Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Survei SMRC: Kualitas Kepemimpinan KDM Setara dengan Anies-Ahok
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. Istimewa
  • Survei SMRC September 2026 menilai 31 tokoh nasional melalui 11 indikator kepemimpinan, melibatkan 200 opinion leaders dari akademisi, ilmuwan, dan jurnalis dengan metode snowball sampling.

  • Dedi Mulyadi meraih skor rata-rata 7,0, setara Anies Baswedan dan Ahok, serta di atas Prabowo 5,1 dan Gibran 4,4; Mahfud MD tertinggi dengan 7,6.

  • Muradi menilai pengalaman Dedi dari legislatif hingga eksekutif mendukung penilaian positifnya, sementara hasil survei disebut dapat menjadi masukan untuk memperkuat indikator yang belum maksimal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
September 2026

SMRC menggelar survei Opinion Leaders yang menilai kualitas 31 tokoh nasional. Dedi Mulyadi memperoleh skor rata-rata 7,0, setara dengan Anies Baswedan dan Ahok.

15 Oktober 2026

Pakar Unpad Muradi menyatakan keunggulan Dedi Mulyadi dalam empat indikator menunjukkan pemahamannya terhadap keinginan publik dan pengalaman kepemimpinannya.

2029

Muradi menilai empat indikator unggulan tersebut dapat menjadi modal bagi Dedi Mulyadi untuk Pilpres 2029.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Survei Opinion Leaders SMRC periode September 2026 menilai kualitas kepemimpinan 31 tokoh nasional. Dedi Mulyadi memperoleh skor rata-rata 7,0, setara Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama.
  • Who?
    Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama, Mahfud MD, Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, serta 200 akademisi, ilmuwan, dan jurnalis menjadi bagian dari penilaian survei.
  • Where?
    Hasil survei disampaikan di Bandung, Jawa Barat. Penjaringan responden dilakukan terhadap opinion leaders secara nasional.
  • When?
    Survei berlangsung pada periode September 2026. Muradi dari Universitas Padjadjaran menanggapi hasil tersebut pada Kamis, 15 Oktober 2026.
  • Why?
    SMRC mengukur kualitas kepemimpinan nasional demokratik-transformatif berdasarkan 11 indikator, termasuk kapabilitas, empati, integritas, akseptabilitas, kemampuan memimpin, pluralisme, demokrasi, dan kesejahteraan umum.
  • How?
    SMRC menggunakan skala 0–10 dan teknik snowball sampling terhadap 200 responden, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan serta 34 jurnalis, karena daftar populasi opinion leaders nasional tidak tersedia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, dinilai dalam survei oleh 200 akademisi dan jurnalis. Nilai kepemimpinannya 7,0, sama seperti Anies dan Ahok. Nilainya lebih tinggi dari Prabowo dan Gibran. Dedi mendapat 7,3 untuk kemampuan memimpin. Pak Muradi bilang Dedi dinilai paham keinginan banyak orang dan punya pengalaman memimpin.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Penilaian para opinion leaders memberi gambaran positif tentang Dedi Mulyadi: rata-rata 7,0 serta skor 7,3 untuk kemampuan memimpin mencerminkan pengakuan atas kapasitasnya. Pengalaman dari legislatif hingga eksekutif, menurut Muradi, turut menjelaskan mengapa pendekatannya dipandang memahami kebutuhan publik dan terasa nyaman bagi masyarakat dalam penilaian tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias KDM kembali muncul dalam survei Opinion Leaders Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode September 2026. KDM masuk dalam empat indikator Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif.

Studi SMRC ini menilai kualitas 31 tokoh nasional menggunakan skala 0–10. Penilaian mencakup kapabilitas, empati, integritas, akseptabilitas, pluralisme-inklusivitas, kemampuan memimpin, hingga komitmen terhadap demokrasi dan kesejahteraan umum.

Survei tersebut melibatkan 200 opinion leaders, terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dan 34 jurnalis. Peneliti menggunakan teknik snowball sampling untuk menjaring responden karena tidak tersedia daftar populasi opinion leaders secara nasional.

Sejumlah akademisi dan ilmuwan yang tercantum dalam daftar responden survei ini antara lain Prof. Komaruddin Hidayat, pakar hukum internasional Prof. Hikmahanto Juwana, pengamat hubungan internasional Prof. Dewi Fortuna Anwar, sejarawan Prof. Asvi Warman Adam, serta akademisi dan peneliti politik Kuskridho Ambardi.

1. Prabowo Gibran terpaut jauh jika dibandingkan dengan KDM

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi alias KDM. Dok. Istimewa

Dari 11 indikator yang ada di dalam survei tersebut, KDM memperoleh skor rata-rata 7,0 dalam studi. Nilai tersebut sama dengan skor Anies Baswedan dan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tetapi lebih tinggi dibandingkan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sementara, Mahfud MD memperoleh skor rata-rata 7,6. Adapun Prabowo memperoleh skor rata-rata 5,1, sedangkan Gibran mencatatkan nilai 4,4. Perbedaan skor tersebut menggambarkan penilaian responden terhadap kualitas para tokoh berdasarkan indikator yang digunakan dalam studi tersebut.

Pada indikator kemampuan memimpin, Dedi memperoleh skor 7,3. Nilai tersebut berada di bawah Mahfud MD yang meraih 7,6 dan Ahok dengan skor 7,4. Anies Baswedan memperoleh skor 7,1, sedangkan Ganjar Pranowo mendapat 6,9. Adapun Prabowo memperoleh skor 5,5 dan Gibran 4,3.

2. KDM dinilai memahami keinginan publik

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Pada aspek kapabilitas atau kompetensi, Dedi memperoleh skor 6,7. Nilai itu berada di bawah Anies Baswedan yang mendapat 7,1. Sementara itu, Prabowo memperoleh skor 5,1 dan Gibran 3,7 pada indikator kompetensi. Penilaian ini menjadi salah satu dimensi yang membedakan skor para tokoh dalam studi SMRC.

Menanggapi hal ini, Pakar politik dan keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi mengatakan, KDM yang unggul di empat indikator tersebut membuktikan bahwa Gubernur Jabar tersebut memang memahami keinginan publik.

"Dedi Mulyadi dianggap memahami apa yang diinginkan publik. Itu menjadi salah satu alasan mengapa pendekatannya dinilai lebih nyaman bagi masyarakat. Dia juga memiliki pengalaman langsung dalam bekerja dan memimpin," kata Muradi, Kamis (15/10/2026).

Menurut dia, beberapa tokoh lain mungkin memiliki sisi kemampuan akademis yang kuat, namun pengalaman KDM dari legislatif hingga ke eksekutif ini menjadi modal penting saat memimpin menjadi Gubernur Jabar saat ini.

"Ini berbeda dengan sejumlah tokoh lain yang mungkin memiliki nilai atau kapasitas akademis, tetapi belum tentu memiliki pengalaman yang sama. KDM memiliki pengalaman yang tidak dimiliki oleh beberapa tokoh lainnya," jelasnya.

3. Gaya kepemimpinannya menjawab kerinduan masyarakat

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi. Dok. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Lebih lanjut, Muradi menilai, survei positif ini harus menjadi bahan masukan untuk KDM agar bisa lebih memaksimalkan beberapa indikator yang memang belum sempurna. Namun, empat indikator ini, kata dia, bisa menjadi modal untuk Pilpres 2029.

"Sangat bisa, menurut saya. Ini tinggal bagaimana dia menjaga konsistensi. Karakter KDM saat ini seperti menjawab kerinduan masyarakat terhadap sosok pemimpin," katanya.

"Masyarakat membutuhkan pemimpin yang bisa merangkul publik sekaligus tegas, memiliki komitmen, dan mempunyai kapasitas. Jika KDM bisa mempertahankan karakter seperti sekarang, menurut saya dia bisa menjadi kuda hitam pada Pilpres 2029," lanjut Muradi.

Di sisi lain, Muradi menilai, saat ini ada kerinduan di kalangan akademisi dan pakar terhadap model kepemimpinan seperti Joko "Jokowi" Widodo yang dipadukan dengan karakter yang diasosiasikan dengan KDM.

"Ini menjadi ruang bagi KDM untuk memperoleh penerimaan secara akademis. Namun, penerimaan di kalangan pakar perlu diikuti upaya membangun penerimaan yang lebih luas di masyarakat," kata dia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article