100 Keluarga di Bandung Dapat Bantuan Rp500 Ribu untuk Atasi Stunting

Bandung, IDN Times - Sebanyak 100 keluarga di Kota Bandung akan mendapat bantuan Rp500 ribu per bulan dalam lima bulan ke depan. Bantuan ini diberikan pada keluarga yang mempunyai anak dengan kondisi stunting.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Budi Sartono mengatakan, dana yang diberikan kepada keluarga tersebut berasal dari PT Sido Muncul mencapai Rp250 juta. Dana tersebut harapannya bisa menurunkan angka stunting di Kota Bandung yang sekarang mencapai 16 persen.
"Kami dari kepolisian akan bantu untuk melakukan evaluasi setiap bulanya. Nanti kalau tidak ada perbaikan di keluarga tersebut bisa dkita alihkan ke keluarga lain," kata Budi di Mapolrestabes Bandung, Selasa (3/9/2024).
Bhabinkamtibmas bersama Dinas Kesehatan bakal membantu setiap keluarga agar bisa datang ke Puskesmas atau Posyandu melakukan pengecekan kondisi anak pada keluarga penerima bantuan.
Dengan begitu nantinya bisa diketahui bagaimana perkembangan anak yang sudah masuk kategori stunting tersebut. Harapannya, pada 2025 angka stunting di Kota Bandung bisa turun hingga 14 persen.
1. Pengentasan stunting penting untuk kualitas SDM

Sementara itu Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bandung Dadan Gandadi mengatakan, menurunkan dua persen angka stunting tidaklah mudah. Butuh kerja sama semua pihak termasuk perusahaan swasta yang bisa memberikan dana bagi keluarga membutuhkan.
Menurutnya, angka stunting di Kota Bandung masih terbilang tinggi walaupun angkanya setiap tahun berkurang. Untuk itu, IDI siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah agar bisa mencapai target penurunan angka stunting.
"Tujuan penurunan stunting ini agar pembangunan kota bisa baik dengan peningkatan SDM (sumber daya manusia)," kata Dadan.
2. Masa depan anak harus bebas dari gizi buruk

Staf Ahli Pemkot Bandung Asep C. Cahyadi mengatakan, pemerintah daerah sangat berkomitmen dalam pengentasan stunting. Selama ini banyak kasus stunting karena berbagai persoalan mulai dari gizi dari sang ibu, sanitasi, pemberian gizi yang kurang pada anak, hingga kondisi keluarga yang kurang mendukung tumbuh kembang anak tersebut.
Penyelesaian masalah ini pun tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek, tapi harus berkelanjutan. Pendidikan kepada para remaja juga wajib diselenggarakan karena nantinya mereka yang akan berkeluarga dan berkewajiban memberikan asupan terbaik untuk anaknya.
"Khususnya ibu harus bisa memenuhi nutrisi seperti pada saat kehamilan. Status gizi mereka harus dijaga, dipersiapkan sejak dini untuk menghasilkan generasi penerus bangsa yang produktif," ujarnya.
3. Uang yang didapat akan dibelikan berbagai makanan bergizi

Salah satu penerima manfaat program ini, Eva Soliha (29 tahun) berterima kasih dengan adanya program ini. Mempunyai seorang anak yang masuk kategori stunting, Eva menyebut bahwa anaknya sejak lahir memang sudah alami berat badan rendah (BBLR), sehingga kesulitan ketika mulai tumbuh.
Selain itu, sang anak pun mempunyai penyakit yang membuat berat badan susah naik meski asupan makanannya dijaga.
"Sekarang kami sedang masa pengobatan dan bantuan ini sangat membantu sehingga semakin terjamin juga asupan nutrisinya," ungkap Eva.
Uang Rp500 ribu yang didapat ini nantinya akan dibelikan susu dan stok telor karena arahan dari dokter diminta memperbanyak makan telor sehari sampai tiga butir.

















