Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Abu Vulkanik Bergeser, Cirebon Siapkan Antisipasi Perubahan Angin
ilustrasi erupsi gunung api (unsplash.com/ Soliman Cifuentes)
  • Sebaran abu Gunung Anak Krakatau pada 9 September 2026 bergerak menjauhi Cirebon, sehingga potensi paparan mereda, namun BPBD tetap memantau erupsi dan arah angin bersama BMKG serta PVMBG.
  • BPBD menyiagakan personel dan menyiapkan mitigasi jika abu kembali menuju Cirebon, termasuk imbauan memakai masker, mengurangi aktivitas luar ruang, menutup rumah, serta mengamankan air dan makanan.
  • Skenario evakuasi terbatas disiapkan bila arah angin berubah mendadak. Warga diminta tidak panik dan hanya mengikuti informasi perkembangan erupsi serta sebaran abu dari saluran resmi pemerintah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Cirebon, IDN Times - Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dilaporkan bergerak menjauhi wilayah Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Rabu (9/9/2026). Kondisi itu membuat potensi paparan abu vulkanik di wilayah Cirebon dan sekitarnya saat ini relatif mereda.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon tetap mempertahankan kesiapsiagaan meski arah pergerakan material vulkanik tidak lagi mengarah ke kawasan tersebut. Pemantauan terhadap aktivitas erupsi dan perubahan arah angin terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kondisi.

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda mengatakan pemantauan dilakukan secara berkala dengan melibatkan sejumlah instansi terkait. BPBD berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Pemantauan ketat dijalankan melalui koordinasi intensif bersama BMKG serta PVMBG," kata Syamsul, Rabu (9/9/2026).

1. Abu vulkanik terbawa angin

Ilustrasi erupsi gunung (thoughtco.com)

Sebelumnya, peningkatan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau menyebabkan material abu vulkanik membumbung dan terbawa angin ke sejumlah wilayah. Sebarannya mencapai kawasan Banten dan DKI Jakarta hingga sebagian wilayah Jawa Barat.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan abu vulkanik mencapai wilayah permukiman. BPBD Kabupaten Cirebon kemudian menyiagakan personel sebagai bagian dari langkah antisipasi.

Pergerakan abu vulkanik sangat berkaitan dengan kondisi angin. Karena itu, perubahan arah angin menjadi salah satu hal yang terus dipantau BPBD untuk menentukan langkah penanganan apabila situasi kembali berubah.

Syamsul mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi apabila abu vulkanik kembali bergerak menuju Cirebon.

2. Warga diminta siapkan masker

ilustrasi erupsi Gunung Merapi (pexels.com/Luis D. Alvarez)

BPBD mengimbau masyarakat menggunakan masker medis ketika berada di luar ruangan. Warga juga diminta mengurangi aktivitas di ruang terbuka apabila kondisi memungkinkan terjadinya paparan abu.

Untuk lingkungan rumah, masyarakat disarankan menutup pintu dan jendela. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi kemungkinan debu halus masuk ke dalam hunian.

Selain perlindungan diri, warga diminta memperhatikan penyimpanan air bersih dan bahan makanan. Penampungan air serta persediaan makanan perlu diamankan agar tidak terkena debu vulkanik.

"Langkah mitigasi tersebut disiapkan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan perubahan kondisi, bukan karena BPBD menyatakan Cirebon sedang terdampak abu vulkanik," kata Syamsul.

3. Evakuasi terbatas disiapkan

Ilustrasi erupsi gunung berapi (unsplash.com/@piermanuele_sberni)

BPBD Kabupaten Cirebon juga menyiapkan skenario evakuasi terbatas apabila terjadi perubahan arah angin secara tiba-tiba dan abu vulkanik kembali bergerak menuju wilayah Cirebon.

"Kami juga memegang skenario evakuasi terbatas jika dalam kurun waktu mendatang terjadi perubahan arah angin mendadak yang membawa abu vulkanik kembali ke Cirebon," ujar Syamsul.

Di tengah perkembangan situasi, BPBD meminta masyarakat tidak panik. Warga juga diminta tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang sumbernya tidak jelas.

Menurut Syamsul, informasi mengenai perkembangan erupsi dan potensi sebaran abu sebaiknya diperoleh dari saluran resmi pemerintah. Masyarakat diminta memeriksa informasi sebelum membagikannya melalui media sosial ataupun aplikasi pesan singkat.

"Masyarakat diharapkan bertindak bijak. Saring seluruh data sebelum membagikannya, dan pastikan referensi informasi hanya berasal dari saluran resmi pemerintah," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article