Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Badan Geologi: Erupsi Anak Krakatau Selesai, tapi Statusnya Siaga
Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • Badan Geologi menyatakan erupsi menerus Anak Krakatau berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB, kembali menjadi letusan Strombolian singkat dengan amplitudo terbatas.
  • Pemantauan mencatat delapan letusan kecil berdurasi 10–15 detik pada 8 September; material dan abu terkonsentrasi di sekitar lereng serta kawah.
  • Potensi tsunami dinyatakan nihil, bandara kembali beroperasi, tetapi status Anak Krakatau tetap Level III Siaga dengan larangan aktivitas dalam radius 3 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Desember 2018 silam

Erupsi katastropik memicu tsunami setelah sebagian besar dinding tubuh gunung runtuh ke palung laut.

Rabu, 4 September

Fase erupsi menerus Gunung Anak Krakatau mulai berlangsung.

5 September

Penurunan getaran seismik mulai terekam secara konsisten. Aktivitas vulkanik mulai melandai.

Jumat, 6 September dini hari tepat pukul 00.04 WIB

Fase erupsi menerus resmi mereda.

8 September

Pemantauan merekam delapan letusan kecil berdurasi 10 hingga 15 detik. Material dan abu terkonsentrasi di sekitar lereng serta tubuh kawah.

kini

Aktivitas kembali ke fase Strombolian berdurasi singkat, tetapi status Gunung Anak Krakatau tetap Level III (Siaga). Operasional bandara dan aktivitas melaut kembali normal dengan imbauan kewaspadaan terhadap abu tipis.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Fase erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir dan aktivitasnya kembali menjadi letusan Strombolian singkat, namun statusnya tetap Level III atau Siaga.
  • Who?
    Badan Geologi Kementerian ESDM, dipimpin Kepala Badan Geologi Lana Saria, memantau Gunung Anak Krakatau; BMKG dan Kementerian Perhubungan turut terkait dalam pemantauan serta operasional penerbangan.
  • Where?
    Gunung Anak Krakatau berada di Selat Sunda. Material letusan dan abu terpantau terkonsentrasi di sekitar lereng serta tubuh kawah.
  • When?
    Fase erupsi menerus mereda pada 6 September pukul 00.04 WIB. Pengamatan mutakhir dilakukan per 8 September 2026 di Bandung.
  • Why?
    Status Siaga dipertahankan karena instrumen masih merekam getaran vulkanik berskala rendah akibat pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung api.
  • How?
    Pemantauan seismik mencatat penurunan getaran sejak 5 September dan delapan letusan kecil berdurasi 10–15 detik. Warga dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gunung Anak Krakatau sudah tidak meletus terus-menerus sejak 6 September. Sekarang letusannya kecil dan sebentar saja. Badan Geologi bilang belum ada tanda tsunami. Bandara sudah dibuka lagi dan nelayan boleh melaut. Tapi gunung masih status Siaga. Orang tidak boleh dekat kawah sampai 3 kilometer.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meredanya erupsi menerus Anak Krakatau, yang tercermin dalam penurunan getaran seismik dan letusan kecil yang terpusat di sekitar kawah, membuka ruang bagi pemulihan aktivitas di Selat Sunda. Tidak ditemukannya indikasi longsoran pemicu tsunami serta kembali dibukanya bandara dan aktivitas nelayan menunjukkan pemantauan berbasis data berjalan selaras dengan kondisi yang membaik, sembari kewaspadaan tetap dijaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan, fase erupsi Gunung Berapi Anak Krakatau di Selat Sunda telah resmi berakhir. Aktivitas vulkanik kini telah kembali ke karakter aslinya yaitu fase erupsi Strombolian dengan durasi dan amplitudo letusan yang relatif pendek.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, fase erupsi menerus yang sempat berlangsung sejak Rabu, 4 September, telah mereda pada Jumat, 6 September dini hari tepat pukul 00.04 WIB. Saat ini, perilaku Gunung Anak Krakatau kembali pada karakter aslinya letusan Strombolian berdurasi singkat.

"Sekarang sudah kembali kepada fase sesuai karakter Gunung Anak Krakatau, yaitu fase Strombolian. Erupsi terjadi dengan amplitudo yang tidak terlalu luas, tidak terlalu panjang, dan durasi letusannya hanya beberapa detik," kata Lana di Kantor Badan Geologi, Bandung, Selasa (8/9/2026).

1. Ada delapan kali letusan kecil dengan durasi 10 hingga 15 detik

Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Kondisi ini juga diketahui berdasarkan pemantauan seismik pos pengamatan gunung api, penurunan getaran seismik telah terekam secara konsisten sejak 5 September.

Kendati demikian, Lana menegaskan, instrumen pencatat masih merekam getaran vulkanik berskala rendah yang disebabkan pergerakan fluida magma di dalam tubuh gunung api.

"Berdasarkan pengamatan mutakhir per 8 September, terekam delapan kali letusan kecil dengan durasi berkisar antara 10 hingga 15 detik. Sebaran material letusan dan abu vulkanik terpantau hanya terkonsentrasi di sekitar lereng dan tubuh kawah," ucap dia.

2. Potensi tsunami sangat kecil

Kepala Badan Geologi, Lana Saria. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Mengenai, ancaman gelombang laut, Lana menegaskan, kondisi saat ini jauh berbeda dengan peristiwa erupsi katastropik pada Desember 2018 silam. Saat itu, tsunami dipicu oleh runtuhnya sebagian besar dinding tubuh gunung ke dalam palung laut.

"Sementara saat ini, analisis data deformasi menunjukkan tidak adanya pergeseran dinding kawah yang berpotensi memicu longsoran lereng ke perairan," kata dia.

Morfologi lereng, kata dia, saat ini tergolong dangkal, dan kesimpulan nihil potensi tsunami ini juga dikonfirmasi melalui sinkronisasi data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang tidak mencatat anomali muka air laut di sepanjang Selat Sunda.

3. Aktivitas nelayan bisa normal dengan catatan menggunakan masker dan kacamata

Anak Gunung Krakatau (Instagram.com/dailyoverview)

Di sisi lain, membaiknya kondisi atmosfer usai minimnya sebaran kolom abu juga berimbas positif pada sektor penerbangan sipil. Seluruh Notice to Airmen (NOTAM) keselamatan penerbangan telah berstatus hijau/biru, sehingga Kementerian Perhubungan telah resmi membuka kembali operasional sejumlah bandara yang sempat terdampak sebaran abu.

"Sementara bagi nelayan di pesisir Selat Sunda, aktivitas melaut telah dapat kembali berjalan normal dengan imbauan tetap mengenakan pelindung mata dan masker untuk mengantisipasi paparan abu tipis," kata Lana.

Lana menegaskan, Badan Geologi belum menurunkan tingkat kewaspadaan. Artinya, status Gunung Anak Krakatau masih dipertahankan pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi larangan beraktivitas dalam radius aman 3 kilometer dari pusat kawah aktif.

"Meskipun aktivitas vulkanik mulai melandai sejak 5 September. Status tetap Siaga (Level III) dengan radius aman 3 kilometer," ucap dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article