Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
100 UMKM Belajar Olah Produk Perkebunan Bareng Politeknik LPP dan BPDP
100 UMKM Belajar Ubah Produk Perkebunan Jadi Peluang Bisnis Bareng LPP-BPDP. IDN Times/Istimewa
  • Seratus UMKM di Cirebon ikut pelatihan Politeknik LPP dan BPDP untuk mengolah produk perkebunan jadi peluang usaha baru dengan pendekatan praktik langsung.
  • Peserta belajar membuat parfum mobil, lilin aromaterapi dari minyak jelantah, serta minuman berbasis komoditas perkebunan seperti krimer sawit dan gula aren.
  • Pelatihan interaktif ini bantu peserta memahami proses produksi, memperluas jaringan bisnis, dan menumbuhkan semangat berinovasi agar lebih siap bersaing di pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Seratus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Cirebon mendapat pelatihan mengolah produk berbasis perkebunan menjadi peluang usaha baru. Mereka tidak hanya belajar membuat produk makanan dan minuman, tetapi juga parfum mobil hingga lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah.

Pelatihan yang digelar Politeknik LPP bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi langsung mempraktikkan proses pembuatan produk yang memiliki nilai jual.

1. Didorong mencari peluang baru

100 UMKM Belajar Ubah Produk Perkebunan Jadi Peluang Bisnis Bareng LPP-BPDP. IDN Times/Istimewa

Perwakilan Kepala Divisi Kerja Sama Kemitraan dan UMKM BPDP, Soraya Harlan, mengatakan pelaku UMKM perlu terus berinovasi agar mampu bersaing di tengah perubahan pasar.

Menurutnya, banyak potensi produk perkebunan yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal menjadi produk bernilai tambah.

"Kami ingin mendorong lahirnya pelaku usaha yang kreatif, adaptif, dan mampu melihat peluang dari berbagai sumber daya yang tersedia di sekitarnya," ujar Soraya.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat menjadi langkah awal bagi peserta untuk menghasilkan produk yang memiliki daya saing sekaligus meningkatkan kepercayaan diri masyarakat menjadi pelaku usaha mandiri.

2. Peserta belajar membuat parfum mobil hingga lilin aromaterapi

ilustrasi lilin aromaterapi (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Dalam pelatihan itu, peserta diperkenalkan dengan sejumlah produk yang dinilai memiliki peluang pasar cukup besar. Salah satunya parfum mobil yang dinilai masih memiliki prospek menjanjikan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk pewangi kendaraan.

Selain itu, peserta juga diajari mengolah minyak goreng bekas atau jelantah menjadi lilin aromaterapi. Produk tersebut dinilai memiliki nilai ekonomi karena memadukan konsep daur ulang dengan kebutuhan dekorasi dan relaksasi.

Peserta juga mempraktikkan pembuatan minuman creamy matcha cincau menggunakan bahan berbasis komoditas perkebunan seperti krimer sawit, gula aren kelapa, dan bubuk matcha dari teh.

3. Peserta berharap ilmu pelatihan bisa langsung diterapkan

Ilustrasi parfum, kopi, dan foto kenangan yang menggambarkan hubungan antara aroma dan memori. (Ilustrasi dibuat dengan AI)

Pelatihan berlangsung interaktif karena peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung mempraktikkan proses produksi sekaligus berdiskusi mengenai peluang usaha di daerah masing-masing.

Para peserta mengaku mendapatkan banyak inspirasi setelah mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan banyak inspirasi baru. Ternyata peluang usaha bisa datang dari produk-produk yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan.

Peserta menilai metode praktik langsung membuat materi lebih mudah dipahami dibanding hanya mendengarkan teori. Selain meningkatkan keterampilan teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jaringan usaha dan membuka peluang kolaborasi bisnis ke depan.

Editorial Team

Related Article