Tok! Ahmad Hidayat Pimpin KAHMI Jabar Periode 2026-2031

- Ahmad Hidayat, Sekretaris DPD Golkar Jawa Barat, terpilih sebagai Koordinator Presidium MW KAHMI Jawa Barat periode 2026-2031 setelah meraih suara terbanyak dalam Muswil VII di Bandung.
- Tujuh presidium terpilih meliputi Ahmad Hidayat, Suprih Rozikin, Agus Asri Sabana, Saepul Bahri Bin Zein, Dodi Ferdiana Kusnandar, Husni Farhani M, dan Ahmad Sarbini.
- Gubernur Dedi Mulyadi mendorong KAHMI serta insan akademik menerjemahkan gagasan dan nilai keislaman menjadi karya, inovasi, serta solusi nyata yang mudah dipahami masyarakat.
Bandung, IDN Times - Kursi Koordinator Presidium Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Jawa Barat resmi diduduki Ahmad Hidayat. Politisi muda yang juga Sekretaris DPD Partai Golkar Jawa Barat itu akan memimpin organisasi tersebut selama 2026-2031.
Ahmad Hidayat meraih suara terbanyak dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VII MW KAHMI Jawa Barat yang digelar di Kota Bandung. Hasil pemungutan dan penghitungan suara menetapkan tujuh nama. Raihan suara terbanyak mengantarkan Ahmad Hidayat menjadi Koordinator Presidium.
1. Kepemimpinan baru KAHMI Jabar sejalan dengan pesan KDM

Komposisi tujuh Presidium Terpilih MW KAHMI Jawa Barat yakni Ahmad Hidayat sebagai Koordinator Presidium, kemudian Suprih Rozikin, Agus Asri Sabana, Saepul Bahri Bin Zein (Om Zein). Nama terakhir merupakan Bupati Purwakarta sekaligus politisi Partai Gerindra.
Tak hanya mereka, ada pula nama lain seperti Dodi Ferdiana Kusnandar, Husni Farhani M, serta Ahmad Sarbini, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Terpilihnya kepemimpinan baru KAHMI Jabar ini sejalan dengan pesan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mendorong alumni HMI dan insan akademik agar tidak berhenti pada gagasan, tetapi mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan Dedi Mulyadi saat menjadi keynote speaker pada Pembukaan Resmi Muswil VII KAHMI Jawa Barat di Grand Asrili Hotel Convention, Kota Bandung, Jumat (7/8/2026) malam.
2. Akademisi harus tetap berpikir kritis

Dedi Mulyadi mengatakan, persoalan bangsa tidak cukup diselesaikan melalui perubahan rezim maupun perubahan regulasi. Indonesia membutuhkan pemikiran yang mampu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata dan berangkat dari kesadaran terhadap akar kebudayaan Nusantara.
KDM, sapaan karib Dedi Mulyadi, menilai masih terdapat jarak antara pemikiran akademik dengan realitas kehidupan masyarakat. Bahkan, berbagai persoalan di lingkungan perkotaan yang berada di sekitar pusat-pusat pendidikan menjadi salah satu gambaran bahwa ilmu pengetahuan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi solusi.
KDM menuturkan, leluhur Nusantara tidak menjadikan pengetahuan sebatas kumpulan kitab atau tulisan, melainkan mewujudkannya dalam bentuk kesadaran dan karya nyata.
Karena itu, menurutnya, ukuran keberhasilan pengetahuan bukan hanya seberapa banyak gelar akademik yang diraih, tetapi sejauh mana ilmu tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan publik.
"Akademik di kita sering kali bersifat normatif administratif untuk memenuhi gelar, tanpa ada kejujuran dan keadilan serta tidak menjunjung nilai-nilai kebenaran," kata KDM, dalam keterangan tertulisnya.
3. Seorang intelektual tidak cukup hanya memiliki pengetahuan

KDM kemudian menekankan pentingnya insan akademik menjadi pencipta atau inovator. Menurutnya, seorang intelektual tidak cukup hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga harus mampu menghasilkan sesuatu yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Kalau sudah pencipta, maka harus ada yang diciptakan. Bisa menciptakan lagu, karya arsitektur, sistem pendidikan, sistem aplikasi, sistem energi," tuturnya.
Dalam konteks tersebut, KDM turut mendorong KAHMI agar mampu menerjemahkan gagasan besar dan nilai-nilai keislaman ke dalam bahasa yang sederhana serta mudah dipahami masyarakat.
"Seluruh bahasa yang langit itu harus dijelaskan dalam bahasa bumi," katanya.

















