Cirebon Untung Kerang Hijau, Tapi Ekonominya Belum Sehat

- Kerang hijau dan bandeng mendominasi produksi perikanan
- Udang, patin, dan ikan nila juga mengalami pertumbuhan meskipun tidak sebesar komoditas utama
- Budidaya air tawar terkendala biaya produksi dan kualitas air
Cirebon, IDN Times - Kinerja perikanan budidaya Kota Cirebon sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan positif, dengan komoditas kerang hijau tampil sebagai penopang utama produksi. Namun, dominasi satu komoditas tersebut sekaligus membuka gambaran struktur sektor perikanan yang belum sepenuhnya seimbang dan masih menyimpan kerentanan, khususnya pada budidaya air tawar.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi kerang hijau mencapai 180,63 ton pada 2025, meningkat dari 158,66 ton pada tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut menjadi kontributor terbesar dalam total produksi perikanan budidaya Kota Cirebon, mengingat karakter wilayah yang berbasis pesisir Pantai Utara Jawa.
1. Kerang hijau jadi tulang punggung produksi

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon, Elmi Masruroh, menyatakan bahwa sektor kelautan dan perikanan masih menjadi sandaran ekonomi masyarakat pesisir. Budidaya laut, terutama kerang hijau, dinilai memiliki daya tahan yang relatif kuat di tengah dinamika biaya produksi dan fluktuasi pasar.
Kondisi geografis Cirebon yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa membuat budidaya kerang hijau relatif lebih adaptif dibandingkan komoditas lain. Selain didukung ketersediaan perairan, permintaan pasar yang stabil juga menjaga keberlanjutan usaha pembudidaya.
Selain kerang hijau, komoditas bandeng mencatatkan kinerja positif dengan produksi meningkat menjadi 49,69 ton dari sebelumnya 40,73 ton. Kenaikan ini memperkuat posisi bandeng sebagai salah satu komoditas strategis budidaya pesisir Kota Cirebon.
"Produksi udang dan patin juga menunjukkan pertumbuhan, meskipun tidak sebesar komoditas utama. Udang mengalami peningkatan produksi menjadi 24,66 ton, sementara patin naik menjadi 15,69 ton. Pertumbuhan moderat ini mencerminkan upaya diversifikasi komoditas yang mulai berjalan, meski masih menghadapi berbagai keterbatasan teknis dan biaya," kata Elmi, Senin (26/1/2026).
2. Air tawar tertekan biaya produksi

Di sisi lain, tidak semua subsektor menunjukkan tren searah. Produksi ikan nila justru mengalami penurunan dari 35,06 ton menjadi 30,36 ton.
Penurunan ini mengindikasikan tekanan struktural pada budidaya ikan air tawar, terutama terkait mahalnya pakan pabrikan, kualitas air, serta ketidakpastian harga jual.
Ketergantungan pembudidaya kecil pada pakan komersial membuat biaya produksi sulit ditekan. Di tengah keterbatasan lahan dan sumber air, sektor air tawar menjadi lebih rentan terhadap gejolak biaya dibandingkan budidaya laut.
3. Arah kebijakan dan tantangan keberlanjutan

Meski demikian, secara agregat sektor perikanan budidaya Kota Cirebon masih menunjukkan prospek yang relatif solid. Pemerintah daerah menilai diversifikasi antara budidaya laut dan air tawar menjadi kunci menjaga ketahanan ekonomi perikanan.
DKP3 Kota Cirebon menargetkan penguatan pendampingan teknis, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta optimalisasi sarana produksi pada 2026. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi budidaya sekaligus menjaga kualitas hasil perikanan.
Ke depan, tantangan utama sektor ini tidak hanya pada peningkatan volume produksi, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem pesisir dan stabilitas usaha pembudidaya skala kecil. Dengan kebijakan yang konsisten dan pengelolaan yang berkelanjutan, sektor perikanan diharapkan tetap menjadi pilar penting pertumbuhan ekonomi Kota Cirebon.
















