Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Karhutla di Jabar Hanguskan 833 Hektare Lahan, Sumedang Terluas

Kota Bandung
3 min read
Karhutla di Jabar Hanguskan 833 Hektare Lahan, Sumedang Terluas
Ilustrasi kebakaran hutan (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)
  • BPBD Jawa Barat mencatat 451 kejadian karhutla hingga 13 Oktober 2026, membakar 833,78 hektare lahan di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan.

  • Sumedang mencatat kejadian terbanyak, 75 kasus dengan 141,56 hektare terbakar; disusul Ciamis, Subang, Sukabumi, Banjar, dan Kabupaten Bandung.

  • Kebakaran lahan memicu kebakaran TPA Garut yang berstatus tanggap darurat 14 hari; api bawah permukaan dan gas metana menyulitkan pemadaman serta berisiko menimbulkan ISPA.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat ada sebanyak 833,78 hektare lahan di Jawa Barat terbakar akibat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 13 Oktober 2026. Lima kabupaten dan kota tercatat menjadi daerah terbanyak terjadinya kasus Karhutla.

Dari lima daerah tersebut, Kabupaten Sumedang menjadi wilayah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak, yakni 75 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 141,56 hektare. Di posisi berikutnya, Kabupaten Ciamis mencatat 55 kejadian dengan luas 86,47 hektare, disusul Kabupaten Subang sebanyak 49 kejadian dengan luas lahan terbakar 113,63 hektare.

Selanjutnya, Kabupaten Sukabumi mencatat 38 kejadian karhutla dengan luas 71,07 hektare. Sementara itu, Kota Banjar mengalami 33 kejadian dengan luas 45,19 hektare, dan Kabupaten Bandung mencatat 32 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 36,45 hektare.

  1. 1. Kebakaran lahan di Garut merembet ke TPA

    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)
    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

    Karhutla di Jabar juga membuat tempat pemrosesan akhir (TPA) di Garut mengalami kebakaran. Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun mengatakan, pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk kejadian kebakaran di Garut.

    "Di Garut juga terjadi kebakaran lahan. Kebakaran sebenarnya terjadi di TPA, tetapi bermula dari kebakaran lahan," ujar Teten saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026).

  2. 2. Penanganan tidak bisa sembarangan karena ada potensi gas metana

    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)
    Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

    Teten menjelaskan, kebakaran di tempat pemrosesan akhir memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran lahan biasa. Api yang terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran telah sepenuhnya padam.

    Menurut dia, api dapat bertahan di bawah tumpukan sampah dan kembali muncul meskipun kobaran di permukaan sudah berhasil dipadamkan. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan keberadaan gas metana dari timbunan sampah.

    "Api di bawah permukaan terkadang masih menyala meskipun api di atas sudah padam. Kemudian, api bisa muncul kembali karena adanya gas metana," katanya.

  3. 3. Kebakaran TPA berisiko ganggu kesehatan

    Ilustrasi kebakaran hutan (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
    Ilustrasi kebakaran hutan (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

    Teten menyebut salah satu dampak yang perlu diantisipasi adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Karena itu, penanganan kebakaran tidak bisa hanya berfokus pada pemadaman api yang terlihat di permukaan.

    "Dampaknya juga berkaitan dengan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hal-hal seperti ini yang harus diantisipasi," katanya.

    Meski demikian, BPBD Jabar belum menyampaikan data mengenai jumlah warga yang terdampak gangguan kesehatan akibat kebakaran di Garut maupun luas area TPA yang terbakar.

    Mengenai penyebab pasti, Teten mengatakan kelalaian manusia kerap menjadi salah satu penyebab kebakaran lahan maupun TPA berdasarkan pengalaman penanganan kejadian sebelumnya.

    "Kami belum melakukan pemeriksaan. Biasanya penyebab kebakaran di Jawa Barat antara lain puntung rokok atau aktivitas membakar sesuatu," kata Teten.

    Berdasarkan catatan BPBD Jabar, kebakaran TPA pada saat musim kemarau disertai El Nino tahun ini tidak hanya di wilayah Garut, TPA Galuga, Bogor juga mengalami kasus serupa. Sementara, dari 833,78 hektare lahan yang terbakar itu berasal dari 451 kejadian Karhutla, tersebar di 177 kecamatan dan 331 desa/kelurahan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More