Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dedi Mulyadi Berencana Bangun Underpass di Pasteur Kota Bandung
Ilustrasi kemacetan Pasteur Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berencana membangun underpass di kawasan Pasteur, Bandung, untuk mengurai kemacetan yang sering terjadi setiap akhir pekan dan hari libur.
  • Rencana pembangunan underpass masih dalam tahap kajian tata kota dan infrastruktur; jika memenuhi syarat, proyek akan dilanjutkan dengan pembuatan Desain Engineering Detail tahun depan.
  • Kota Bandung dinobatkan sebagai kota termacet di Indonesia menurut Tomtom Traffic Index 2025, mendorong Wali Kota Muhammad Farhan memperbaiki sistem transportasi dan meninjau ulang aturan trayek angkot.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
5 Juli 2025

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan rasa malu atas predikat Kota Bandung sebagai kota termacet di Indonesia. Ia berjanji memperbaiki sistem transportasi selama masa kepemimpinannya dan menjelaskan penyebab kemacetan akibat banyaknya kendaraan pribadi serta buruknya sistem trayek angkot.

2025

Data Tomtom Traffic Index mencatat Kota Bandung sebagai kota termacet nomor satu di Indonesia dengan waktu tempuh rata-rata 33 menit per 10 km, serta menempati peringkat ke-12 dunia.

18 April 2026

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkapkan rencana pembangunan underpass di kawasan Pasteur, Kota Bandung, untuk mengurangi kemacetan yang terjadi setiap akhir pekan. Ia menyebut proyek masih dalam tahap kajian dan berharap dapat mulai dibangun tahun depan setelah pemenuhan syarat tata kota dan infrastruktur.

kini

Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih melakukan kajian terhadap rencana pembangunan underpass Pasteur, termasuk aspek anggaran dan desain detail engineering (DED).

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Rencana pembangunan underpass di kawasan Pasteur, Kota Bandung, yang digagas untuk mengurangi kemacetan terutama pada akhir pekan dan hari libur.
  • Who?
    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta Wali Kota Bandung Muhammad Farhan yang menyoroti kondisi kemacetan di kota tersebut.
  • Where?
    Kawasan Pasteur, Kota Bandung, Jawa Barat, yang merupakan salah satu gerbang utama masuk ke kota dan terhubung langsung dengan akses tol.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Sabtu, 18 April 2026. Pembangunan direncanakan dapat dimulai tahun depan setelah kajian dan syarat teknis terpenuhi.
  • Why?
    Pembangunan underpass direncanakan untuk mengatasi kemacetan panjang di kawasan Pasteur yang sering terjadi setiap akhir pekan dan libur panjang.
  • How?
    Saat ini proyek masih dalam tahap kajian tata kota dan infrastruktur. Jika syarat terpenuhi, pemerintah akan menyusun Desain Engineering Detail sebelum pelaksanaan pembangunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Dedi mau bikin jalan bawah tanah di Pasteur Bandung biar gak macet pas Sabtu dan Minggu. Sekarang masih dihitung dulu boleh atau enggak bangunnya. Kota Bandung katanya macet banget, paling macet di Indonesia. Pak Farhan, wali kotanya, bilang malu dan mau benerin supaya orang gak pakai mobil sendiri terus.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Rencana pembangunan underpass di kawasan Pasteur menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mencari solusi konkret terhadap kemacetan yang kerap terjadi di Kota Bandung. Upaya ini, disertai kajian tata kota dan infrastruktur yang matang, mencerminkan pendekatan terencana dan bertanggung jawab. Selain itu, komitmen Wali Kota untuk memperbaiki sistem transportasi umum menandakan adanya sinergi positif antara kebijakan infrastruktur dan reformasi mobilitas perkotaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Gubernur Provinsi Jawa Barat, Dedi Mulyadi berencana membangun infrastuktur underpass di kawasan Pasteur, Kota Bandung, untuk mengurangi terjadinya kemacetan di wilayah tersebut setiap hari Sabtu dan Minggu.

Diketahui, kawasan Pasteur sendiri merupakan salah satu gerbang masuk paling populer di Kota Bandung, di mana terdapat akses tol dan juga sangat dekat dengan pusat perkotaan. Saban hari libur daerah Pasteur tidak pernah sepi, melainkan penuh oleh kendaraan hingga kerap membuat kemacetan panjang.

Menurut Dedi, Pemerintah Provinsi perlu mencari solusi untuk masalah kemacetan di kawasan itu agar tidak berdampak terhadap arus lalu lintas disaat waktu akhir pekan dan libur panjang.

"Saya berkeinginan ya itu dibuat, kan keluar Pasteur apalagi Jumat, Sabtu, Minggu, itu selalu menimbulkan antrean panjang, gerbang pintu tol ada traffic light, ya pasti macet, sehingga harus dicarikan solusi. Solusinya salah satunya adalah underpass," ujar Dedi Mulyadi, dikutip Sabtu (18/4/2026).

1. Berharap syarat bisa terpenuhi

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. P Aditya

Meski demikian, Dedi menegaskan bahwa rencana pembangunan underpass masih dalam proses kajian dengan upaya pemenuhan syarat, baik itu dari aspek tata kota maupun infrastrukturnya.

"Ya mudah-mudahan lah dari sisi kajian tata kotanya, dari sisi aspek infrastrukturnya, bisa terpenuhi syaratnya, bisa tahun depan mulai di bangun," katanya.

Bahkan, jika semua pemenuhan persyaratan sudah terpenuhi, Dedi mengatakan akan segera membuatkan DED (desain engineering detail) untuk pembangunan underpass Pasteur.

"Kalau sudah kalau itu terpenuhi di Perubaan Anggaran kan bisa dibuatkan DED-nya, sehingga tahun depan bisa dibangun," katanya.

2. Bandung jadi kota paling macet di Indonesia

Suasana di Braga Bandung (Ali Farhan)

Mengenai anggaran untuk rencana pembangunan underpass itu, Dedi mengaku belum bisa memastikan hal itu karena masih mengkaji rencananya. Kota Bandung sendiri kini dicap sebagai kota paling macet nomor satu di Indonesia, merujuk data dari Tomtom Traffic Index pada 2025. Mereka mencatat rata-rata perjalanan per 10 kilometer (km) di Ibu Kota Jawa Barat ini harus ditempuh selama 33 menit.

Sementara, di posisi kedua ada Medan dengan 32 menit, Palembang 28 menit, Surabaya 27 menit, dan Jakarta dengan 23 menit. Kota Bandung bahkan menduduki peringkat 12 dunia sebagai kota termacet, sedangkan Jakarta masih berada di peringkat ke-90.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan merasa malu dengan penilaian tersebut, sebab jelas bukan sebuah prestasi yang membanggakan. Dia memastikan, perbaikan akan dilaksanakan selama kepemimpinannya.

"Saya sih malu ya Kota Bandung dicap sebagai Kota termacet se-Indonesia. Bukan membanggakan, jadi perbaikan utama adalah sistem transportasi," ujar Farhan di kantor Agate Summarecon Bandung, Sabtu (5/7/2025).

3. Sistem transportasi umum belum bagus

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. IDN Times/Debbie Sutrisno

Farhan pun memberi beberapa alasan Kota Bandung jadi yang termacet, salah satu di antaranya jumlah kendaraan pribadi yang hampir dimiliki oleh seluruh warga. Dia juga berterus terang bahwa sistem transportasi di wilayahnya jelek.

"Kenapa Bandung macet karena (warganya) banyak beli kendaraan pribadi seperti mobil, motor, karena transportasi jelek sekali. Ini mah fakta jumlah penduduk Kota Bandung 2,6 juta jumlah kendaraan pribadi nomor D Bandung itu 2,3 juta," kata Farhan.

"Jadi yang kami lakukan sekarang adalah strategi apapun untuk kendaraan umum ini sistemnya adalah tidak menggunakan trayek," tuturnya.

Menurutnya, sistem trayek yang saat ini masih digunakan untuk regulasi kendaraan umum seperti angkot menjadi ganjalan, dan banyak kalah bersaing dengan transportasi berbasis online yang tidak memiliki jalur khusus.

Kondisi ini, menurutnya, membuat masyarakat lari ke transportasi online yang mana menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil dan motor, dibandingkan kendaraan umum seperti angkot. Oleh karena itu sistem trayek ini harus dihilangkan.

Dengan kondisi ini, Farhan memastikan akan berusaha mengubah jalur trayek dengan sistem seperti carter di mana nantinya angkot bisa bersaing dan banyak digunakan oleh masyarakat untuk transportasi umum, dibandingkan kendaraan pribadi.

"Saya akan berjuang agar trayek ini dibongkar tota. Kalau pake aturan trayek maka gak pernah bisa bersaing dengan ojol dan lainnya. Mengapa? Karena perhitungan sama dengan ojol taksi semuanya berbasis carter. Angkot enggak, ya bagaimana mau dapat. Maka saya berpihak kepada angkot," katanya.

Editorial Team