Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
81 Tahun Merdeka, Kenapa Senyum Masih Jadi Kemewahan di Pelosok Jabar?
81 Tahun Merdeka, Mengapa Senyum Masih Jadi Kemewahan di Pelosok Jabar?. Dok Istimewa
  • Dokumenter Negeri Susah Senyum menyoroti ketimpangan akses kesehatan gigi di Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, yang dipengaruhi jarak fasilitas, minim tenaga medis, dan stigma dokter gigi.
  • Anak-anak Ciptagelar banyak mengalami karies berat pada gigi susu, berbeda dengan generasi sepuh yang giginya lebih kuat karena pola makan alami dan rendah gula.
  • Warga dapat menempuh perjalanan darat hingga empat jam ke Pelabuhanratu untuk layanan lengkap; film ini mendorong edukasi kesehatan gigi dan penyebaran akses yang lebih merata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, akses layanan kesehatan dasar ternyata belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Salah satunya kesehatan gigi dan mulut yang masih menjadi persoalan bagi masyarakat di pelosok Jawa Barat.

Jarak menuju fasilitas kesehatan, keterbatasan tenaga medis hingga stigma terhadap dokter gigi membuat sakit gigi tak sekadar persoalan medis. Gambaran itu terekam dalam film dokumenter Negeri Susah Senyum yang mengangkat kondisi kesehatan masyarakat di Kasepuhan Ciptagelar, Kabupaten Sukabumi.

1. Gigi anak-anak di Ciptagelar justru lebih bermasalah

Kampung Adat Ciptagelar (bappeda.jabarprov.go.id)

Film produksi Anatman Pictures tersebut mengikuti perjalanan sejumlah dokter gigi saat melakukan riset sekaligus memberikan pelayanan kesehatan dasar di Kasepuhan Ciptagelar.

Drg. Ahmad Syahrul Mubarok dari FDC Dental Clinic, salah satu dokter yang terlibat, menemukan kondisi yang cukup kontras. Generasi sepuh di kawasan tersebut justru memiliki kondisi gigi yang relatif lebih baik dibandingkan anak-anak.

“Generasi sepuh di Ciptagelar memiliki gigi yang jauh lebih kuat karena asupan makanan yang natural dan rendah gula. Keluhan utama mereka rata-rata hanyalah atrisi atau keausan gigi akibat konsumsi makanan bertekstur keras,” tutur Ahmad saat peluncuran film Negeri Susah Senyum di FDC Dental Clinic, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Senin, 17 Agustus 2026.

Sebaliknya, persoalan karies justru banyak ditemukan pada anak-anak. Pada usia sekitar tujuh tahun, sebagian anak bahkan mengalami kerusakan berat pada gigi susu akibat karies rampan.

Menurut Ahmad, perubahan pola konsumsi menjadi salah satu pemicunya. Makanan olahan dan produk dengan kandungan gula tinggi mulai masuk ke lingkungan kasepuhan dan perlahan mengubah pola makan masyarakat yang sebelumnya lebih banyak mengonsumsi bahan pangan alami.

2. Sakit gigi harus ditempuh dengan perjalanan hingga 4 jam

Kampung Adat Ciptagelar (google.com/maps/eddy efemdy)

Persoalan kesehatan gigi di Ciptagelar semakin kompleks karena akses terhadap layanan kesehatan masih terbatas. Ketiadaan dokter gigi dan minimnya fasilitas kesehatan membuat masyarakat harus menempuh perjalanan menuju fasilitas kesehatan yang lebih lengkap di wilayah Pelabuhanratu. Waktu perjalanan darat bisa mencapai sekitar empat jam dengan kondisi jalan yang tidak mudah dilalui.

Kondisi tersebut membuat masyarakat memiliki pilihan terbatas ketika mengalami sakit gigi. Menurut Ahmad, keterbatasan akses juga dapat membuka ruang bagi berkembangnya mitos maupun pengobatan alternatif yang belum tentu dilakukan secara aman dan higienis.

“Stigma bahwa ke dokter gigi menakutkan, lama dan mahal, juga masih sangat melekat. Oleh karena itu, pendekatan kami sangat personal dengan memberikan edukasi dasar serta penanganan darurat, seperti penambalan dan pencabutan gigi,” ujar Ahmad.

Ia menyebut karies masih menjadi salah satu persoalan kesehatan gigi yang dominan di Indonesia. Ahmad mengatakan sekitar 80 persen masyarakat mengalami karies, sementara pemerintah menargetkan Indonesia bebas karies pada 2035.

3. Ingin bawa pesan kesehatan gigi ke generasi muda

81 Tahun Merdeka, Mengapa Senyum Masih Jadi Kemewahan di Pelosok Jabar?. Dok Istimewa

Pesan mengenai ketimpangan akses kesehatan gigi tidak berhenti pada pemutaran film. Penayangan perdana Negeri Susah Senyum juga mengajak finalis Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 untuk melihat langsung persoalan yang diangkat dalam film. Para finalis kemudian berdiskusi dengan sejumlah narasumber yang terlibat dalam proses produksi maupun kegiatan pelayanan kesehatan di Kasepuhan Ciptagelar.

Salah satu finalis asal Kabupaten Sukabumi, Djemima Shireen Ferdinand, mengatakan gambaran dalam film terasa dekat dengan kehidupan masyarakat di daerahnya. Sebagai putri daerah yang tumbuh di kawasan pesisir Sukabumi, Djemima melihat persoalan akses dan edukasi kesehatan masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah. Menurutnya, film tersebut menunjukkan realitas yang terjadi di lapangan sekaligus menjadi pengingat bagi generasi muda untuk ikut menyuarakan pentingnya kesehatan gigi dan mulut.

Founder dan CEO FDC Dental Clinic, drg. Ita Lestari, mengatakan film tersebut memang dibuat untuk membuka mata masyarakat mengenai belum meratanya akses kesehatan gigi di Indonesia.

“Pemutaran film dokumenter Negeri Susah Senyum baru pertama kali dilakukan. Kami akan menggiatkan pemutaran film ini karena ada misi sosial, yaitu menyebarkan senyum ke semua orang,” ujar Ita.

Bagi Ita, persoalan yang diangkat film ini bukan hanya tentang gigi berlubang atau jauhnya fasilitas kesehatan. Ada jarak yang lebih besar antara masyarakat pelosok dengan dokter gigi, pengetahuan medis dengan mitos, serta pola hidup tradisional dengan perubahan konsumsi.

Di usia Indonesia yang ke-81 tahun, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga berarti memastikan layanan kesehatan dasar dapat dijangkau semua lapisan masyarakat. Sebab, senyum seharusnya bukan kemewahan.

Editorial Team

Related Article