Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

[WANSUS] Walkot Farhan: Apakah Sampah Masih Jadi Krisis di Kota Bandung?

Kota Bandung
6 min read
[WANSUS] Walkot Farhan: Apakah Sampah Masih Jadi Krisis di Kota Bandung?
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat berbicang dengan IDN Times. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan krisis sampah telah berakhir, tetapi kota masih terancam karena ketergantungan pada TPA tinggi dan volume sampah lapangan bisa mencapai 2.000 ton.
  • Pemkot mengoperasikan 17 mesin termal yang dikelola masyarakat dan akan menambah 13 titik, sambil melanjutkan Kang Pisman, GASLAH, bank sampah, RDF, serta kompos pit.
  • Pengolahan di hulu baru menangani sekitar 11 persen sampah; pasar dan kawasan berpengelola didorong mengolah sendiri, sementara fasilitas Gedebage dan Legok Nangka masih dalam pengembangan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times - Muhammad Farhan telah menduduki jabatan wali kota Bandung hampir dua tahun sejak dilantik pada 20 Februari 2025. Artinya sudah lebih dari 1,5 tahun duduk menjadi orang nomor satu di Kota Bandung. Beragam program dijalankan sesuai dengan visi misi Farhan bersama pasangannya, Erwin.

IDN Times berkesempatan berbincang dengan Farhan di rumah jabatan, Pendopo Wali Kota Bandung. Lantas seperti apa jalannya kepemimpinan beliau untuk menjadikan Kota Bandung lebih bersih dari permasalahan sampah yang ada? Berikut wawancara IDN Times bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan

Sampah ini bagaimana sebenarnya Pak? Masih menghantui Kota Bandung?

Permasalahan sosial yang menyangkut masalah kenyamanan seperti sampah, ini ketika terjadi ledakan krisis sampah tahun 2023, maka kita wah sporadis mana-mana bikin ini, bikin itu sampai akhirnya saya ketemu dengan Pak Menteri Lingkungan Hidup, Pak Hanif, negosiasi akhirnya tercapai negosiasi bahwa teknologi termal boleh dipakai lagi. Maka dari yang terjadi sembilan mesin teknologi termal kita sekarang sudah berkembang jadi 17.

Dari 17 ini sudah mulai terasa nih bahwa pengolahan sampah di tingkat warga atau di hulu itu jauh lebih baik. Kenapa? Mesin-mesin termal ini atau disebut insenerator ini kami serahkan pengelolaannya kepada masyarakat. Kita yang biayai pembeliannya sama pembangunan hanggarnya, selebihnya dikelola oleh masyarakat. Itu berjalan baik sekali. Di 17 titik ini. Nah, kita akan nambah 13 titik lagi.

Bukannya sudah banyak program di hulu yang digalakkan?

Untuk pengelolaan sampah dari hulu, yang namanya program Kang Pisman, ketinggalan dari Mang Ondede dan juga Buruan SAE dari Mang Oded itu kita lanjutkan. Ditambah, kita kasih top up, namanya GASLAH, petugas pemilah sampah. Kenapa? Karena orang perlu dikasih tahu cara memilah. Saya aja belum tahu cara memilah yang baik dan benar.

Kemudian ditambah lagi nanti akan ada program pembangunan kompos pit, yaitu pembuangan atau komposting, kotak komposting yang permanen yang digali dalam tanah. atau dimunculkan di atas tanah, dengan volume 1 m³ atau 2 m³.

Ini diharapkan akan bisa mengurangi sampah di hulu dengan signifikan. Organik pakai cari itu, kalau yang non-organik itu pakai insentrator. Sampai sekarang itu baru menangani sekitar 11% total. 11% total sampah yang ada di antara kita.

WhatsApp Image 2026-08-12 at 15.16.27.jpeg
(Dok.Humas Pemkot Bandung)

Kalau hanya 11 persen ini sisa sampah dikemanakan?

Nah, Selebihnya ke mana? Selebihnya macam-macam. Selebihnya ada yang kita bawa ke bank sampah kayak plastik-plastik bernilai tinggi. Itu botol air minum dalam kemasan serta tutupnya itu nilainya sangat tinggi. Itu sudah kita jual semuanya.

Sebagian lagi diolah menjadi RDF. Kemudian kita jual ke pabrik-pabrik yang menggunakan RDF untuk pembakar boiler tapi ada di luar kota Bandung dan dibeli menjadi RDF. Apakah sudah beres? Belum. Karena bagaimanapun juga timbunan sampah kita luar biasa dahsyatnya.

Di saat, contohnya nih, di saat kita lagi asik-asiknya ngurusin sampah yang muncul dari pasar, tempat perdagangan, dari rumah, dan lain-lain, tiba-tiba terjadilah sampah yang muncul di Sungai Citepus. Entah dari mana itu datangnya. tiba-tiba datang sampah terus, "Ah, Gusti, ya udahlah, kita tanganin dulu." Terus bagaimana pun juga enggak mungkin kita tinggalkan.

Nah, jadi kalau menurut saya 1.500 ton itu adalah angka formal. Angka realnya 1.800. Fakta di lapangan ya bisa 2.000. Anda bisa cek. Banyak sekali tempat-tempat wisata di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kota Bandung, itu buang samanya Kota Bandung. Gitu.

Dengan kondisi ini apakah Bandung bisa disebut masih darurat sampah?

Krisis sampah sih sudah enggak. Sudah enggak. Sudah enggak. Terakhir krisis sampah kan ketika kita dibatasi kuotanya ke TPA Sarimukti ya. Tapi kita masih terancam karena ketergantungan kita pada TPA masih tinggi.

Jadi program-program yang tadi perubahan paling nyata dalam menangani sampah. Mindset dan perilaku. Lewat program SisKamling, siaga bencana saya keliling ke 101 kelurahan, ada 151 kelurahan, 50 lagi belum. Itu saya bisa mengerti betul bagaimana permasalahan setiap RW sekaligus juga fisiknya seperti apa.

Kedua, memberi motivasi kepada lurah camat untuk mau turun tangan. Ada pembiasaan baru yang terdengar sangat kejam ya, pokoknya setiap hari Minggu jam 4 sampai jam 6 pagi semua lurah, camat, walikota turun ke jalan. Ayo kita beresin, beresin, beresin, beresin, beresin gitu.

Kenapa? Karena kalau jam 4 pagi orang belum ngapa-ngapain. Kita kelihatan bekas orang yang semalam sebelumnya terus berangkat masuk ke dalam rumah, itulah yang ditinggalkan.

Kalau untuk sampah yang food waste dari kuliner atau pasar tradisional gitu gimana Pak? Kan numpuk banget?

Kalau secara regulasi sebetulnya sudah ada, yaitu bahwa setiap kawasan berpengelola itu tidak boleh buang sampah, mereka harus habis di dalamnya. Itu sebabnya PVJ kita paksa punya tempat pengolahan sampah, tapi belum tentu semua punya hal-hal seperti itu. Nah, ini yang sedang kita tegakan. Enggak gampang memang.

Kenapa? Karena dari 37 pas pasar milik Perumda Pasar aja, belum ada tuh tempat pengolahan sampahnya. Jadi ada ke depannya bakal ada tempat pengolahan sampah ? Harus. Itu kalau Perda mengatakan bahwa kawasan berpengelola tidak boleh buang sampah. Pasar yang bisa enggak ngeluarin sampah itu baru pasar Gedebage. Itu pun backlog-nya lumayan. Masih ada 200 ton belum kita angkut.

WhatsApp Image 2026-07-29 at 20.07.01.jpeg
(Dok.Humas Bandung)

Kita gak ada uang untuk urus masalah ini juga?

Bukan (masalah uang). Lebih ke kemampuan teknis. . Mau uangnya banyak. Bukan di Pemprov, si pengelolaan lain. Mau uangnya banyak, kalau expertise-nya enggak ada.

Saya contoh nih ya, PVJ lah. PVJ itu butuh waktu dua tahun untuk akhirnya, "Oh, begini caranya nemu formula yang paling pas (olah sampah)". Apakah formula itu bisa langsung diduplikasi di tempat lain? Belum tentu. Oke. Customize di tempat. Customize setiap bulan. Nah, jadi orangnya memang mesti rajin, ngaleukeunan (rajin) gitu.

Susah itu nyari orang seperti itu dari 1597 RW yang ngaleukeunan dan berhasil teh hanya sepertiganya. Yang dua pertiganya ada yang ngaleukeunan gagal atau teu ngaleukeunan sama sekali gitu.

Jadi pada dasarnya pengolahan sampah ini terasa sangat berat karena apa?

Karena tidak ada satu pun metode yang pasti menyelesaikan semua masalah. Eh, maaf, ada. Namanya TPA, karena ini mah metode ini sampah saya, tolong buangin. Udah, selesai.

Jadi solusi yang paling baik adalah adalah pengolahan. Titik, enggak ada cara lain. Harus pengolahan. Kami akan membuka di lahan-lahan, tempat pengolahan. Akan menimbulkan keluhan dari masyarakat, bau dan lain-lain, tapi lebih baik kita selesaikan daripada berserakan di mana-mana.

Kerja sama dengan pihak lain?

Maka membangun fasilitas yang dibangun oleh PLN, Pertamina, dan Danantara serta Kemenristek di Gedebage ini menjadi salah satu yang kita incer betul. Kalau dalam sebulan ini komisioning-nya sudah bagus, kita akan replikasi-replikasi-replikasi.

Kemudian juga dapat bantuan untuk pengolahan di RW 3 Padasuka. Itu bantuan dari provinsi juga. Tapi komisioningnya masih belum konsisten. Paletnya kadang terlalu lembek, kadang terlalu keras, kadang terlalu panjang, kadang terlalu pendek. Itu tuh masih belum selesai.

. Kemudian teknologi yang paling canggih tentunya adalah legok nangka. Itu baru ground breaking sebulan yang lalu. Ya, kita masih belum tahu nih hasilnya akan jadi seperti apa.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More