Bandung, IDN Times – Aktivitas pinjaman daring (pindar) di Jawa Barat terus menunjukkan besarnya potensi pasar layanan keuangan digital. Namun, tingginya akses masyarakat terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai mengenai produk, risiko, dan tanggung jawab penggunaannya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pendanaan pindar di Jawa Barat mencapai Rp30,93 triliun per Agustus 2026. Jumlah tersebut setara dengan 26,5 persen dari total outstanding pendanaan pindar secara nasional.
Di tengah besarnya aktivitas tersebut, tantangan peningkatan literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Jawa Barat mencapai 95,67 persen. Sementara itu, indeks literasinya baru berada di angka 67,14 persen.
Kesenjangan tersebut memperlihatkan bahwa kemudahan mengakses layanan keuangan belum tentu diikuti kemampuan masyarakat dalam memahami manfaat, risiko, dan konsekuensi dari keputusan finansial yang diambil.
Persoalan ini menjadi salah satu perhatian dalam penyelenggaraan Financial Expo (FinExpo) 2026 di Bandung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) tersebut turut dimanfaatkan PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) untuk memperkenalkan edukasi keuangan kepada generasi muda melalui Modul Bijak Keuangan (MOJANG).