Farhan Sebut Program yang Paling Berisiko Gagal di Bandung adalah Sampah

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pengelolaan sampah sebagai program paling berisiko gagal hingga akhir masa jabatannya.
Pemkot Bandung telah menambah fasilitas, teknologi pengolahan, dan program pemilahan, tetapi Farhan menilai hambatan utamanya adalah perilaku warga dalam mengelola sampah dari sumber.
Bandung masih bergantung tinggi pada TPA Sarimukti dan berpotensi menghadapi krisis kembali jika pengurangan sampah serta kesadaran masyarakat tidak berjalan optimal.
Bandung, IDN Times - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui persoalan sampah masih menjadi tantangan terbesar pemerintahannya. Bahkan, dari seluruh program yang sedang dijalankan, ia menyebut pengelolaan sampah sebagai agenda yang paling berisiko gagal hingga akhir masa jabatannya.
Dalam wawancara khusus bersama IDN Times di Pendopo, Senin(28/9/2026), Farhan mengakui persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah terbesar yang dihadapi Pemerintah Kota Bandung. Bahkan, dari seluruh program strategis yang sedang dijalankan, mulai dari pembangunan Bus Rapid Transit (BRT), penataan kota, hingga pengembangan Bandara Husein Sastranegara, Farhan menilai isu sampah menjadi agenda yang paling berisiko gagal.
Ketika ditanya program apa yang paling berisiko gagal hingga akhir masa jabatannya, Farhan menjawab singkat.
"Sampah," ucapnya.
Jawaban tersebut muncul tanpa penjelasan panjang. Namun setelah itu, Farhan mengungkapkan alasan mengapa persoalan sampah masih menjadi tantangan paling berat yang dihadapi pemerintah kota. Menurut dia, berbagai upaya pengelolaan sampah yang dilakukan selama ini belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan utama, yakni perubahan perilaku masyarakat.
"Sampai hari ini saya belum berhasil mengubah perilaku kita terhadap sampah," kata Farhan.
1. Teknologi bertambah, perilaku belum banyak berubah

(Dok.Humas Pemkot Bandung) Menurut Farhan, Pemerintah Kota Bandung telah melakukan berbagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Berbagai fasilitas pengolahan sampah dibangun, teknologi pengolahan ditambah, serta program pemilahan sampah terus diperluas.
Meski demikian, ia menilai tantangan terbesar bukan berada pada teknologi ataupun infrastruktur pengelolaan sampah.
Persoalan utama justru terletak pada kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Farhan menilai sebagian besar warga masih menganggap urusan sampah selesai ketika sampah sudah dibuang dari rumah dan iuran kebersihan telah dibayarkan. Padahal, menurutnya, perubahan perilaku menjadi faktor penting apabila Bandung ingin mengurangi ketergantungan terhadap TPA secara signifikan.
2. Bandung masih dibayangi ancaman krisis sampah

Wali Kota Bandung M Farhan (Dok.Humas Kota Bandung) Dalam wawancara tersebut, Farhan juga menegaskan bahwa Bandung memang tidak lagi berada dalam kondisi krisis seperti saat pembatasan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti beberapa tahun lalu. Namun ancaman serupa masih bisa kembali terjadi apabila pengurangan sampah dari sumber tidak berjalan optimal.
Menurut dia, ketergantungan Kota Bandung terhadap TPA masih cukup tinggi. Sementara timbulan sampah harian yang dihasilkan warga tetap berada pada level yang besar. Karena itu, penguatan sistem pengolahan sampah di dalam kota harus berjalan bersamaan dengan upaya membangun kesadaran masyarakat.
Farhan mengakui persoalan ini tidak mudah diselesaikan dalam waktu singkat karena berkaitan dengan kebiasaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
3. Jadi isu yang paling dikhawatirkan

Sampah (Dok Humas Pemkot Bandung) Pernyataan Farhan cukup menarik karena muncul di tengah berbagai agenda besar yang sedang dikerjakan Pemerintah Kota Bandung. Saat ini pemerintah tengah mendorong pembangunan BRT Bandung Raya, penataan 17 koridor utama kota, pengembangan kawasan heritage, hingga upaya menghidupkan kembali aktivitas Bandara Husein Sastranegara.
Namun dari seluruh agenda tersebut, Farhan justru memilih sampah sebagai isu yang paling dikhawatirkan. Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa persoalan sampah masih menjadi tantangan utama yang membayangi Kota Bandung menjelang dua tahun kepemimpinan Farhan-Erwin.
Jika berbagai proyek infrastruktur dapat diselesaikan melalui kebijakan dan anggaran, maka persoalan sampah, menurut Farhan, membutuhkan sesuatu yang lebih sulit untuk diwujudkan: perubahan perilaku masyarakat.

![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





![[WANSUS] Wali Kota Bandung, Farhan: Saya dan Erwin Ini "Kawin Paksa"](https://image.idntimes.com/post/20260930/1623741138_477ac10e-1910-46dc-8b2c-56c73a762fc7.jpg)



![[WANSUS] Walkot Farhan: Apakah Sampah Masih Jadi Krisis di Kota Bandung?](https://image.idntimes.com/post/20260930/whatsapp-image-2026-09-30-at-11_4d429f7a-cdb4-4706-a75f-56214f474a67.jpeg)

![[WANSUS] 19 Bulan Farhan Memimpin Bandung: Kota Ini Bergerak, Tapi Belum Selesai](https://image.idntimes.com/post/20260930/1790593077728_bc60df4a-b7e8-46e3-b9b2-8020f84c4b29.jpg)




