Dari Iseng saat Pandemik, Andhika Raup Ribuan Dolar dari Kerja Remote

- Andhika Rahayu memulai karier ilustrasi digital secara iseng saat pandemik COVID-19 dan berhasil menjadikannya sumber penghasilan utama melalui platform freelance internasional.
- Ia menawarkan jasa ilustrasi 2D di berbagai platform dengan konsep mirip marketplace, melayani klien dari Amerika Serikat, Eropa, hingga Australia dengan gaya kartun Barat yang diminati.
- Dengan peningkatan kemampuan dan harga jasa, Andhika kini meraup penghasilan hingga 1.500 dolar per bulan dari kerja remote, melebihi gajinya sebagai ASN.
Bandung, IDN Times - Tren kerja remote makin dilirik, terutama oleh anak muda yang ingin menembus pasar global tanpa harus keluar rumah. Hal itu juga dirasakan Andika Rahayu, ilustrator 2D yang kini rutin mengerjakan proyek dari klien luar negeri dengan penghasilan hingga ribuan dolar per bulan.
Menariknya, perjalanan Andhika di dunia ilustrasi digital tidak dimulai dari pengalaman profesional, melainkan dari rasa iseng saat pandemik COVID-19. Dari yang awalnya hanya coba-coba, kini ia mampu menjadikan skill menggambar sebagai sumber penghasilan utama, bahkan melampaui pekerjaan formalnya.
1. Dari hobi gambar jadi sumber penghasilan

Andhika mulai terjun ke dunia ilustrasi digital pada 2020, saat pandemik COVID-19 membuatnya memilih untuk lebih banyak berada di rumah. Dalam kondisi tersebut, ia tetap membutuhkan pemasukan, sehingga mencoba mencari peluang lewat internet.
“Awalnya itu karena COVID ya, saya nggak mau keluar rumah. Tapi kan butuh penghasilan, akhirnya iseng cari-cari di internet dan ketemu platform freelance,” ujarnya.
Ia kemudian mencoba mendaftar di berbagai platform freelance yang menyediakan pekerjaan remote. Meski awalnya tidak memahami sistemnya, Andika tetap mencoba mengunggah hasil karyanya.
“Awalnya gaktahu apa-apa, asal coba saja. Belakangan baru ngerti dari trial,” katanya.
Berbekal hobi menggambar yang sebelumnya hanya dilakukan secara manual, dia mulai beradaptasi ke dunia digital. Ia mengaku proses tersebut tidak mudah karena harus memahami teknik baru seperti penggunaan layer dan pengolahan gambar digital.
Namun, di luar dugaan usahanya langsung membuahkan hasil. Dalam waktu sekitar tiga hingga empat hari setelah mengunggah karya, ia sudah mendapatkan klien pertama.
“Langsung sih, paling beberapa hari. Bahkan pernah satu hari sampai 22 project, sampai gak tidur,” ungkap Andhika.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa kualitas karyanya di awal masih jauh dari kata sempurna. “Itu jelek banget kalau dibanding sekarang. Cuma mungkin karena harganya murah, jadi tetap ada yang beli,” ujarnya.
2. Jual jasa seperti marketplace, tembus pasar Amerika hingga Eropa

Dalam menjalankan pekerjaannya, Andhika memanfaatkan platform freelance yang memiliki konsep serupa marketplace. Ia mengunggah jasa ilustrasi layaknya produk, lengkap dengan contoh gambar dan kategori layanan.
“Konsepnya kayak Tokopedia. Saya upload ‘produk’, tapi isinya jasa ilustrasi,” tuturnya.
Ia biasanya membagi jasanya ke dalam beberapa kategori, seperti pembuatan background animasi, aset game, hingga ilustrasi dengan gaya tertentu. Salah satu yang cukup diminati adalah ilustrasi dengan gaya kartun khas Barat.
“Misalnya saya tulis, bikin background dengan style kayak Rick and Morty, jadi klien langsung tahu,” katanya.
Fokus utama Andika adalah membuat ilustrasi dua dimensi dalam bentuk statis, terutama untuk kebutuhan background animasi atau game. Ia tidak mengerjakan bagian animasi bergerak, melainkan elemen visual pendukung seperti latar dan objek.
“Kalau animasi kan ada yang bergerak di depan, nah saya yang bikin background-nya,” ujarnya.
Dari sisi pasar, Andhika mengaku sebagian besar kliennya berasal dari luar negeri, terutama Amerika Serikat. Sisanya adalah negara dari Benua Eropa seperti Jerman, Italia, dan ada juga dari Australia. Menurutnya, pasar global memberikan peluang yang jauh lebih besar dibandingkan pasar lokal, baik dari segi permintaan maupun harga.
3. Penghasilan tembus ribuan dolar

Seiring berjalannya waktu, kemampuan Andhika terus berkembang. Hal ini juga berdampak pada peningkatan harga jasa yang ia tawarkan. Dari yang awalnya hanya sekitar USD5 per proyek, kini ia bisa mematok harga sekitar USD50 atau lebih.
Dalam sebulan, ia bisa menghasilkan sekitar USD300–500 secara organik tanpa promosi. Jika menggunakan fitur berbayar di platform, penghasilannya bisa meningkat hingga tiga kali lipat.
“Kalau pakai boost bisa sampai tiga kali lipat, tapi ada potongan sekitar 10 persen,” tuturnya.
Secara keseluruhan, penghasilannya dari freelance bahkan bisa mencapai 1.400 hingga 1.500 dolar per bulan. Angka tersebut lebih besar dibandingkan penghasilannya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), yang kini juga ia jalani. Meski demikian, Andhika tetap memilih menjalani keduanya. Keputusan menjadi ASN didorong oleh faktor keamanan jangka panjang.
“Namanya manusia ya, ada rasa takut. Kepikiran nanti umur 60 tahun bagaimana. Jadi cari yang ada pensiunnya,” ungkapnya.
Ia juga mengakui masih adanya stigma terhadap pekerjaan remote, terutama dari kalangan yang lebih tua. Namun, di sisi lain, banyak anak muda justru tertarik mengikuti jejaknya. “Kalau yang seumuran, malah banyak yang pengen ikut kerja kayak saya,” katanya.
Di tengah tren kerja fleksibel, Andika menilai peluang kerja remote masih sangat terbuka lebar, terutama bagi mereka yang memiliki keterampilan dan konsistensi.
“Yang penting skill sama konsistensi. Bahasa Inggris juga gak harus jago banget, karena kebanyakan komunikasi lewat teks,” tuturnya.


















