81 Tahun Merdeka, Mengapa Senyum Masih Jadi Kemewahan di Pelosok Jabar?. Dok Istimewa
Pesan mengenai ketimpangan akses kesehatan gigi tidak berhenti pada pemutaran film. Penayangan perdana Negeri Susah Senyum juga mengajak finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 untuk melihat langsung persoalan yang diangkat dalam film. Para finalis kemudian berdiskusi dengan sejumlah narasumber yang terlibat dalam proses produksi maupun kegiatan pelayanan kesehatan di Kasepuhan Ciptagelar.
Salah satu finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengatakan gambaran dalam film terasa dekat dengan kehidupan masyarakat di daerahnya. Sebagai putri daerah yang tumbuh di kawasan pesisir Sukabumi, Djemima melihat persoalan akses dan edukasi kesehatan masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah. Menurutnya, film tersebut menunjukkan realitas yang terjadi di lapangan sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk ikut menyuarakan pentingnya kesehatan gigi dan mulut.
Founder dan CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, mengatakan film tersebut memang dibuat untuk membuka mata masyarakat mengenai belum meratanya akses kesehatan gigi di Indonesia.
“Pemutaran film dokumenter Negeri Susah Senyum baru pertama kali dilakukan. Kami akan menggiatkan pemutaran film ini karena ada misi sosial, yaitu menyebarkan senyum ke semua orang,” ujar Ita.
Bagi Ita, persoalan yang diangkat film ini bukan hanya tentang gigi berlubang atau jauhnya fasilitas kesehatan. Ada jarak yang lebih besar antara masyarakat pelosok dengan dokter gigi, pengetahuan medis dengan mitos, serta pola hidup tradisional dengan perubahan konsumsi.
Di usia Indonesia yang ke-81 tahun, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga berarti memastikan layanan kesehatan dasar dapat dijangkau semua lapisan masyarakat. Sebab, senyum seharusnya bukan kemewahan.