Tak Punya Lahan, Warga Bandung Sulap Dasar Sungai Jadi Lapangan 17-an

- Warga Padasuka, Bandung, menyulap dasar Sungai Cidurian yang mengering menjadi lapangan 12,5 x 15 meter untuk lomba HUT RI ke-81 karena kekurangan lahan fasilitas umum.
- Tradisi sejak 1987 ini dikerjakan gotong royong selama tiga minggu hingga sebulan, melibatkan pemuda dan warga untuk membersihkan, membendung, serta meratakan dasar sungai.
- Warga meminta solusi permanen yang lebih aman dari pemerintah, sementara lapangan tetap digunakan hingga musim hujan menggerusnya; keselamatan menjadi perhatian meski panitia berjaga.
Bandung, IDN Times - Warga Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung merayakan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dengan cara yang unik. Di tengah keterbatasan lahan, warga turut menyulap Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian menjadi area lomba.
Dengan kondisi air sungai yang sedang mengering, mereka membuat lapangan berukuran setengah lapangan futsal atau sekitar 12,5 x 15 meter. Hal ini terpaksa dilakukan oleh warga karena sudah sejak lama tidak memiliki fasilitas untuk olahraga dan lainnya.
Kegiatan membuat lapangan untuk lomba 17 Agustus ini sudah dilakukan warga sejak era 1980-an. Mereka harus kerja bakti membendung dan meratakan dasar sungai menjadi area lomba.
1. Dilakukan tanpa bantuan pemerintah

Warga Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung turut merayakan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dengan menyulap Sungai Cidurian menjadi area lomba. IDN Times-Azzis Zulkhairil Berdasarkan penuturan warga, area tersebut dibuat selama kurun waktu tiga pekan hingga satu bulan. Baik dari pemuda dan warga lainnya bahu-membahu menyulap ceruk sungai menjadi lapangan multifungsi demi menghidupkan kemeriahan lomba 17-an.
"Awalnya warga bergotong royong membersihkan area tanah ini agar kelihatan rapi dan multifungsi. Karena kami tidak punya lahan untuk acara Agustusan, akhirnya warga memutuskan membikin lapang di area sungai ini. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sejak tahun 1987," kata Ketua Pemuda RW 15 Kelurahan Padasuka, Gandi Sugandi, Sabtu (15/8/2026) sore.
Masyarakat sekitar sangat berharap agar pemerintah daerah hadir memberikan solusi permanen, seperti menutup atau memperlebar struktur penopang di atas aliran sungai agar aktivitas kemasyarakatan dapat dialihkan ke tempat yang lebih aman.
2. Meminta Pemkot Bandung memberikan lahan

Warga Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung turut merayakan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dengan menyulap Sungai Cidurian menjadi area lomba. IDN Times-Azzis Zulkhairil Adapun keberadaan lapangan dadakan di Sungai Cidurian menjadi salah satu upaya masyarakat di Kota Bandung agar tetap bisa mempertahankan tradisi perayaan hari kemerdekaan Indonesia, meski dengan kondisi tidak memiliki lahan.
"Harapan kami masyarakat penginnya punya lahan yang lebih menjamin keselamatan warga. Kalau misalkan dari pemerintah mengizinkan area ini ditutup atau diperlebar seperti jembatan, otomatis warga akan beralih ke atas dan tidak lagi beraktivitas di dalam sungai," katanya.
Sementara, Alby (11 tahun) merasa senang ada lapangan tersebut karena dia dan teman-teman sebayanya bisa bermain bola, meski harus di tengah sungai. Bahkan, banyak tantangannya di tengah lapangan tersebut, seperti bola hanyut.
"Kalau mau Agustusan setiap hari sering ada lomba di lapangan, jadi sering main di sini. Kalau bola keluar lapangan ya diambil pakai kayu panjang, atau nggak cebur-ceburan, basah-basahan," kata Alby.
3. Lapangan tidak langsung dihancurkan

Warga Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung turut merayakan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dengan menyulap Sungai Cidurian menjadi area lomba. IDN Times-Azzis Zulkhairil Lapangan pun nantinya tidak langsung dibongkar setelah gelaran lomba HUT RI ke-81 ini. Kata Alby, lapangan buatan ini nantinya akan tergerus mengikuti arus air seiring masuknya musim penghujan.
"Enggak (dihancurkan lapangannya) tunggu hujan. Nanti tergerus sama hujan. Kalau kemarau ini airnya sedikit," tuturnya.
Meski begitu, di balik keriuhan perayaan tersebut, terselip kekhawatiran mendalam terkait faktor keselamatan. Meskipun setiap perlombaan ada panitia yang berjaga di sejumlah titik.


















