Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Polemik DTSEN, Farhan Heran Gaji Rp3 Juta Dianggap Super Kaya
Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Sosial (Kemensos) gelar Rapat Koordinasi Nasional DTSEN di Hall Kota Kasablanka, Jakarta, Kamis (13/11/2025). (Dok. Kemensos)
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mempertanyakan DTSEN yang mengategorikan penghasilan di atas Rp3 juta sebagai kelompok sangat mampu, meski UMK Bandung sudah melebihi Rp4 juta.
  • Farhan menilai klasifikasi desil DTSEN berpengaruh pada penyaluran bansos, dana transfer daerah, dan DAK; Pemkot Bandung berencana melakukan verifikasi kondisi warga di lapangan.
  • Pemkot Bandung mengkaji jaring pengaman sosial yang lebih responsif karena warga dapat mendadak miskin akibat kehilangan penghasilan, sementara pembaruan status data sering terlambat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, bingung karena orang bergaji lebih dari Rp3 juta dianggap sangat kaya. Padahal di Bandung, gaji minimum lebih dari Rp4 juta dan hidup mahal. Ia takut bantuan bisa berkurang. Sekarang Pemkot Bandung mau cek data warga supaya orang yang tiba-tiba susah bisa cepat dibantu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Polemik DTSEN mendorong Pemkot Bandung menaruh perhatian lebih besar pada kesesuaian data dengan kehidupan warga sehari-hari. Rencana verifikasi lapangan dan kajian jaring pengaman yang lebih responsif menunjukkan upaya untuk memperbaiki ketepatan sasaran kebijakan, terutama bagi keluarga yang kondisi ekonominya dapat berubah mendadak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mempertanyakan klasifikasi dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang menempatkan masyarakat berpenghasilan di atas Rp3 juta per bulan ke dalam kelompok desil tertinggi atau kategori sangat mampu. Menurutnya, ukuran tersebut terasa janggal jika diterapkan di Kota Bandung yang memiliki Upah Minimum Kota (UMK) di atas Rp4 juta per bulan.

Farhan mengaku terkejut saat mempelajari data terbaru yang menjadi dasar berbagai program sosial pemerintah tersebut. Jika menggunakan parameter yang sama, banyak warga Bandung yang secara administrasi dapat masuk kelompok ekonomi atas, meski dalam kenyataannya masih harus berjuang menghadapi tingginya biaya hidup perkotaan.

Persoalan ini, menurut Farhan, tidak sekadar menyangkut klasifikasi kaya atau miskin. Di balik data DTSEN terdapat implikasi besar terhadap penyaluran bantuan sosial, dana transfer daerah, hingga Dana Alokasi Khusus (DAK) yang diterima pemerintah daerah.

1. Farhan pertanyakan ukuran kesejahteraan dalam DTSEN

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. (IDN Times/Yogi Pasha)

Bagi Farhan, klasifikasi sosial ekonomi harus mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara lebih utuh. Ia menilai penghasilan bulanan tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan tingkat kesejahteraan seseorang, terutama di kota besar dengan biaya hidup yang relatif tinggi seperti Bandung.

"Terus terang saya juga terkejut melihat data tersebut. Karena jika menggunakan ukuran itu, banyak warga Bandung yang masuk kategori super kaya, padahal UMK Kota Bandung sendiri sudah berada di atas Rp4 juta," ujarnya.

Menurut Farhan, warga yang berpenghasilan sedikit di atas Rp3 juta belum tentu memiliki kondisi ekonomi yang mapan. Sebagian masih harus membayar kontrakan, biaya sekolah anak, cicilan kendaraan, hingga kebutuhan pokok yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Karena itu, Pemkot Bandung berencana melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan data yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Langkah tersebut dinilai penting agar kebijakan yang lahir dari data tidak melahirkan ketidaktepatan sasaran.

2. Status desil bisa memengaruhi bansos hingga anggaran daerah

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. (Dok Humas Bandung)

Kekhawatiran Farhan tidak berhenti pada persoalan klasifikasi. Ia menilai perubahan komposisi desil masyarakat berpotensi memengaruhi berbagai program pemerintah yang menggunakan DTSEN sebagai basis pengambilan kebijakan.

Jika semakin banyak warga tercatat berada pada kelompok ekonomi atas, konsekuensinya dapat berpengaruh terhadap penerimaan bantuan sosial maupun sejumlah skema pendanaan yang diterima pemerintah daerah.

"Persoalan ini penting karena berkaitan dengan bantuan sosial, dana transfer daerah, hingga Dana Alokasi Khusus. Jika banyak warga masuk ke desil tinggi, maka konsekuensinya bantuan yang diterima daerah bisa berkurang," katanya.

Karena itu, Pemkot Bandung ingin memastikan bahwa data yang digunakan pemerintah pusat tidak hanya akurat secara statistik, tetapi juga relevan dengan kondisi nyata masyarakat di lapangan. Kesalahan membaca kondisi ekonomi warga, menurut Farhan, dapat berdampak langsung pada efektivitas program perlindungan sosial.

3. Farhan khawatir warga rentan terjebak kemiskinan mendadak

Para pencari kerja memadati Fair Future Connect 2026 yang digelaar Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung. (Dok/Humas Bandung)

Di balik polemik DTSEN, ada satu hal yang lebih mengkhawatirkan bagi Farhan, yakni fenomena yang ia sebut sebagai kemiskinan mendadak. Kondisi ini terjadi ketika seseorang yang sebelumnya dianggap mampu tiba-tiba kehilangan sumber penghasilan akibat musibah, kecelakaan, pemutusan hubungan kerja, atau meninggal dunia sebagai pencari nafkah keluarga.

Farhan mencontohkan seseorang yang memiliki penghasilan Rp4 juta per bulan dan sepeda motor dapat tercatat sebagai kelompok ekonomi atas. Namun dalam hitungan hari, kondisi keluarganya bisa berubah drastis ketika sumber penghasilan utama hilang.

Masalahnya, perubahan kondisi ekonomi warga sering kali berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan proses pembaruan data pemerintah. Akibatnya, masyarakat yang mendadak jatuh miskin berpotensi tidak langsung masuk dalam sistem perlindungan sosial karena status administrasinya masih tercatat sebagai kelompok mampu.

"Yang paling saya khawatirkan adalah kemiskinan mendadak. Ketika seseorang kehilangan pekerjaan atau mengalami musibah, kondisi ekonominya bisa langsung berubah, tetapi status datanya belum tentu ikut berubah," ujar Farhan.

Atas dasar itu, Pemkot Bandung mulai mengkaji mekanisme jaring pengaman sosial yang lebih responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi warga. Sebab menurut Farhan, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menyusun data yang akurat, melainkan memastikan negara dapat hadir dengan cepat ketika masyarakat tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk bertahan hidup.

Bagi Kota Bandung, polemik DTSEN pada akhirnya bukan sekadar soal angka dan klasifikasi. Yang dipertaruhkan adalah ketepatan kebijakan dalam membaca realitas sosial, sekaligus kemampuan pemerintah melindungi warga yang berada satu musibah saja dari jurang kemiskinan.

Editorial Team

Related Article