BIJB Harus Jadi Mesin Ekonomi, Bukan Bangunan Kosong

- Semua Opsi Dibuka demi Menghidupkan BIJBMenjadikan BIJB sebagai fasilitas perawatan pesawat, kerja sama industri ketahanan nasional, hingga pemanfaatan oleh pangkalan angkatan udara.
- BIJB Tak Lagi Dipandang Sekadar BandaraKertajati memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai ekosistem industri terpadu, mendorong kehadiran kawasan industri di sekitar Majalengka.
- Pendekatan Holistik, Saham hingga KonektivitasHasil evaluasi menunjukkan pengembangan bandara membutuhkan waktu panjang, mewacanakan pelepasan saham dominan di BIJB dengan harapan bisa mendapatkan porsi saham di Bandara Husein Sastranegara.
Majalengka, IDN Times – Wacana Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk melepas kepemilikan saham Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati dan menyerahkannya kepada pemerintah pusat kembali mengemuka. Langkah ini dinilai sebagai strategi realistis untuk menghidupkan bandara yang selama ini belum memberi dampak maksimal bagi masyarakat Majalengka dan Jawa Barat
Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, Taufik ‘Opik’ Nurrohim, menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar pelepasan aset, melainkan ikhtiar agar BIJB benar-benar menjadi motor ekonomi, bukan sekadar bangunan megah tanpa aktivitas berarti.
“Gubernur dan Pemprov Jabar concern agar BIJB ini menjadi berkah, bukan hanya menjadi fosil bangunan,” ujar Opik saat reses di Majalengka, Minggu (25/1/2026).
1. Semua Opsi Dibuka demi Menghidupkan BIJB

Menurut Opik, pemerintah tidak menutup diri terhadap berbagai skema untuk mengaktifkan Kertajati. Salah satu langkah terbaru adalah menjadikan BIJB sebagai fasilitas perawatan atau bengkel pesawat, yang telah ditandai dengan proses groundbreaking.
“Segala opsi kami lakukan. Mulai dari tukar guling dengan pemerintah pusat, kerja sama industri ketahanan nasional, hingga pemanfaatan oleh pangkalan angkatan udara,” kata politisi PKB tersebut.
Tak hanya itu, peluang kerja sama dengan pihak swasta juga terus dibuka agar aktivitas ekonomi di sekitar bandara dapat tumbuh dan berkelanjutan.
2. BIJB Tak Lagi Dipandang Sekadar Bandara

Opik menekankan bahwa kesalahan terbesar selama ini adalah memandang BIJB hanya sebagai bandara penumpang. Padahal, Kertajati memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai ekosistem industri terpadu.
“BIJB ini tidak bisa dipandang parsial hanya sebagai bandara. Ini adalah sebuah ekosistem industri,” tegasnya.
DPRD dan Pemprov Jabar pun mendorong kehadiran kawasan industri di sekitar Majalengka. Industri dinilai menjadi daya dorong utama agar bandara memiliki arus logistik dan aktivitas ekonomi yang stabil.
3. Pendekatan Holistik, Saham hingga Konektivitas

Kepala Bappeda Jawa Barat, Dedi Mulyadi, sebelumnya mengungkapkan bahwa hasil evaluasi bersama Gubernur menunjukkan pengembangan bandara membutuhkan waktu panjang. Karena itu, muncul opsi pelimpahan pengelolaan BIJB ke pemerintah pusat.
“Salah satu alternatif untuk mempercepat tujuan pembangunan Kertajati adalah memberikan pelimpahan ke pusat,” ujar Dedi.
Pemprov Jabar mewacanakan pelepasan saham dominan di BIJB dengan harapan bisa mendapatkan porsi saham di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Di sisi lain, Pemprov juga memastikan infrastruktur pendukung seperti jalan provinsi, penerangan, serta konektivitas Cisumdawu tetap diperkuat.
“Pendekatannya harus menyeluruh. Infrastruktur pendukung harus dipastikan siap,” kata Opik.
















