Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Banjir Bandang di Cirebon, Warga Tunggu Tanggung Jawab Pemerintah

Banjir Bandang di Cirebon, Warga Tunggu Tanggung Jawab Pemerintah
Desa Palir di Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon pascabanjir bandang
Share Article

Cirebon, IDN Times - Warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menuntut pemerintah segera bertindak dan bertanggung jawab atas kerusakan akibat bencana tersebut.

Warga menilai, lambatnya penanganan yang dilakukan oleh pihak berwenang dinilai menjadi indikasi kurangnya kesiapan pemerintah dalam menghadapi bencana.

1. Harta benda hilang dalam sekejap

Kondisi Sungai Cipager di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pascabanjir bandang
Kondisi Sungai Cipager di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pascabanjir bandang

Salah satu warga terdampak, Edi (55 tahun) mengungkapkan kesedihannya setelah rumah serta warung bakso miliknya rusak tersapu banjir bandang.

"Barang-barang habis, bahkan surat-surat penting ikut hanyut. Kami tidak tahu harus memulai dari mana,” kata Edi warga Desa Palir Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, Senin (20/1/2025).

Hal serupa disampaikan oleh Slamet Riyadi (52), seorang petani yang sawahnya hancur akibat terjangan banjir. Slamet mengatakan, tidak hanya kehilangan hasil tanam yang seharusnya dipanen pekan depan, ia juga kehilangan seluruh modal yang telah ia investasikan.

Warga menilai, pemerintah setempat kurang sigap dalam menangani dampak bencana ini. Hingga kini, warga terdampak masih melakukan proses pembersihan rumah dari lumpur dan mencari harta yang hilang terseret air.

2. Pemerintah mengaku kecolongan

Pascabanjir bandang di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat
Pascabanjir bandang di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat

Penjabat Bupati Cirebon Wahyu Mijaya mengakui upaya penanganan masih jauh dari sempurna. Ia menyebutkan, pemerintah telah mengirimkan tim ke lokasi terdampak untuk membantu evakuasi dan mendistribusikan bantuan.

"Banjir datang tiba-tiba. Kami mengantisipasi di wilayah timur, tetapi ternyata di sini (Sungai Cipager) yang diterjang banjir," katanya.

Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, bersama personel TNI dan Polri, masih bergerak cepat melakukan evakuasi. Prioritas utama dalam evakuasi diberikan kepada kelompok rentan seperti lanjut usia dan anak-anak balita, untuk memastikan keselamatan mereka.

"Hingga saat ini, proses evakuasi dan pendataan terus berlangsung," ujar Wahyu.

3. Banjir datang tidak terprediksi

Sungai Cipager di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pascabanjir bandang
Sungai Cipager di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat pascabanjir bandang

Hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Sungai Cipager di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Jumat (17/1/2025) malam menjadi pemicu terjadinya banjir bandang. Curah hujan yang sangat tinggi ini menyebabkan debit air sungai meningkat secara drastis dalam waktu singkat.

Akibatnya, tanggul sungai tidak mampu menahan tekanan air dan akhirnya jebol, membuat air meluap ke permukiman penduduk. Peristiwa ini menimbulkan dampak besar, terutama bagi warga di lima kecamatan yang terdampak langsung oleh banjir tersebut.

Banjir bandang yang terjadi secara tiba-tiba ini mengejutkan banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka. Ribuan rumah di sepanjang aliran Sungai Cipager tergenang air, merusak perabotan, alat elektronik, hingga dokumen penting milik warga.

Selain itu, derasnya arus air menyeret beberapa kendaraan, termasuk tiga unit mobil. Dua di antaranya ditemukan tersangkut di aliran sungai sekitar Desa Palir, Kecamatan Tengahtani, dengan kondisi rusak berat.

Sebanyak 2.403 warga dilaporkan terdampak langsung oleh banjir ini. Banyak dari mereka terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman karena rumah mereka tidak lagi layak huni.

Selain itu, keberadaan puing-puing yang terbawa arus turut menghambat proses evakuasi. Namun, berkat kerja sama yang solid, banyak warga berhasil diselamatkan dan dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

Beberapa sekolah di wilayah terdampak bahkan harus menunda kegiatan belajar mengajar karena ruang kelas terendam air dan fasilitas penunjang rusak.

Di sisi lain, masyarakat setempat masih bergotong royong untuk membersihkan sisa-sisa banjir di lingkungan mereka. Lumpur tebal dan puing-puing yang terbawa arus menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembersihan.

Share Article
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana

Latest News Jawa Barat

See More

Minat Warga Pakai KRL Bandung Raya untuk Bepergian Naik pada Liburan

01 Jun 2026, 19:04 WIBNews