Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Unisba Siapkan Reaktor Plasma Dingin Atasi Sampah di Kawasan Arcamanik

WhatsApp Image 2025-09-25 at 9.18.27 PM.jpeg
Pengolahan sampah dengan teknologi reaktor plasma di Kabupaten Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
Intinya sih...
  • Proses cepat dan hemat energi
    • Reaktor plasma dingin memproses sampah dengan efisien, selektif, dan beremisi rendah.
    • Kapasitas pemrosesan 0,5–1 ton per jam dengan konsumsi listrik 6.000 watt.
    • Menghasilkan material berkualitas tinggi yang tahan lama.
    • Lebih mudah dioperasikan
      • Program pengolahan food waste dan social engineering di desa.
      • Ibu-ibu anggota koperasi aktif dalam kegiatan edukasi dan pengelolaan sampah.
      • Sampah plastik dipilah untuk dijual atau diolah menjadi produk bernilai tambah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Pemerintah Kota Bandung tengah menjadi kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi dalam mengatasi persoalan sampah yang makin menumpuk. Berbagai teknologi dicoba untuk mengatasi persoalan tersebut agar Bandung tidak menjadi lautan sampah.

Salah satu perguruan tinggi yang digandeng adalah Universitas Islam Bandung (Unisba.). Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung (UNISBA) adalah Prof. Dr. Neni Sri menuturkan, saat ini ia sedang membangun reaktor plasma dingin untuk mengolah sampah. Reaktor ini nantinya bisa membakar sampah tapi tidak menimbulkan emisi.

"Jadi ini adalah pengembangan alat yang sudah kami lakukan beberapa kali. Kami sudah memperkenalkan sebelumnya alat ini juga ke pihak kementerian riset, dan mereka tertarik dengan produk ini," ungkap Neni ditemui di Unisba, Rabu (21/1/2026).

Pembangunan reaktor pertama ada di kawasan Arcamanik. Lahan di sana milik pemerintah provinsi, tapi pengawasan operasional bakal dilakukan pihak kelurahan dan kecamatan sehingga Pemkot Bandung jelas akan ikut serta dalam operasionalnya.

1. Proses cepat dan hemat energi

WhatsApp Image 2026-01-21 at 11.48.49 AM.jpeg
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Bandung (UNISBA) adalah Prof. Dr. Neni Sri . IDN Times/Debbie Sutrisno

Sementara itu Koordinator Halal Ecosystem with Carbon Credit Campus Initiative, Dr. Imam Indratno, S.T. menuturkan bahwa reaktor plasma pemusnah sampah menggunakan teknologi plasma dingin yang bekerja pada suhu lebih rendah dibanding insinerasi konvensional, sehingga lebih efisien, selektif, dan beremisi rendah.

Reaktor ini memiliki kapasitas pemrosesan 0,5–1 ton per jam, konsumsi listrik 6.000 watt, residu hanya 0,5 persen, dan suhu reaktor lebih dari 1.000 derajat Celcius. Dimensinya meliputi diameter pembakaran 760 mm dengan tinggi 2.600 mm, cyclone berdiameter 760 mm dan tinggi 2.700 mm, serta tong penampung berdiameter 380 mm dan tinggi 450 mm.

Teknologi reaktor menggabungkan plasma, gelombang mikro, magnet, laser, dan graphene. Reaktor mampu memusnahkan berbagai jenis sampah residu organik, anorganik, hingga popok, serta cocok untuk perumahan, perkantoran, kawasan wisata, dan industri.

“Prosesnya cepat, hemat energi, hanya membutuhkan listrik, dan menghasilkan material berkualitas tinggi yang tahan lama. Produk pemusnahan menghasilkan cairan seperti liquid smoke dan konsentrat karbon-logam yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut,” kata dia.

2. Lebih mudah dioperasikan

WhatsApp Image 2025-09-25 at 9.18.27 PM (1).jpeg
Pengolahan sampah dengan teknologi reaktor plasma di Kabupaten Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno

Dia menuturkan, program kerja sama Unisba di desa ini juga meliputi pengolahan food waste, dan social engineering. Program ini telah diterapkan di Koperasi Baraya Nazar yang memang fokus pada pengelolaan sampah sejak awal dan menjadi contoh penerapan social engineering.

Ibu-ibu anggota koperasi aktif dalam berbagai kegiatan edukasi, tidak hanya seputar pengelolaan sampah, tetapi juga pembelajaran bahasa Inggris, pemanfaatan bahan sisa menjadi kerajinan 3R (reduce, reuse, dan recycle), serta pemanfaatan food waste sebagai pakan ternak.

“Sampah plastik dipilah untuk dijual atau diolah menjadi produk bernilai tambah. Di tiga RW sekitar, seluruh rumah tangga sudah rutin memilah sampah sejak dari rumah, sehingga proses pengolahan di koperasi menjadi lebih mudah,” tuturnya.

3. Waspada darurat sampah di Kota Bandung

WhatsApp Image 2025-11-21 at 6.16.27 PM.jpeg
Penanganan tumpukan sampah di Kota Bandung, Dok. Humas Pemkot Bandung

Kota Bandung, Jawa Barat, terancam mengalami darurat sampah akibat pengurangan kuota pengiriman sampah ke Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, Jabar. Akibat pengurangan kuota ini, sekitar 200 ton sampah per hari di Bandung berpotensi tak terangkut.

Sebelumnya, selama tahun 2025, Pemerintah Kota Bandung diizinkan membuang 981 ton sampah per hari ke TPPAS Sarimukti. Kuota tersebut berkurang dari kuota dua tahun lalu yang mencapai 1.200 ton sampah per hari.

Memasuki tahun 2026, kuota pengiriman sampah dari Kota Bandung ke TPPAS Sarimukti kembali dikurangi. Pengurangan sebanyak 200 ton tersebut bakal dimulai pada 12 Januari 2026. Pemerintah Kota Bandung pun mengakui adanya risiko serius terkait pengelolaan sampah mulai pekan depan.

Saat ini sekitar 100 ton sampah per hari sudah tertangani lewat kerja sama pengolahan refuse derived fuel di Bandung dan sejumlah kabupaten di Jawa Barat sehingga beban ke Tempat Pembuangan Akhir berkurang. Sementara 100 ton sampah lain masih dalam proses pemilahan, sedangkan residu yang tidak bisa diolah langsung dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir.

Setiap hari pemerintah memperbarui data penanganan agar sistem berjalan stabil dan risiko penumpukan bisa dicegah lebih awal. Pemerintah Kota Bandung menyiapkan fasilitas pengelolaan sampah di sejumlah pasar milik Perusahaan Umum Daerah Pasar agar sampah organik bisa diolah di sumbernya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

Unisba Siapkan Reaktor Plasma Dingin Atasi Sampah di Kawasan Arcamanik

21 Jan 2026, 12:37 WIBNews