakan peserta program Indonesia Pintar (PIP). Ia menyebut dana PIP almarhum sudah cari sejak tahun 2025.
"Anak yang bersangkutan terdaftar penerima PIP, oke, clear ya. Di sekolah yang bersangkutan ada 72 anak penerima PIP, termasuk almarhum, anak yang bersangkutan," ucap dia saat meninjau SMP 70 Kota Bandung, Jumat (6/2/2026).
1. Penyebab meninggal korban masi kompleks

Menurutnya, dana PIP almarhum tahun 2025 sudah cair bulan November tahun lalu. Penggunaan dana itu diperuntukan untuk seragam, sepatu, buku, alat tulis dan keperluan sekolah lainnya.
Namun begitu, Wamendikdasmen menuturkan penyebab almarhum bunuh diri sangat kompleks. Sebab hal itu terkait permasalahan psikologis, emosional dan ekonomi serta hubungan sosial di lingkungannya.
"Anak usia 10 tahun itu sebenarnya nggak tahu arti bunuh diri. Mungkin dengan cara itu dia berpikir masalah akan selesai. Kan dia belum mengerti, belum sadar sebenarnya. Jadi ini hal-hal yang mungkin harus kita pahami," kata dia.
2. Siapkan intervensi jangka panjang

Fajar mengatakan kementerian bakal melakukan intervensi jangka panjang mulai dari memperkuat kembali peran guru bimbingan konseling di sekolah. Selain itu meregulasi peran UKS dan mengaktifkan guru wali.
"Guru di sekolah yang mendeteksi pertama kalau ada masalah psikologis dengan anak-anaknya itu. Ini yang sedang kita perkuat dan baru berjalan tahun 2025. Mudah-mudahan ke depan kasus-kasus macam ini bisa kita tekan," ungkap dia.
3. Harap kasus seperti ini tidak berulang

Ia melanjutkan merasa prihatin dengan kejadian itu dan berharap tidak terulang kembali. Pihaknya ingin merespons masalah itu bersifat struktural melalui kebijakan.
"Dari kasus di NTT dari banyak studi kita tahu itu bukan faktor tunggal. Banyak faktor kenapa anak memutuskan melakukan tindakan bunuh diri itu," kata dia.
Ia mengaku tidak ingin menghakimi dan ingin menjaga privasi keluarga korban dan teman sebaya. Pihaknya juga ingin membiasakan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat agar sehat dan jauh dari tekanan hidup.

















