Perjuangan Pemerintah Indonesia untuk perang melawan COVID-19 terus dilakukan. Sejumlah kebijakan dilakukan mulai menerapkan penebalan PPKM Mikro hingga pelaksanaan vaksinasi COVID-19 massal.
Juli 2021, nanti, pemerintah menginginkan agar ada 1 juta masyarakat per hari yang bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19. Target itu untuk mengejar 70 persen atau sekitar 181,5 juta warga dari populasi Indonesia dalam upaya mewujudkan kekebalan komunal terhadap COVID-19.
Namun, pada tahap awal ini, masih banyak masyarakat di daerah yang belum terserap keinginannya untuk mendapatkan suntikan vaksin COVID-19. Antusias warga yang tinggi ternyata terbatas oleh pasokan vaksin di daerah. Meskipun, pemerintah melalui kementerian kesehatan menjamin kebutuhan vaksin COVID-19 terpenuhi dan bisa didistribusikan per termin.
Di Jawa Barat, proses percepatan vaksinasi COVID-19 terus dikebut. Hingga saat ini Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Jabar sudah menerima sebanyak 8.052.600 dosis vaksin dari pemerintah pusat dan sudah dialokasikan ke kabupaten/kota.
Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satgas Penanganan COVID-19 Jabar Marion Siagian mengatakan, dari jatah vaksin yang dialokasikan, sebanyak 2.562.612 orang masyarakat Jabar yang telah mendapat vaksinasi COVID-19 dosis pertama hingga 16 Juni 2021. Sedangkan, sebanyak 1.736.244 orang sudah menerima dosis kedua.
"Rata-rata penyuntikan vaksin COVID-19 di Jabar sekitar 36.000-50.000 per hari. Satgas Penanganan COVID-19 Jabar pun menargetkan rata-rata penyuntikan vaksin COVID-19 mencapai 175.000 per hari pada Juli-Desember 2021," ujar Marion, Selasa (22/6/2021).
Marion menyebutkan, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Di tengah pandemik COVID-19 ini, Jabar memiliki sasaran 33-34 juta. Karena itu, untuk mengejar target tersebut dibutuhkan kolaborasi dengan berbagai instansi masyarakat.
"Karena kalau tidak kolaborasi, tidak cepat. Sasaran Jabar itu 33 juta lebih hampir 34 juta. Jadi effort kita lebih besar dari provinsi lain. Kalau kerja sendiri, tidak akan bisa. Kolaborasi ini harus cukup kuat," katanya.
Di Salatiga, Jawa Tengah, antusias masyarakat yang ingin mendapatkan vaksinasi COVID-19 juga cukup tinggi. Hal itu terlihat dari proses vaksinasi yang dilakukan di Rumah Sakit Paru dr Ario Wirawan (RSPAW).
Namun, jatah yang dialokasikan RSPAW Salatiga untuk vaksinasi COVID-19 hanya sebanyak 1.100 dosis. Sementara, pada tahap awal pendafataran masyarakat langsung penuh.
Direktur Utama RSPAW Salatiga, Farida Widayati mengaku, banyak masyarakat yang menanyakan syarat untuk bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19. Tingginya animo warga Salatiga untuk mengikuti vaksinasi terbilang tinggi dan pendaftaran tahap awal langsung penuh.
"Rumah sakit hanya mendapat jatah vaksinasi sebanyak 1.100 dosis. Saat proses pendaftaran online, jumlah kuotanya sudah terpenuhi," ujar dia.
Persoalan kuota vaksin juga dirasakan di Provinsi Sumatera Utara. Dimana target sasaran vaksinasi massal di provinsi ini masih tergantung dengan kuota vaksin. Saat ini, Pemprov Sumut pun sudah membuka sejumlah lokasi vaksinasi masal. Di Medan, vaksinasi dipusatkan di Lanud Soewondo.
Khusus untuk program 1 juta vaksin per hari, sumut belum mendapatkan jatah vaksinnya. Harapannya, dari 14,56 juta warga Sumut bisa melakukan vaksinasi supaya bisa terwujud herd immunity.
“Satu juta itu kan untuk Indonesia. Jadi kuota yang provinsi belum dapat. Dari 1 juta itu Sumut kebagian berapa. Dari target itu, 40 persen dihandle TNI dan Polri,” ujar Pelaksana Tugas Kadis Kesehatan Sumut yang juga Juru Bicara Satgas COVID-19 Sumut Aris Yudhariansyah, Jumat (25/6/2021).
Aris mengatakan, dari kuota yang ada 60 persen nantinya akan dikelola oleh Dinas Kesehatan Provinsi untuk kemudian didistribusikan dengan kabupaten/kota.
Saat ini, mereka masih menunggu distribusi dari pusat. Meskipun, saat ini proses vaksinasi sudah mulai lancar.
“Jadi kebutuhan kabupaten/kota itu semuanya melalui dinas kesehatan provinsi, didistribusikan melalui kita berdasarkan kebutuhan masing-masing kab/kota. Termasuk TNI Polri,” ungkapnya.
Target 1 juta orang per hari untuk mendapatkan vaksinasi COVID-19 di Indonesia tentunya menambah sasaran di daerah. Di Sumatera Selatan (Sumsel), target itu didorong dengan rencana penambahan dosis vaksin mencapai 2,9 persen atau sekitar 29.000 per hari.
Yusri mencatat, angka 2,9 persen dosis vaksin yang diberikan kepada Sumsel dirasakan sulit, walaupun target Kemenkes menetapkan vaksinasi selesai pada Maret 2022 mendatang. Dengan alokasi tersebut, maka Sumsel hanya bisa melakukan penyuntikan sekitar 55 orang per hari tiap faskes
Sumsel memiliki sekitar 433 fasilitas kesehatan (faskes) yang tersebar di 17 kabupaten dan kota. Mereka dibebankan target sesuai jumlah dosis yang akan masuk.
"Untuk 1 Juli mendatang, kalau 29 ribu dosis per pasien maka hanya 55 orang per hari yang kita suntik. Angka 55 orang tersebut artinya membutuhkan waktu tiga tahun," kata Kepala Seksi Imunisasi dan Surveilans Dinas Kesehatan (Dinkes), Yusri kepada IDN Times, Kamis (24/6/2021).
Kendala penyerapan vaksin sudah dirasakan sejak awal di akhir Januari 2021 lalu. Terhitung lima bulan realisasi vaksin masih terbatas. Dari 1.090.600 dosis, baru sekitar 831.897 dosis yang terserap.
"Lima bulan ini banyak tertunda, maka perkiraan kita mulai 1 Juli nanti satu faskes punya beban minimal 145 orang per hari, sehingga awal Maret tahun depan sudah selesai," ujar dia.
Yusri menjelaskan, sejauh ini kendala vaksinasi berada pada rentang lanjut usia (lansia). Mereka banyak terkendala oleh penyakit penyerta yang diderita, sehingga cakupan vaksinasi bagi lansia tahap pertama masih sangat minim. Pihaknya meminta keluarga memobilisasi dan mengajak lansia untuk mendapat vaksin.
Lalu, masih ada individu yang terbawa isu hoaks mengenai dampak vaksin. Mereka takut jika vaksinasi membahayakan keselamatan. Padahal, vaksinasi dilakukan untuk menciptakan kekebalan komunal.
Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar juga berharap, pemerintah segera memenuhi kebutuhan stok vaksin. Sebab, sasaran vaksinasi masyarakat di Tangerang masih jauh dari target yang disasar karena keterbatasan jatah vaksin.
"Antusias masyarakat banyak, tapi vaksinnya yang terbatas," ujar Zaki Iskandar, Kamis (24/6/2021).
Zaki menuturkan, pihaknya menargetkan vaksinasi untuk masyarakat umum sebanyak 35.000 per hari agar secepat mungkin membentuk herd immunity.
"Kalau ini bisa terlaksana mudah-mudahan vaksinnya ditambah karena jumlah penduduk kami banyak," kata Zaki.
Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Husnul Muarif menyampaikan bahwa stok vaksin yang tersedia di Kota Malang hanya tersisa 70 vial saja. Sesuai perhitungan, satu vial vaksin bisa digunakan untuk 10 hingga 12 orang. Maka 70 vial vaksin yang tersedia hanya mencukupi untuk 700 orang.
Kendati demikian, Pemerintah Kota Malang tetap optimistis program 1 juta orang per hari bisa divaksin pada Juli, nanti. Wali Kota Malang, Sutiaji mengatakan, hingga akhir Juli 2021, lebih dari 180 ribu warga ditargetkan sudah mendapatkan vaksinasi COVID-19.
Percepatan vaksinasi COVID-19 itu merupakan upaya dari Pemkot Malang untuk memperkuat imun masyarakat di tengah lonjakan kasus yang saat ini kembali terjadi. Menipisnya stok vaksin terus diupayakan segera terpenuhi di saat program berjalan pada Juli.
Sutiaji menyebutkan, Kota Malang sudah mendapat jatah vaksin Sinovac sebanyak 25 ribu pada tahap pertama vaksinasi yang semua sudah diberikan. Untuk gelombang kedua, Pemkot Malang kembali mendapat jatah 100 ribu dosis lagi untuk vaksin jenis AstraZeneca. Vaksin-vaksin yang diterima Dinas Kesehatan Kota Malang itu sudah disalurkan melalui sejumlah fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes).
"Selanjutnya, kami mengajukan lagi tambahan untuk vaksin Sinovac sebanyak 60 ribu lagi," kata Wali Kota Malang, Sutiaji, Kamis (24/6/2021).