Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ramai DTSEN, Warga Bandung Kaget Tiba-Tiba Masuk Desil 10
Tangkapan layar ponsel DTSEN
  • Warga Bandung Raya ramai memperbincangkan DTSEN setelah sejumlah orang mendapati status desil 10, kategori kesejahteraan tertinggi, meski merasa kondisi ekonominya tidak sesuai.
  • Klasifikasi DTSEN memicu kekhawatiran karena berpotensi memengaruhi akses bantuan sosial, subsidi, cicilan, dan biaya pendidikan seperti UKT.
  • Warga mempertanyakan indikator penilaian serta kebingungan mencari kanal keberatan atau koreksi data, terutama jika klasifikasi menjadi rujukan program pemerintah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Warga Bandung kaget saat melihat data DTSEN. Ada yang masuk desil 10, artinya dianggap paling mampu. Yeni dan Hilman merasa mereka tidak sekaya itu. Mereka takut bantuan, cicilan, atau biaya kuliah anak jadi berubah. Sekarang banyak orang bingung cara bertanya dan memperbaiki data itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Ramainya pengecekan DTSEN di Bandung memperlihatkan warga aktif menelaah data sosial ekonomi yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Perhatian terhadap status desil, indikator penilaian, dan kemungkinan dampaknya juga membuka ruang percakapan publik yang lebih sadar mengenai ketepatan klasifikasi kesejahteraan, sementara sistem tersebut menyediakan kerangka pemetaan kondisi masyarakat dari kelompok rentan hingga paling mampu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) mendadak menjadi perbincangan di kalangan warga Bandung Raya. Sejumlah warga mengaku terkejut setelah mengecek data mereka secara mandiri dan mendapati statusnya masuk desil 10, kelompok yang dikategorikan sebagai masyarakat dengan tingkat kesejahteraan tertinggi dalam klasifikasi pemerintah.

Temuan itu memunculkan beragam pertanyaan. Sebagian warga mengaku tidak mempermasalahkan label tersebut, namun mereka khawatir jika klasifikasi itu nantinya berdampak pada akses bantuan sosial, biaya pendidikan, hingga berbagai layanan yang menggunakan data sosial ekonomi sebagai dasar penentuan kebijakan.

DTSEN merupakan basis data sosial ekonomi nasional yang kini digunakan pemerintah untuk memetakan kondisi kesejahteraan masyarakat. Dalam sistem tersebut, warga dikelompokkan ke dalam 10 desil, mulai dari desil 1 sebagai kelompok paling rentan hingga desil 10 yang dianggap memiliki kondisi ekonomi paling mampu.

1. Warga kaget masuk kelompok ekonomi paling atas

Ilustrasi orang kaya (freepik.com)

Salah seorang warga Kota Bandung, Gunawan (50), mengaku awalnya hanya ingin mengetahui posisi desilnya setelah isu DTSEN ramai diperbincangkan di media sosial. Namun ia justru terkejut ketika hasil pengecekan menunjukkan dirinya masuk desil 10.

"Tadi ngecek karena penasaran, kok ini saya masuk desil 10 ya. Udah kayak CEO aja atuh ini mah," kata Yeni Apriliani, Jumat (14/8/2026).

Yeni mengaku masih bingung dengan indikator yang digunakan dalam pengelompokan tersebut. Menurutnya, kondisi ekonomi keluarganya jauh dari gambaran masyarakat yang selama ini dipersepsikan sebagai kelompok paling mampu.

Ia mengingat pernah didatangi petugas sensus ekonomi beberapa waktu lalu dan telah memberikan informasi secara lengkap mengenai kondisi keuangan keluarga. Karena itu, hasil yang muncul dalam DTSEN membuatnya cukup heran.

"Logika aja atuh, masa orang mapan kayak saya tinggal di rumah yang posisinya di gang. Kan aneh. Makanya saya bingung ini tiba-tiba masuk kategori begitu," ujarnya.

2. Warga khawatir berdampak pada bantuan dan pendidikan

Ilustrasi pendidikan di Indonesia (Pexels.com/Haidar Azmi)

Meski terkejut dengan status yang muncul, Yeni mengaku tidak terlalu mempersoalkan jika konsekuensinya hanya sebatas klasifikasi data. Namun ia mulai khawatir apabila status tersebut digunakan sebagai dasar dalam berbagai kebijakan pemerintah.

Menurut dia, klasifikasi sebagai kelompok ekonomi atas bisa berdampak pada akses terhadap bantuan sosial maupun kebutuhan lain yang berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga.

"Takutnya nanti ngaruh ke mana-mana. Ngambil cicilan dianggap orang mapan, UKT kuliah anak nanti tinggi misalnya. Kalau cuma pelabelan doang sih enggak apa-apa, tapi kalau sampai berdampak panjang siapa yang mau tanggung jawab," keluhnya.

Kekhawatiran serupa juga banyak bermunculan di media sosial setelah warga mulai mengecek status DTSEN mereka secara mandiri. Sejumlah warganet mempertanyakan transparansi indikator yang digunakan dalam menentukan klasifikasi desil masyarakat.

3. Bingung harus mengadu ke mana

Tangkapan layar ponsel DTSEN. (IDN Times/Yogi Pasha)

Hal serupa dialami Hilman (31), warga Ciwastra, Kota Bandung. Setelah mengetahui dirinya masuk desil 10, ia mengaku kebingungan harus menyampaikan keberatan atau meminta klarifikasi kepada instansi mana.

Menurut Hilman, masyarakat membutuhkan penjelasan yang lebih rinci mengenai metode penghitungan yang digunakan pemerintah sehingga seseorang dapat masuk ke kelompok ekonomi tertentu.

Ia khawatir kesalahan klasifikasi justru dapat merugikan masyarakat jika data tersebut menjadi rujukan dalam berbagai program pemerintah pada masa mendatang.

"Intinya mah jangan sampai malah ngerugiin masyarakat. Tiba-tiba atuh masuk desil 10, kaya banget dong berarti saya kalau gitu mah. Aneh lah," katanya.

Ramainya perbincangan mengenai DTSEN menunjukkan bahwa persoalan data sosial ekonomi tidak hanya berkaitan dengan statistik pemerintah. Bagi warga, data tersebut memiliki konsekuensi yang nyata karena dapat memengaruhi akses terhadap bantuan, subsidi, maupun berbagai layanan publik lainnya.

Karena itu, transparansi mengenai indikator penilaian serta mekanisme koreksi data menjadi hal yang mulai banyak dipertanyakan masyarakat. Terlebih ketika tidak sedikit warga yang merasa kondisi ekonominya tidak sepenuhnya sesuai dengan klasifikasi yang tercantum dalam sistem.

Curated For You

Editorial Team

Related Article