Serapan Kerja Kuningan Moncer, Gen Z Mulai Kerja ke Luar Negeri

- Minat kerja ke luar negeri meningkat, terutama di kalangan Gen Z
- Job fair masih menjadi penopang utama penempatan tenaga kerja di Kuningan
- Lulusan baru, terutama dari SMA dan SMK, dominasi struktur pencari kerja di Kuningan
Kuningan, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Kuningan mengklaim arus penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kuningan sepanjang 2025 menunjukkan kinerja positif. Dari total 10.715 pencari kerja yang terdaftar selama periode Januari–Desember 2025, sebanyak 9.809 orang berhasil ditempatkan di berbagai sektor industri dan jasa.
Kinerja penempatan tersebut didukung oleh beragam skema ketenagakerjaan, mulai dari penempatan lokal, lintas daerah, hingga ke luar negeri. Selain itu, tingginya jumlah lowongan kerja yang tersedia sepanjang 2025 juga menjadi faktor pendukung utama serapan tenaga kerja di Kuningan.
1. Minat kerja ke luar negeri kian meningkat

Kepala Bidang Pengembangan, Perluasan Kesempatan Kerja dan Transmigrasi Disnakertrans Kuningan, Yanto Chrisdianto, mengungkapkan pola penempatan tenaga kerja selama 2025 mengalami pergeseran signifikan, khususnya di kalangan pencari kerja usia muda. Generasi Z dinilai semakin terbuka untuk bekerja lintas negara, seiring meningkatnya akses informasi dan peluang kerja global.
Menurut Yanto, negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Malaysia menjadi tujuan utama tenaga kerja asal Kuningan. Faktor penghasilan yang lebih kompetitif, pengalaman kerja internasional, serta peluang peningkatan keterampilan menjadi daya tarik utama dibandingkan bekerja di sektor domestik.
“Penempatan melalui skema Antar Kerja Antar Negara sepanjang 2025 mencapai 311 orang. Jumlahnya memang belum dominan, tetapi tren ini menunjukkan perubahan preferensi angkatan kerja muda yang mulai melihat pasar global sebagai pilihan karier,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
2. Job fair masih jadi penopang utama penempatan

Meski minat kerja ke luar negeri meningkat, penyerapan tenaga kerja terbesar di Kuningan masih bertumpu pada mekanisme bursa kerja dan pameran lowongan. Disnakertrans mencatat, sepanjang 2025 kegiatan job fair yang digelar pemerintah daerah bekerja sama dengan dunia usaha berhasil menempatkan 4.717 pencari kerja.
Job fair menjadi kanal utama yang mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan dari berbagai sektor, terutama industri manufaktur, jasa, ritel, dan sektor padat karya. Skema ini dinilai efektif karena mampu menampung pencari kerja dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.
Selain itu, penempatan melalui mekanisme antar kerja lokal (AKL) dan antar kerja antar daerah (AKAD) juga berkontribusi signifikan dengan menyerap 3.084 orang. "Jalur ini mencakup penempatan di wilayah Kabupaten Kuningan serta pengiriman tenaga kerja ke kawasan industri di luar daerah, terutama di wilayah Jawa Barat dan provinsi lain," ujar Yanto.
3. Lulusan baru dominasi pencari kerja

Dari sisi karakteristik pencari kerja, Disnakertrans mencatat lonjakan pendaftaran terjadi pada Mei dan Juni 2025. Pada periode tersebut, lebih dari 3.200 orang mendaftarkan diri sebagai pencari kerja, seiring berakhirnya tahun ajaran sekolah menengah. Kondisi ini menunjukkan bahwa lulusan baru, khususnya dari SMA dan SMK, masih mendominasi struktur pencari kerja di Kuningan.
Yanto mengatakan, penyaluran tenaga kerja melalui Bursa Kerja Khusus (BKK) berbasis SMK dan lembaga pelatihan kerja juga memainkan peran penting. Sepanjang 2025, sebanyak 1.341 lulusan berhasil masuk ke dunia kerja melalui jalur ini, mayoritas merupakan pencari kerja pemula.
Sementara itu, dari sisi ketersediaan lapangan kerja, jumlah lowongan yang tercatat sepanjang 2025 mencapai 21.770 posisi. Angka tersebut jauh melampaui jumlah pencari kerja terdaftar, menandakan bahwa persoalan ketenagakerjaan di Kuningan tidak terletak pada minimnya peluang kerja.
Yanto menilai tantangan utama ketenagakerjaan di Kuningan justru terletak pada kesesuaian kompetensi, keterampilan teknis, dan kemampuan bahasa. Kesenjangan ini kerap menjadi hambatan, terutama bagi pencari kerja yang ingin masuk ke sektor industri tertentu atau bekerja ke luar negeri.
"Untuk menjawab tantangan tersebut, Disnakertrans Kuningan terus memperkuat program pelatihan berbasis kebutuhan industri melalui balai latihan kerja (BLK), pengembangan program padat karya, serta dukungan terhadap koperasi desa. Upaya tersebut diarahkan untuk meningkatkan kualitas dan daya saing tenaga kerja lokal agar mampu bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif, baik di dalam negeri maupun di tingkat global," ujarnya.

















