Ilustrasi begal (IDN Times/Mardya Shakti)
Dedi juga menjawab kritik yang menyebut pemerintah seharusnya lebih fokus mengatasi pengangguran daripada membuat sayembara penangkapan begal. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap berupaya menciptakan lapangan kerja dan menarik investasi, namun ia menilai faktor penyebab kejahatan jauh lebih kompleks.
"Kanu setiap hari berusaha menyelesaikan pengangguran dan membangun investasi. Tetapi pencurian, kejahatan, maling, dan sejenisnya tidak melulu karena menganggur," ujarnya.
Dia menjelaskan, ada faktor lingkungan yang membentuk tradisi kriminal secara turun-temurun di sejumlah wilayah. Bahkan, menurutnya, terdapat kelompok kejahatan yang telah terorganisasi, mulai dari pelaku pencurian kendaraan bermotor hingga begal.
"Pelaku kejahatan ini tidak semuanya orang Jawa Barat. Banyak yang bukan warga Jawa Barat," katanya.
Lebih lanjut, Dedi mengajak masyarakat untuk tidak takut menghadapi aksi kriminalitas. Dia menegaskan, aparat keamanan telah meningkatkan patroli di berbagai wilayah sehingga masyarakat diharapkan tetap tenang, namun berani melawan kejahatan dengan cara yang benar.
"Jangan begal yang menjadi berkuasa dan membuat rasa takut dalam pikiran kita. Justru kita harus membuat begal takut kepada kita," ujarnya.
Dedi juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan kritik terhadap kebijakannya, termasuk kepada Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra yang turut memberikan masukan.
"Kami menerima kritik dengan sepenuh hati untuk kebaikan masyarakat Jawa Barat," kata dia.