Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ratusan Buruh PT. Namnam Fashion Industries di Cimahi Kena PHK Massal

Kota Bandung
Ratusan Buruh PT. Namnam Fashion Industries di Cimahi Kena PHK Massal
Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Sekitar 300 buruh PT Namnam Fashion Industries di Cimahi terkena PHK massal, kabar yang viral memperlihatkan para pekerja menangis saat menerima informasi tersebut.
  • KSPSI Jawa Barat menyebut industri manufaktur tertekan oleh kenaikan dolar, mahalnya bahan baku impor, lemahnya daya beli, serta persaingan produk impor hingga perusahaan mengurangi biaya.
  • PHK juga terjadi di dua perusahaan garmen di Subang akibat kekurangan pesanan, sementara Disnakertrans Jawa Barat masih berkoordinasi untuk memastikan status operasional pabrik di Cimahi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Ratusan buruh di pabrik garmen dan tekstil, PT. Namnam Fashion Industries, Kota Cimahi terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kabar tersebut pun viral di media sosial, dan memperlihatkan para buruh yang menangis mendengar kabar PHK massal ini.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat, Roy Jinto pun membenarkan hal tersebut. Dia mengatakan, kondisi industri manufaktur, saat ini memang tidak baik-baik saja.

"Di beberapa perusahaan ada yang melakukan pengurangan hari kerja, kemudian jam kerja, bahkan ada yang sudah melakukan pengurangan karyawan. Nah, termasuk yang kejadian kemarin di Cimahi di PT Namnam Industri, melakukan PHK sekitar 300-an orang," ujar Roy saat dikonfirmasi, Rabu (4/8/2026).

1. Banyak faktor yang membuat pabrik melakukan PHK

Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)
Ilustrasi PHK (IDN Times/Arief Rahmat)

Roy menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa akhirnya banyak pabrik khususnya manufaktur yang melakukan PHK. Salah satunya yaitu kenaikan dolar yang tinggi hingga mengakibatkan melemahnya daya beli.

"Karena mereka ini bahan baku semua rata-rata belinya pakai dolar. Terus kedua, pasar domestik Indonesia khususnya di dalam negeri ini mereka gak bisa bersaing dengan industri-industri dengan barang-barang impor yang masuk kan gitu," kata dia.

Karna sepinya pembeli dan harga bahan baku impor yang meningkat akibat dolar, Roy menegaskan, hal ini berdampak langsung kepada industri di Jabar.

"Mereka tidak bisa menutupi lagi cost produksinya. Mengakibatkan mungkin mereka mencari solusinya adalah untuk mengurangi beban cost itu dengan cara tadi, mengurangi hari kerja, mengurangi jam kerja, bahkan mengurangi karyawan," tuturnya.

2. Di Subang juga ada pabrik yang sudah melakukan PHK

ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi PHK (IDN Times/Aditya Pratama)

Termasuk terjadi di PT. Namnam Fashion Industries yang mana pabrik garmen ini bisa jadi karena tidak kuat bersaing dengan gempuran impor pakaian jadi membuat tidak mampu bersaing, akhirnya melakukan PHK dan penutupan pabrik.

"Karena yang baru-baru ini kan yang di Cimahi itu adalah garmen ya. Artinya dengan barang-barang impor yang masuk, pakaian jadi garmen yang ke Indonesia ini, ya mereka nggak kuat untuk bersaing kan gitu," katanya.

Tidak hanya di Cimahi, Roy mengungkapkan, ada beberapa pabrik lainnya di Jabar yang juga sudah melakukan PHK dalam beberapa hari kemarin.

"Dan di Subang pun Juli kemarin ada juga perusahaan yang juga melakukan PHK, ada dua perusahaan anggota SPSI yang di garmen juga terkena PHK juga. Nah, ini diakibatkan mereka sudah nggak punya order lagi," katanya.

3. Disnakertrans Jabar masih berkoordinasi

Ilustrasi PHK. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi PHK. (IDN Times/Aditya Pratama)

Sementara, Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (HI Jamsos), Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Barat, Firman Desa memastikan masih melakukan koordinasi dengan OPD terkait di Cimahi. Dia pun belum bisa memastikan apakah pabrik tersebut benar berhenti beroperasi.

"Kami sendang melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan Disnaker Kota Cimahi," ujarnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More