Pakar Geologi ITB Ingatkan Potensi Bahaya Susulan di Titik Longsor Pasirlangu

- Tanda-tanda alam yang perlu diwaspadai
- Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam
- Indikator hilangnya aliran air sungai saat hujan berlangsung
- Pemahaman risiko aliran bermuatan sedimen dan lumpur dari hulu
- Durasi hujan yang lama jadi pemicu longsor
- Lingkungan geologi Bandung Barat memiliki lapisan pelapukan tebal
- Kondisi lereng tidak mampu menahan beratnya sendiri saat pori-pori tanah sudah jenuh oleh air
- Hubungan antara durasi dan intensitas h
Bandung, IDN Times - Hujan yang masih mengguyur kawasan du Bandung Barat membuat pencarian korban lonsor di Desa Pasilangu, Cisarua, tidak bisa dilakukan selama 24 jam dalam sehari. Tim SAR harus menghentikan pencarian pada sore hari dan memulai kembali pada pagi hari mengantisipasi cuaca yang kurang baik.
Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.Eng. Imam Achmad Sadisun, meminta aparat dan pemerintah lebih waspada dengan kondisi di kawasan tersebut. Dengan penyebab longsor yang disebabkan adanya alur sungai tersebut dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam), maka bisa jadi ada longsor tanah susulan terjadi ketika hujan deras terus melanda. Dia mengingatkan adanya potensi bahaya susulan, mengingat masih ditemukannya indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.
"Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, akumulasi air di balik sumbatan-sumbatan tersebut berpotensi kembali jebol dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir," ujar Imam melalui siaran pers dikutip IDN Times, Senin (26/1/2026).
1. Tanda-tanda alam yang perlu diwaspadai

Sebagai langkah mitigasi non-struktural, Dr. Imam menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam. Salah satu indikator yang kerap diabaikan adalah menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung, yang dapat menandakan adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.
“Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut saat hujan lebat, masyarakat harus waspada dan segera menjauh dari alur sungai,” katanya.
Melalui kejadian ini, Imam berharap pemahaman masyarakat terhadap bahaya longsoran tidak lagi terbatas pada peristiwa runtuhnya suatu lereng, tetapi juga mencakup risiko aliran bermuatan sedimen hingga aliran lumpur/debris dari hulu yang dapat terjadi tanpa tanda visual yang jelas di area permukiman.
2. Durasi hujan yang lama jadi pemicu longsor

Menurutnya, wilayah Bandung Barat termasuk dalam lingkungan geologi yang berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif lebih kedap air, kerap menjadi bidang gelincirnya. Kondisi ini semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang, yang menyebabkan air meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh.
“Ketika pori-pori tanah sudah jenuh oleh air, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” ujar Imam.
Ia menambahkan bahwa pemicu longsor tidak hanya ditentukan oleh durasi hujan, melainkan juga oleh intensitasnya. Dalam ilmu kebumian dikenal hubungan antara durasi dan intensitas hujan. Hujan dengan intensitas sedang namun berlangsung lama dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam durasi yang singkat.
3. Rumah warga memang berisiko terlanda aliran lumpur

Imam menuturkan, meskipun sebagian besar area terdampak berada pada zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, Imam menekankan bahwa area-area tersebut, terutama lokasi permukiman, berada di sempadan sungai yang berisiko tinggi terlanda aliran lumpur dan bahkan aliran debris dari bagian hulu.
“Bahaya tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah tersebut berada, tetapi bisa datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng. Selain berfungsi secara mekanik melalui perakaran yang meningkatkan kohesivitas tanah, vegetasi juga berperan secara hidrologis dengan memperlambat kejenuhan tanah oleh air hujan.














