Pemkot Bandung Kaji Teknologi Alternatif Pengolahan Sampah Autothermix, dok. Diskominfo Bandung
Farhan menegaskan, pengelolaan sampah Kota Bandung tidak bisa selamanya mengandalkan pengangkutan menuju TPA. Sejak 2005, Kota Bandung tidak memiliki tempat pemrosesan akhir sampah sendiri.
Karena itu, pengurangan sampah harus dilakukan sejak dari sumber. Pengelolaan di tingkat RT, RW dan kelurahan akan menjadi salah satu fokus Pemkot Bandung. Untuk mendukung langkah tersebut, Pemkot Bandung akan menyiapkan fasilitas pengolahan sampah di tingkat kelurahan. Farhan mengakui kebutuhan anggarannya tidak kecil.
“Saya akan mengundang langsung pengadaan-pengadaan khusus untuk fasilitas pengolahan sampah di kelurahan. Anggarannya tidak kecil sama sekali,” katanya.
Program tersebut akan melengkapi pengelolaan sampah yang sudah berjalan, termasuk Kang Pisman. Pemkot Bandung juga akan menambah petugas pemilah dan pengolah sampah di tingkat RW. Saat ini, petugas pemilah dan pengolah sampah telah tersedia di 1.597 RW. Namun, jumlah tersebut masih dinilai belum mencukupi.
“Petugas pemilah yang ada di 1.597 RW masih jauh dari cukup. Tentu saja artinya kita akan menambah terus,” ujar Farhan.
Penguatan pengelolaan sampah dari hulu juga menjadi bagian dari mitigasi menghadapi musim hujan. Sampah yang tidak tertangani berpotensi masuk ke saluran air dan menghambat aliran ketika hujan turun.
Dengan memperkuat pengolahan sampah sejak tingkat kewilayahan, Pemkot Bandung berharap tekanan terhadap sistem pengangkutan dan TPA Sarimukti dapat dikurangi sekaligus menekan risiko genangan.
“Kita siapkan mitigasi menghadapi risikonya,” pungkasnya.