7 Kesalahan Finansial yang Umum Dilakukan di Usia 20–30 Tahun

- Tidak punya anggaran bulanan yang jelasTanpa anggaran bulanan yang jelas, banyak orang akhirnya menghabiskan uang tanpa tahu ke mana perginya. Pola pengeluaran yang tidak terkontrol inilah yang membuat seseorang merasa selalu “tekor” di akhir bulan.
- Mengandalkan utang untuk menutupi gaya hidupBanyak anak muda kini bergantung pada PayLater atau kartu kredit untuk memenuhi gaya hidup yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Penggunaan yang tidak terkontrol sering membuat cicilan menumpuk dan menjadi beban yang menyulitkan keuangan di masa depan.
- Tidak menyiapkan dana daruratDana darurat sering dianggap tidak mendesak karena banyak orang
Bandung, IDN Times - Memasuki usia 20–30-an adalah masa penuh keputusan penting, termasuk soal keuangan. Banyak orang mulai merasakan transisi dari masa kuliah menuju dunia kerja, bertanggung jawab atas kebutuhan sendiri, sampai mengatur rencana masa depan.
Sayangnya, fase ini juga menjadi periode paling rentan untuk membuat kesalahan finansial yang dampaknya bisa panjang.
Banyak orang merasa punya cukup waktu untuk memperbaiki kondisi keuangan nanti—padahal kebiasaan buruk yang dibiarkan sejak dini bisa menumpuk dan membuat kondisi finansial makin sulit di tahun-tahun berikutnya. Tuntutan sosial dan lingkungan pertemanan juga sering mendorong seseorang mengambil keputusan keuangan tanpa pertimbangan panjang.
Padahal, sebagian besar masalah keuangan bukan berasal dari pendapatan yang kecil, tetapi dari pola pengelolaan yang keliru. Semakin cepat seseorang memahami kesalahan yang umum dilakukan, semakin mudah pula memperbaikinya sebelum terlanjur merusak kondisi finansial.
Berikut tujuh kesalahan finansial yang paling sering dilakukan oleh mereka yang berada di usia 20–30-an. Yuk cek satu per satu, siapa tahu ada yang tanpa sadar sedang kamu lakukan!
1. Tidak punya anggaran bulanan yang jelas

Tanpa anggaran bulanan yang jelas, banyak orang akhirnya menghabiskan uang tanpa tahu ke mana perginya. Pola pengeluaran yang tidak terkontrol inilah yang membuat seseorang merasa selalu “tekor” di akhir bulan, meski pendapatan sebenarnya cukup.
Membuat anggaran sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Bahkan template sederhana seperti 50-30-20 sudah bisa menjadi pijakan awal untuk menata finansial setiap bulan. Yang terpenting adalah konsistensi menjalankan rencana yang telah dibuat.
Dengan memiliki anggaran, kamu bisa melihat pola pengeluaran dengan lebih jernih. Hal ini akan membantumu melakukan perbaikan, menentukan prioritas, serta menghindari pembelian impulsif yang merugikan di kemudian hari.
2. Mengandalkan utang untuk menutupi gaya hidup

Banyak anak muda kini bergantung pada PayLater atau kartu kredit untuk memenuhi gaya hidup yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Penggunaan yang tidak terkontrol sering membuat cicilan menumpuk dan menjadi beban yang menyulitkan keuangan di masa depan.
Utang konsumtif adalah salah satu jebakan terbesar di usia 20–30-an, terutama ketika seseorang mencoba mengikuti standar pergaulan atau tren media sosial. Hal ini bisa memicu siklus keuangan yang tidak sehat karena pengeluaran cenderung lebih besar dari pemasukan.
Jika digunakan secara bijak, utang masih bisa memberikan manfaat. Namun, penting untuk memastikan utang digunakan untuk kebutuhan penting dan produktif, bukan untuk memenuhi keinginan sesaat yang tidak memberikan nilai jangka panjang.
3. Tidak menyiapkan dana darurat

Dana darurat sering dianggap tidak mendesak karena banyak orang merasa hidupnya masih stabil dan bebas risiko. Padahal, situasi seperti sakit, kehilangan pekerjaan, atau keperluan mendadak bisa terjadi kapan saja tanpa bisa diprediksi.
Memiliki dana darurat memberi rasa aman dan perlindungan finansial. Saat ada kejadian tak terduga, kamu tidak perlu mengambil utang baru atau menghabiskan tabungan yang seharusnya digunakan untuk tujuan lain.
Idealnya, dana darurat yang sehat berkisar antara tiga sampai enam kali pengeluaran bulanan. Memang tidak bisa terkumpul secara instan, tetapi memulainya sedikit demi sedikit jauh lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.
4. Menunda investasi terlalu lama

Kesalahan umum lainnya adalah merasa masih punya banyak waktu untuk mulai berinvestasi. Menunda investasi berarti melewatkan kesempatan memanfaatkan kekuatan compounding yang bekerja paling efektif jika dimulai sejak muda.
Banyak orang berpikir investasi baru bisa dilakukan jika sudah punya uang besar, padahal nominal kecil yang konsisten jauh lebih berpengaruh dalam jangka panjang. Dengan banyaknya instrumen investasi yang kini mudah diakses, kamu bisa mulai dari yang paling sederhana.
Semakin dini kamu berinvestasi, semakin ringan beban finansial di masa depan. Mulai sekarang, meski sedikit, akan membantumu mempersiapkan tujuan jangka panjang tanpa harus dikejar-kejar waktu.
5. Tidak mengontrol pengeluaran kecil yang diam-diam membengkak

Pengeluaran kecil seperti kopi harian, makan di luar, atau langganan aplikasi sering dianggap sepele. Namun jika dijumlahkan, nominalnya bisa menghabiskan porsi besar dari anggaran bulanan tanpa disadari.
Kebocoran finansial biasanya muncul dari kebiasaan kecil yang tidak pernah dicatat atau dievaluasi. Kebiasaan ini perlahan menggerogoti pendapatan dan membuat seseorang merasa selalu kekurangan meski pemasukan cukup.
Dengan mencatat pengeluaran kecil, kamu bisa menentukan mana yang benar-benar perlu dan mana yang bisa dikurangi. Penghematan kecil yang dilakukan secara konsisten bisa memberikan dampak besar bagi kondisi finansialmu.
6. Tidak mempersiapkan asuransi dasar

Asuransi sering dianggap sebagai beban tambahan, padahal ini adalah salah satu bentuk proteksi finansial paling penting. Tanpa asuransi, risiko kesehatan atau kecelakaan bisa menjadi beban biaya besar yang menguras tabungan.
Usia 20–30-an sebenarnya adalah waktu terbaik untuk memiliki asuransi karena premi yang dikenakan biasanya lebih murah. Semakin muda kamu mulai, semakin besar kesempatan mendapatkan perlindungan yang memadai tanpa membebani pengeluaran.
Tidak hanya asuransi kesehatan, asuransi jiwa atau proteksi lain yang sesuai kebutuhan juga perlu dipertimbangkan. Dengan perlindungan yang tepat, kamu bisa fokus mengembangkan karier dan tujuan hidup tanpa khawatir soal risiko besar yang tidak terduga.
7. Tidak memikirkan rencana jangka panjang

Banyak orang hanya fokus pada kebutuhan harian tanpa memikirkan apa yang ingin dicapai dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. Padahal, rencana finansial jangka panjang penting untuk memberi arah dalam pengelolaan keuangan.
Saat tidak memiliki visi jangka panjang, seseorang cenderung membuat keputusan impulsif dan tidak memikirkan dampaknya. Hal ini bisa membuat kamu sulit mencapai tujuan besar seperti membeli rumah, menyiapkan dana pensiun, atau biaya pernikahan.
Dengan membuat perencanaan jangka panjang, kamu bisa menentukan langkah yang lebih terarah. Rencana yang jelas juga memudahkanmu menyesuaikan kebiasaan dan pengeluaran untuk mencapai tujuan yang kamu inginkan.
Menghindari kesalahan-kesalahan finansial ini memang membutuhkan kesadaran dan komitmen, tetapi langkah kecil yang kamu ambil hari ini akan sangat menentukan kondisi keuanganmu kelak.
Ingat, mengelola keuangan bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang membangun kebiasaan yang sehat. Semoga artikel ini bisa membantu kamu lebih siap menghadapi masa depan, dan tetap dekat dengan IDN Times, ya!















