Bukan Leptospirosis, Hantavirus Kini Mulai Diwaspadai di Cirebon

- Pemerintah Kabupaten Cirebon meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus setelah menerima surat dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, meski belum ada kasus ditemukan di wilayah tersebut.
- Hantavirus ditularkan dari tikus melalui udara yang terkontaminasi partikel virus dan dapat menyebabkan gejala demam tinggi hingga gangguan ginjal dengan tingkat kematian bervariasi 1–50 persen.
- Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, membersihkan kemasan makanan atau minuman, serta segera memeriksakan diri bila mengalami demam tinggi berkepanjangan.
Cirebon, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Cirebon mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran hantavirus setelah muncul laporan kasus di sejumlah daerah di Indonesia. Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon kini menyiapkan langkah antisipasi melalui edaran resmi hingga edukasi kesehatan kepada masyarakat dan fasilitas layanan kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih mengatakan kewaspadaan dini sebenarnya telah dilakukan sejak tahun lalu. Namun, pekan ini pihaknya kembali menerima surat kewaspadaan dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menyusul ditemukannya kasus hantavirus di wilayah Indonesia.
“Surat kewaspadaan dini sebenarnya sudah pernah keluar pada 2025. Tapi minggu ini kami kembali menerima surat dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat karena di Indonesia sudah ada kasus yang ditemukan di Jogja dan Semarang,” kata Mona, Selasa (12/5/2026).
Menurut Mona, Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon langsung menindaklanjuti instruksi tersebut dengan menyiapkan surat edaran untuk seluruh rumah sakit dan puskesmas di wilayah Kabupaten Cirebon. Selain itu, promosi kesehatan mengenai hantavirus mulai digencarkan melalui media sosial dan kanal komunikasi milik puskesmas.
“Secara lisan kewaspadaan sudah kami sampaikan ke kepala puskesmas. Banyak puskesmas juga sudah mulai membuat edukasi tentang hantavirus melalui media
1. Belum ada kasus di Kabupaten Cirebon

Mona memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus hantavirus di Kabupaten Cirebon. Meski begitu, kewaspadaan tetap dilakukan mengingat virus tersebut telah masuk ke Indonesia dan memiliki tingkat kematian cukup tinggi pada kasus tertentu.
“Belum pernah ada kasus di Kabupaten Cirebon,” kata dia.
Ia menjelaskan hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan curut. Virus itu berbeda dengan leptospirosis meski sama-sama berkaitan dengan hewan pengerat.
Jika leptospirosis disebabkan bakteri yang masuk melalui luka atau selaput lendir, hantavirus menular melalui udara yang terkontaminasi partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur tikus.
“Kalau hantavirus itu penularannya bisa melalui debu atau partikel udara yang mengandung virus dari hewan pembawa,” ujar Mona.
Ia menegaskan, berdasarkan pedoman yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, hantavirus hingga kini belum terbukti menular dari manusia ke manusia.
2. Gejala dan risiko kematian

Mona menjelaskan gejala awal hantavirus umumnya berupa demam tinggi selama tiga hingga enam hari dengan suhu tubuh mencapai 39 derajat Celsius. Penderita juga dapat mengalami mata merah, nyeri pada bola mata, kehilangan nafsu makan, hingga tekanan darah menurun.
Pada kondisi berat, virus dapat menyerang ginjal dan menyebabkan produksi urine menurun drastis. “Komplikasinya bisa sampai ke ginjal. Produksi urine di dalam ginjal itu bisa berkurang jauh,” kata dia.
Ia menyebut tingkat fatalitas hantavirus bervariasi tergantung jenis virus yang menyerang. Berdasarkan referensi yang dipelajari Dinas Kesehatan, angka kematian penyakit tersebut bisa mencapai 1 hingga 50 persen.
“Kalau secara teori, tingkat kematian hantavirus memang lebih tinggi dibanding leptospirosis berat,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, leptospirosis berat umumnya memiliki tingkat kematian sekitar 5 hingga 15 persen.
3. Mewaspadai keberadaan tikus

Dinas Kesehatan Kabupaten Cirebon mengimbau masyarakat menjaga kebersihan rumah dan lingkungan guna mencegah berkembangnya tikus sebagai pembawa virus. Masyarakat juga diminta lebih berhati-hati terhadap makanan dan minuman kemasan yang berpotensi terkontaminasi urine tikus, terutama pada bagian atas kaleng atau botol.
“Kadang kita tidak tahu bagian atas kemasan itu dilalui tikus atau terkena kencing tikus. Jadi sebaiknya dibersihkan dulu sebelum diminum,” kata Mona.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi berkepanjangan disertai gangguan pada ginjal atau penurunan produksi urine.
Menurut Mona, kewaspadaan penting dilakukan karena masa inkubasi hantavirus cukup panjang. Gejala penyakit bisa muncul satu hingga tiga minggu setelah terpapar, bahkan dalam beberapa laporan kasus dapat mencapai delapan minggu.



















