Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ratusan Buruh PT. Namnam Fashion Industries di Cimahi Kena PHK Massal
Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Sekitar 300 buruh PT Namnam Fashion Industries di Cimahi terkena PHK massal, kabar yang viral memperlihatkan para pekerja menangis saat menerima informasi tersebut.
  • KSPSI Jawa Barat menyebut industri manufaktur tertekan oleh kenaikan dolar, mahalnya bahan baku impor, lemahnya daya beli, serta persaingan produk impor hingga perusahaan mengurangi biaya.
  • PHK juga terjadi di dua perusahaan garmen di Subang akibat kekurangan pesanan, sementara Disnakertrans Jawa Barat masih berkoordinasi untuk memastikan status operasional pabrik di Cimahi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
kemarin

PT Namnam Fashion Industries di Cimahi melakukan PHK terhadap sekitar 300 pekerja dan menutup pabrik.

Rabu (4/8/2026)

Ketua DPD KSPSI Jawa Barat Roy Jinto membenarkan PHK massal tersebut. Disnakertrans Jawa Barat menyatakan masih berkoordinasi dengan Disnaker Kota Cimahi mengenai operasional pabrik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sekitar 300 buruh PT Namnam Fashion Industries di Kota Cimahi mengalami pemutusan hubungan kerja massal. Informasi mengenai para buruh yang menangis setelah menerima kabar PHK juga beredar di media sosial.
  • Who?
    Sekitar 300 pekerja PT Namnam Fashion Industries terdampak PHK. Roy Jinto dari KSPSI Jawa Barat membenarkan kejadian tersebut, sementara Firman Desa dari Disnakertrans Jawa Barat berkoordinasi dengan Disnaker Kota Cimahi.
  • Where?
    PHK terjadi di PT Namnam Fashion Industries, sebuah pabrik garmen dan tekstil di Kota Cimahi, Jawa Barat.
  • When?
    Roy Jinto menyampaikan konfirmasi pada Rabu, 4 Agustus 2026. PHK disebut terjadi sehari sebelumnya, sementara koordinasi pemerintah daerah masih berlangsung.
  • Why?
    Kenaikan dolar meningkatkan harga bahan baku impor, daya beli melemah, dan produk garmen lokal menghadapi persaingan barang impor. Kondisi tersebut disebut membuat perusahaan sulit menutup biaya produksi.
  • How?
    Perusahaan disebut mengurangi beban biaya melalui pengurangan karyawan. Hingga saat ini belum ada kepastian dari Disnakertrans Jawa Barat mengenai apakah pabrik tersebut telah berhenti beroperasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sekitar 300 buruh di pabrik baju PT Namnam Fashion Industries di Cimahi kena PHK. Banyak buruh menangis saat mendengarnya. Pabrik susah karena bahan dari luar negeri makin mahal dan baju impor banyak masuk. Pabrik lain di Jawa Barat juga ada yang mengurangi buruh. Dinas tenaga kerja masih mencari tahu keadaan pabrik itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan yang dihadapi industri garmen, koordinasi yang dilakukan Disnakertrans Jawa Barat dengan Disnaker Kota Cimahi menunjukkan perhatian terhadap perkembangan nasib pekerja terdampak. Proses ini juga membuka ruang untuk memperoleh kepastian mengenai status operasional pabrik, sehingga informasi yang beredar dapat ditangani berdasarkan verifikasi resmi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Ratusan buruh di pabrik garmen dan tekstil, PT. Namnam Fashion Industries, Kota Cimahi terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kabar tersebut pun viral di media sosial, dan memperlihatkan para buruh yang menangis mendengar kabar PHK massal ini.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat, Roy Jinto pun membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, kondisi industri manufaktur, saat ini memang tidak baik-baik saja.

"Di beberapa perusahaan ada yang melakukan pengurangan hari kerja, kemudian jam kerja, bahkan ada yang sudah melakukan pengurangan karyawan. Nah, termasuk yang kejadian kemarin di Cimahi di PT Namnam Industri, melakukan PHK sekitar 300-an orang," ujar Roy saat dikonfirmasi, Rabu (4/8/2026).

1. Banyak faktor yang membuat pabrik melakukan PHK

Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)

Roy menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa akhirnya banyak pabrik khususnya manufaktur yang melakukan PHK. Salah satunya yaitu kenaikan dolar yang tinggi hingga mengakibatkan melemahnya daya beli.

"Karena mereka ini bahan baku semua rata-rata belinya pakai dolar. Terus kedua, pasar domestik Indonesia khususnya di dalam negeri ini mereka gak bisa bersaing dengan industri-industri dengan barang-barang impor yang masuk kan gitu," kata dia.

Karna sepinya pembeli dan harga bahan baku impor yang meningkat akibat dolar, Roy menegaskan, hal ini berdampak langsung kepada industri di Jabar.

"Mereka tidak bisa menutupi lagi cost produksinya. Mengakibatkan mungkin mereka mencari solusinya adalah untuk mengurangi beban cost itu dengan cara tadi, mengurangi hari kerja, mengurangi jam kerja, bahkan mengurangi karyawan," tuturnya.

2. Di Subang juga ada pabrik yang sudah melakukan PHK

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Termasuk terjadi di PT. Namnam Fashion Industries yang mana pabrik garmen ini bisa jadi karena tidak kuat bersaing dengan gempuran impor pakaian jadi membuat tidak mampu bersaing, akhirnya melakukan PHK dan penutupan pabrik.

"Karena yang baru-baru ini kan yang di Cimahi itu adalah garmen ya. Artinya dengan barang-barang impor yang masuk, pakaian jadi garmen yang ke Indonesia ini, ya mereka nggak kuat untuk bersaing kan gitu," katanya.

Tidak hanya di Cimahi, Roy mengungkapkan, ada beberapa pabrik lainnya di Jabar yang juga sudah melakukan PHK dalam beberapa hari kemarin.

"Dan di Subang pun Juli kemarin ada juga perusahaan yang juga melakukan PHK, ada dua perusahaan anggota SPSI yang di garmen juga terkena PHK juga. Nah, ini diakibatkan mereka sudah nggak punya order lagi," katanya.

3. Disnakertrans Jabar masih berkoordinasi

Ilustrasi PHK. (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (HI Jamsos), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat, Firman Desa memastikan masih melakukan koordinasi dengan OPD terkait di Cimahi. Dia pun belum bisa memastikan apakah pabrik tersebut benar berhenti beroperasi.

"Kami sendang melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Disnaker Kota Cimahi," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article