Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Walhi Jabar Ungkap Tiga Dampak Lingkungan Data Center AI di Jatiluhur

Kota Bandung
3 min read
Walhi Jabar Ungkap Tiga Dampak Lingkungan Data Center AI di Jatiluhur
Waduk Jatiluhur. (dok. Perum Jasa Tirta II)
  • WALHI Jabar meminta pemerintah mengkaji kebutuhan air proyek data center AI BDx di Jatiluhur, yang berpotensi mencapai jutaan liter per hari dan mengganggu akses warga.

  • Konsumsi listrik data center berkapasitas 80–100 megawatt, penggunaan genset, serta cooling tower 24 jam dinilai perlu dikaji karena berisiko menambah emisi dan suhu lingkungan.

  • WALHI menyoroti pengelolaan limbah B3, baterai, oli, server, serta infrastruktur pendukung; penghentian konstruksi dinilai tepat hingga AMDAL dan RKL-RPL terbit.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Proyek pembangunan pusat data berbasis artificial intelligence (AI) milik BDx di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, berpotensi berdampak buruk terhadap ekologis. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Barat mencatat ada tiga hal yang harus dikaji oleh pemerintah mengenai proyek tersebut.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Jawa Barat, Wahyudin mengatakan, salah satu persoalan yang harus dikaji adalah kebutuhan air untuk operasional data center. Sebab pengoperasian data center memerlukan penggunaan air dalam jumlah besar.

"Kalau misalnya (kebutuhan air) terpenuhi, apa dampak negatif kemudian yang akan muncul, baik terhadap Jatiluhurnya atau kondisi lingkungan di Jatiluhur maupun kondisi masyarakat yang selama ini memanfaatkan air di Jatiluhur itu sendiri," kata Wahyudin," Rabu (30/9/2026).

  1. 1. Warga berpotensi kesulitan air

    Potret Waduk Jatiluhur, Purwakarta
    Potret Waduk Jatiluhur, Purwakarta (commons.wikimedia.org/Ocyid)

    Menurut dia, kebutuhan air untuk data center AI bahkan berpotensi mencapai jutaan liter setiap harinya. Sehingga, Wahyudin meminta agar pemerintah baik Pemprov Jabar dan Pemkab Purwakarta bisa mengkaji hal tersebut.

    "Kalau misalnya pembangunan itu berada di wilayah banyak permukiman, itu berpotensi air yang selama ini dimanfaatkan warga berpotensi akan habis. Data center ini akan menggunakan jutaan air dalam setiap harinya," kata dia.

    Dia juga mendorong, pemerintah bisa menjelaskan sumber air yang akan digunakan serta memastikan kebutuhan proyek tidak mengurangi akses masyarakat.

    "Apakah data center ini akan terpenuhi dengan misal air yang ada di Jatiluhur atau tidak," katanya.

  2. 2. Kebutuhan listrik juga harus diperhatikan

    pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu (instagram.com/fitriasusongko)
    pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu (instagram.com/fitriasusongko)

    Persoalan kedua adalah kebutuhan energi. Wahyudin menyebut data center AI membutuhkan konsumsi listrik yang besar. Pemerintah juga harus mempertimbangkan dengan matang mengenai dampak dari penggunaan energi yang besar tersebut.

    "Pertama dibangunnya data center ini tentu akan membutuhkan listrik yang boros. Satu data center AI itu kalau ukurannya 80 sampai 100 megawatt," ucapnya.

    Adapun besarnya kebutuhan listrik tersebut membuat sumber energi yang digunakan menjadi bagian penting dalam kajian lingkungan. Wahyudin menyoroti potensi peningkatan emisi karbon apabila kebutuhan listrik dipenuhi pembangkit berbahan bakar fosil.

    "Kalau menggunakan PLTU juga akan meningkatkan emisi karbon yang cukup drastis," katanya.

    Menurut Wahyudin, penggunaan genset dan cooling tower yang beroperasi selama 24 jam juga perlu diperhitungkan terhadap kondisi lingkungan sekitar.

    "Konteks ketiganya ini juga akan memunculkan dampak negatif terhadap suhu, baik itu dari genset kalau dia menggunakan genset maupun dari cooling tower yang beroperasi 24 jam," ujarnya.

  3. 3. Proyek tersebut perlu dikaji lebih mendalam

    Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Jatiluhur I. (Dok. Kementerian PUPR)
    Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Jatiluhur I. (Dok. Kementerian PUPR)

    Persoalan berikutnya adalah limbah dan pembangunan infrastruktur pendukung. Wahyudin mengatakan, operasional data center dapat menghasilkan baterai, oli genset hingga limbah server yang membutuhkan pengelolaan khusus.

    "Di konteks kegiatan ini akan memunculkan jenis baterai, kemudian juga bahan B3 lainnya seperti oli genset, waste server. Itu pun juga seperti apa pengelolaannya, kami perlu tahu," katanya.

    Dia menilai, pengelolaan material tersebut harus dipastikan sejak awal agar tidak menimbulkan persoalan lingkungan di kemudian hari. Selain limbah, pembangunan data center juga membutuhkan berbagai infrastruktur pendukung seperti gardu, akses kendaraan material, jaringan fiber optik hingga tower.

    "Apakah memenuhi daya tampung dan daya dukung lingkungan yang ada di situ dengan pembangunan yang cukup besar atau tidak. Ini perlu dikaji," ujarnya.

    Mengenai Pemprov Jabar yang memutuskan untuk menghentikan sementara konstruksi proyek karena Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan dokumen lingkungan belum terbit, Wahyudin menilai langkah tersebut tepat.

    "Sudah tepat kalau kondisi saat ini dihentikan sementara ketika dokumen lingkungannya belum tepat," katanya.

    Dia menegaskan setiap pembangunan harus memenuhi dokumen lingkungan terlebih dahulu, termasuk AMDAL dan RKL-RPL.

    "PSN atau bukan PSN, mereka harus wajib menyelesaikan dulu dokumen lingkungannya, baik itu AMDAL maupun RKL-RPL-nya," ujar Wahyudin.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More