DEN Klaim Cadangan Energi Indonesia Masih Aman hingga 28 Hari

- DEN menyatakan cadangan energi Indonesia masih aman dengan kapasitas operasional 21–28 hari, meski situasi geopolitik global dan konflik Timur Tengah tengah memanas.
- Indeks ketahanan energi nasional berada di angka 7,13 dari skala 10, menunjukkan posisi kuat namun masyarakat tetap diminta berhemat dan efisien dalam penggunaan energi.
- Pemerintah menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan mencapai 17–19 persen pada 2030 dan meningkat hingga 70–72 persen pada 2060 melalui kebijakan energi nasional terbaru.
Bandung, IDN Times - Ketahanan energi Indonesia diklaim masih berada dalam kondisi aman di tengah situasi geopolitik global dan konflik Timur Tengah. Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Satya Widya Yudha mengatakan Indonesia memiliki cadangan operasional energi masih mampu sekitar 21-28 hari.
Satya menjelaskan, cadangan energi Indonesia dibagi menjadi tiga kategori yakni cadangan operasional, cadangan strategis, dan cadangan penyangga energi. Dia memastikan, ketiga kategori tersebut masih dalam kategori aman.
"Kalau berbicara cadangan energi, paling tidak ada tiga kategori. Cadangan operasional, cadangan strategis, dan cadangan penyangga energi. Untuk cadangan operasional kita masih mampu sekitar 21 sampai 28 hari," kata Satya dalam Sarasehan Energi di Kampus Institut Teknologi Bandung, Jalan Ganesa, Kota Bandung, Selasa (12/5/2026).
1. Masyarakat harus tetap hemat energi

Cadangan strategis ini kata Satya, merupakan energi yang masih tersimpan di dalam tanah dan terus dihitung potensinya, termasuk bersama ITB. Sementara cadangan penyangga energi nasional hingga kini masih terus disiapkan pemerintah.
Sementara, indeks ketahanan energi Indonesia saat ini berada di angka 7,13 dari skala 10. Angka itu dinilai relatif kuat menghadapi tekanan global, termasuk dampak perang di Timur Tengah terhadap sektor energi.
Meski demikian menurut Satya, kondisi tersebut tidak boleh membuat masyarakat lengah dalam penggunaan energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).
"Presiden Prabowo melalui Ketua Harian DEN, Pak Bahlil Lahadalia, berkali-kali menekankan pentingnya efisiensi energi. Negara menjaga supaya daya beli masyarakat tetap kuat dan tidak terjadi shock inflation," ucapnya.
2. Pemerintah meningkatkan cadangan dan produksi energi

DEN mengimbau agar masyarakat mulai mengubah pola konsumsi energi dengan menggunakan transportasi publik dan berkendara secara efisien. Termasuk salah satu caranya bisa menggunakan kendaraan listrik.
"Kalau masyarakat yang mampu membeli mobil listrik mulai menggunakan kendaraan listrik dengan baik, konsumsi BBM bisa ditekan jauh dan impor juga akan berkurang," katanya.
Pemerintah Indonesia lanjut Satya, terus memperkuat pasokan energi nasional dari sisi produksi. Dia menyebut, penemuan lapangan migas baru di Sulawesi menjadi salah satu upaya meningkatkan cadangan minyak dan gas nasional.
"Dari demand side kita dorong efisiensi masyarakat, dari supply side pemerintah meningkatkan cadangan dan produksi energi," kata dia.
3. Pemerintah Indonesia kini memiliki PP Nomor 40 Tahun 2025

Satya menyampaikan, saat ini Indonesia memiliki Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional yang merupakan revisi dari PP Nomor 79 Tahun 2014.
Penyusunan regulasi tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi seperti ITB. Dalam kebijakan baru ini, pemerintah menargetkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) mencapai 17-19 persen pada 2030 dan meningkat menjadi 70-72 persen pada 2060.
"Ini menjadi living document yang bisa terus disempurnakan sesuai perkembangan dan kebutuhan pengelolaan energi nasional," katanya.

















