Ilustrasi Hujan (IDN Times/Sunariyah)
BMKG Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung pun meminta agar pemerintah daerah di Bandung Raya meningkatkan kewaspadaan dampak dari cuaca ekstrem yang saat ini terjadi.
"Oleh karena itu, masyarakat dan para pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang berpotensi mengikuti," kata Suaidi.
Berdasarkan catatan IDN Times, hujan mulai dirasakan warga di wilayah Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung dari 20-30 September 2026. Di 1 Oktober pukul 13:56 WIB, cuaca Kota Bandung terpantau mendung tanpa hujan.
Sebelumnya, BMKG memprediksi puncak musim kemarau disertai fenomena El Nino terjadi pada awal September hingga Oktober 2026. BMKG memprakirakan hujan baru akan mulai turun secara bertahap pada bulan November mendatang.
Suaidi mengatakan, fenomena El Nino tahun ini memiliki intensitas yang sangat kuat, menyerupai kejadian pada tahun 1997 dan 1998 silam.
"Tingkat puncaknya (kemarau) ini di awal September dan Oktober nanti. Ini posisi di mana kering-keringnya. Selanjutnya, insyaallah hasil prediksi BMKG pada bulan November kita sudah mulai turun hujan sedikit demi sedikit," ujar Suaidi di Kantor Stasiun Geofisika Bandung pada Kamis (27/8/2026).
BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung mencatat, dampak dari kekeringan ini sudah sangat dirasakan di berbagai wilayah Jawa Barat. Berdasarkan pantauan langsung ke sejumlah daerah seperti Kabupaten Bogor, Garut, Sukabumi, dan Bekasi.
Terkait kondisi ini, Suaidi mengimbau pemerintah daerah untuk terus memperhatikan cadangan air bersih. Selain itu, dia juga memberikan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak membakar lahan pertanian.
"Untuk masyarakat, dimohon untuk tidak membakar lahan pertanian sehingga tidak memperparah kabut asap yang ada di Indonesia saat ini. Kemarin saya melihat di dekat Tol Cisumdawu juga ada jejak-jejak pembakaran lahan. Jadi mohon hal itu tidak dilakukan," kata dia.