Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dedi Mulyadi Alihkan Anggaran Disdik untuk Biayai 80 Ribu Siswa Swasta
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengalihkan anggaran Disdik dari proyek pembangunan sekolah ke Dana Sumbangan Pendidikan bagi 70–80 ribu siswa swasta yang tidak tertampung di sekolah negeri.
  • Sebanyak 1.015 Sekolah Swasta Kerja Sama siap menampung siswa penerima beasiswa, dengan sistem pembayaran langsung dari Pemprov Jabar ke sekolah sebagai bentuk dukungan pendidikan merata.
  • Dedi menegaskan bantuan hanya untuk siswa berperilaku baik, sementara Forum Kepala Sekolah SMA Swasta meminta transparansi dan pemisahan anggaran agar tidak mengganggu beasiswa siswa miskin.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
22 Juni 2026

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan anggaran Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) bagi siswa yang tidak terserap PCMB akan dialihkan dari APBD pergeseran Disdik Jabar. Ia menjelaskan dana pembangunan sekolah tanpa sertifikat tanah ditunda dan dialihkan untuk beasiswa.

Juli 2026

Dedi Mulyadi menyebut jumlah pasti penerima bantuan DSP akan diumumkan setelah SPMB tahap dua selesai dilaksanakan pada bulan ini.

Tahun 2026

Ketua FKSS SMA Jabar, Ade Hendriana, menjelaskan bahwa bantuan biaya pendidikan Rp2.700.000 per siswa akan dibayarkan setengahnya pada tahun ini dan sisanya di tahun berikutnya. Ia juga menegaskan bahwa anggaran SSK belum tercantum dalam APBD murni 2026.

kini

Sebanyak 1.015 Sekolah Swasta Kerja Sama telah menandatangani kesepakatan menampung siswa yang tidak diterima di sekolah negeri. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan dana DSP tersedia dan siap disalurkan kepada sekitar 70–80 ribu siswa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalihkan anggaran Dinas Pendidikan untuk membiayai program Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) bagi sekitar 70.000 hingga 80.000 siswa yang tidak diterima di sekolah negeri.
  • Who?
    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Dinas Pendidikan Jabar, serta Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jabar yang diketuai Ade Hendriana.
  • Where?
    Kebijakan diumumkan di Gedung Pakuan, Bandung, dan berlaku bagi sekolah swasta kerja sama di seluruh wilayah Provinsi Jawa Barat.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Sabtu, 22 Juni 2026, dengan pelaksanaan bantuan menunggu hasil SPMB tahap dua pada Juli mendatang.
  • Why?
    Langkah ini dilakukan untuk membantu ribuan siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri agar tetap dapat melanjutkan pendidikan melalui beasiswa ke sekolah swasta.
  • How?
    Dana dialihkan dari pos pembangunan sekolah belum bersertifikat tanah dalam APBD pergeseran Disdik Jabar dan disalurkan langsung ke sekolah penerima melalui sistem beasiswa perorangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pak Dedi, Gubernur Jawa Barat, mau kasih uang sekolah buat anak-anak yang nggak bisa masuk sekolah negeri. Uangnya dari pindahan anggaran di Dinas Pendidikan. Ada banyak sekolah swasta yang mau bantu, sekitar seribu lebih. Anak-anak yang dapat bantuan harus berperilaku baik. Kalau nakal, bantuannya bisa dicabut lagi. Sekarang uangnya sudah siap dan tinggal dibagi ke sekolah-sekolah itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kebijakan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk mengalihkan anggaran Disdik guna membiayai 70–80 ribu siswa swasta menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam memastikan akses pendidikan tetap terbuka bagi semua. Langkah ini juga memperlihatkan sinergi positif antara pemerintah dan 1.015 sekolah swasta yang bersedia menampung siswa, sekaligus menegaskan pentingnya perilaku baik sebagai bagian dari penerimaan bantuan pendidikan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memastikan anggaran untuk Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) bagi murid yang tidak terserap dalam Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) bersumber dari APBD pergeseran di Disdik Jabar.

Diketahui, DSP sendiri merupakan bantuan uang pangkal sebesar Rp1,5 juta per siswa serta bantuan biaya pendidikan bulanan sebesar Rp100 ribu per bulan atau Rp1,2 juta per tahun. Dedi memastikan, uang bantuan tersebut saat ini tersedia.

"Anggarannya sudah ada, tinggal dilakukan pergeseran alokasi dari Dinas Pendidikan. Misalnya, anggaran untuk pembangunan sekolah yang belum memiliki sertifikat tanah akan ditunda agar tidak rawan gugatan, dan dananya dialihkan untuk beasiswa ini," ujar Dedi saat ditemui di Gedung Pakuan, Seni (22/6/2026).

1. SSK Jabar ada sebanyak seribu sekolah swasta

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Dedi mengungkapkan, sampai saat ini total ada sebanyak 1.015 Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK) yang sudah menyatakan bersedia menampung para ribuan murid tidak masuk ke sekolah negeri ini. Jumlah ini mengalami peningkatan dari sebelumnya yang hanya 751 sekolah swasta.

"Sudah ada kesepakatan dengan mitra Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan untuk menyalurkan beasiswa bagi 70.000 hingga 80.000 siswa yang terdata di PCMB. Saat ini, sebanyak 1.015 sekolah swasta telah menandatangani kesepakatan dan hadir secara fisik," kata dia.

Dengan terus bertambahnya jumlah SSK ini, Dedi mengatakan, hal tersebut membuktikan soal rumor sekolah swasta tidak mau membantu menampung para murid yang tidak masuk ke sekolah negeri tidak benar.

"Hal ini membuktikan bahwa opini yang menyatakan sekolah swasta tidak bersedia membantu adalah tidak benar. Sistemnya adalah beasiswa perorangan, pemerintah provinsi bertindak sebagai 'orang tua' yang membayarkan biaya sekolah langsung ke pihak sekolah," jelas dia.

2. Pemberian beasiswa akan lebih selektif

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Kendati begitu, Dedi meminta agar Disdik Jabar betul-betul menyeleksi para murid yang akan mendapatkan bantuan tersebut, karena ada beberapa kriteria yang sudah disampaikan, seperti tidak merokok dan juga terlibat tindakan kriminal.

Sementara, jika terdapat murid penerima DSP kemudian melakukan tindakan kirimal setelah masuk ke SSK. Dedi memastikan bantuannya akan dicabut oleh Pemprov Jabar.

"Misalnya dia merokok, disubsidi, enggak cocok. Bayar sendiri aja kalau udah merokok. Dia minum-minuman keras. Oh buat minuman ada, buat bayaran enggak ada, (DSP) cabut," kata dia.

"Karena subsidi ini diberikan kepada mereka yang berperilaku baik," ucapnya.

3. Anggaran SSK sepat dipertanyakan oleh segelintir sekolah swasta

Suasana SPMB SMKN 1 Bandung (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Saat disinggung jumlah pasti berapa murid yang akan dapat bantuan tersebut, Dedi mengatakan angka pastinya akan keluar setelah selesai SPMB tahap dua di Juli mendatang. Namun menurutnya, angka penerima program ini tidak akan jauh berbeda di kisaran 70 hingga 80 ribu murid.

Sementara, Forum Kepala Sekolah SMA Swasta (FKSS) Jawa Barat sebelumnya sempat pertanyakan sumber anggaran program ini. Mereka mendapatkan informasi anggaran untuk SSK ini belum ada di APBD murni 2026.

"Nah, yang jadi pertanyaannya adalah sekarang apakah anggaran untuk SSK ini sudah dianggarkan atau belum? Setahu saya bahwa di dalam APBD murni, berdasarkan informasi dari DPRD Provinsi Jawa Barat, yang dianggarkan itu hanya baru beasiswa siswa miskin dari keluarga ekonomi tidak mampu (KETM)," kata Ketua FKSS SMA Jabar, Ade Hendriana.

Selain itu, masih berdasarkan informasi yang dia terima, bantuan biaya pendidikan sebesar Rp2.700.000,- persiswa pertahun juga tidak akan dibayarkan sepenuhnya pada tahun ini, melainkan dicicil dengan skema dua kali pembayaran.

"Dari Rp2.700.000 itu berdasarkan informasi bahwa ini akan dibayarkan setengahnya dulu, artinya 50% di tahun ini, di tahun 2026, sisanya di tahun berikutnya," katanya.

Ia pun berharap, ditengah ketidak pastian anggaran ini, hal tersebut tidak akan berdampak terhadap pelaksanaan program SKK. Dan Ade berharap, pemerintah tidak mengganggu anggaran beasiswa bagi siswa miskin.

"Tentunya saya berharap nanti jangan sampai anggaran untuk beasiswa yang tidak mampu ini digunakan untuk anggaran SSK. Itu tentunya akan berdampak kepada siswa-siswa atau peserta didik yang nantinya akan menerima beasiswa tersebut," katanya.

"Ya mudah-mudahan nanti saya minta kepada DPRD Provinsi Jawa Barat untuk mengawasi dan mengawal anggaran dari pada untuk SSK ini, jadi terpisah. Ada anggaran untuk SSK dan anggaran untuk beasiswa tetap ada," sambungnya.

Editorial Team

Related Article